Iran Buka Kembali Penerbangan Komersial di Tengah Gencatan Senjata
Penerbangan komersial dari Iran kembali dibuka setelah berhenti selama dua bulan akibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Sejumlah penerbangan menuju Istanbul, Muscat, dan Madinah kembali beroperasi dari Imam Khomeini International Airport pada Sabtu (25/4/2026).
Maskapai nasional Iran Air juga kembali mengoperasikan penerbangan dari Teheran ke Mashhad untuk pertama kalinya setelah berhenti beroprasi selama 56 hari.
Dilansir dari Al Jazeera, Senin (27/4/2026), kantor berita Islamic Republic News Agency menyebutkan dalam beberapa hari ke depan penerbangan tambahan akan dibuka ke sejumlah kota seperti Baku, Najaf, Baghdad, dan Doha.
Baca juga: Liburan ke China, Turis RI Bisa Belanja Pakai QRIS Mulai 30 April
CEO Iran Airports and Air Navigation Company, Mohammad Amirani, mengatakan wilayah timur Iran akan menjadi prioritas untuk penerbangan domestik dan transit.
Kawasan tersebut berbatasan dengan Turkmenistan, Afghanistan, dan Pakistan.
Bandara-bandara di wilayah provinsi seperti Mashhad, Zahedan, Kerman, Yazd, dan Birjand juga disiapkan sebagai titik pengaturan lalu lintas udara.
Otoritas setempat juga sudah mulai berkoordinasi dengan maskapai internasional untuk memastikan kejelasan rute sekaligus memulihkan kembali penerbangan transit di tengah gencatan senjata yang masih berlangsung antara AS dan Israel.
Upaya diskusi lanjutan antara Teheran dan Washington juga terus dilakukan di Pakistan.
Konflik antara AS dan Israel dengan Iran memang berdampak besar pada penerbangan internasional.
Baca juga: Landhuis Tjimanggis, Sejarah Depok yang Nyaris Terkikis
Penutupan wilayah udara di sebagian besar Timur Tengah membuat puluhan ribu penumpang tertahan dan kesulitan kembali ke negara asal.
Sejumlah negara sempat mengoperasikan penerbangan khusus untuk memulangkan warganya, namun upaya tersebut terkendala karena hampir lumpuhnya penerbangan komersial di kawasan tersebut.
Beberapa negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab mulai membuka kembali wilayah udara mereka secara bertahap beberapa hari setelah serangan pada 28 Februari.
Jadwal penerbangan kemudian diperluas dalam beberapa pekan berikutnya.
Di sisi lain, blokade di Selat Hormuz memicu kekhawatiran akan krisis bahan bakar pesawat.
Uni Eropa disebut tengah mempertimbangkan impor bahan bakar jet dari AS, sekaligus menyiapkan kebijakan cadangan minimum untuk mengantisipasi potensi kekurangan pasokan.
Baca juga: Naik DAMRI ke Baduy Cuma Rp 1 Pakai QRIS, Catat Tanggalnya
Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, memperingatkan bahwa Eropa kemungkinan hanya memiliki cadangan bahan bakar pesawat untuk sekitar enam minggu.
Ia juga menyebut pembatalan penerbangan bisa terjadi dalam waktu dekat jika pasokan tidak segera stabil.
Tekanan tersebut turut dirasakan industri penerbangan global.
Lufthansa Group bahkan mengumumkan akan memangkas sekitar 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober, seiring lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan bakar.
Tag: #iran #buka #kembali #penerbangan #komersial #tengah #gencatan #senjata