Tren Photobooth Newspaper di Surabaya, dari Tunjungan untuk Kenangan
- Di tengah hiruk pikuk Jalan Tunjungan Surabaya, Jawa Timur yang tidak pernah benar-benar sepi, ada sudut-sudut kecil yang menghadirkan pengalaman berbeda.
Bukan sekadar tempat berfoto, melainkan ruang untuk menyimpan cerita. Mulai tentang pertemuan, kebersamaan, hingga momen sederhana yang ingin dikenang lebih lama.
Di era serba digital, ketika foto mudah diambil dan cepat terlupakan, photobooth justru menawarkan sesuatu yang lebih nyata.
Baca juga: Moncong Sapi Dijadikan Makanan? Ini Dia Rujak Cingur Khas Surabaya
Ia menjadi tempat orang berhenti sejenak, tertawa, berpose, dan membawa pulang kenangan dalam bentuk yang bisa disentuh.
Satu lembar foto, ternyata masih punya cara sendiri untuk mengabadikan cerita.
Bagi Keiko Mooi Ferdinand pemilik outlet photobooth, Photo Woi di depan salah satu cafe di Tunjungan semua ini berawal dari kebiasaan sederhana.
“Awalnya saya suka foto. Jadi setiap pergi, selalu pulang bawa hasil photobooth,” katanya kepada Kompas.com.
Kegemaran itu perlahan berkembang menjadi ide usaha, apalagi ia tumbuh di lingkungan keluarga yang telah lebih dulu menjalankan bisnis photobooth di berbagai acara.
Dari situ, Keiko mulai merancang konsep yang lebih personal.
Ia memulai dari format setrip foto, sebelum akhirnya menemukan inspirasi baru dari tren luar negeri.
Baca juga: DAMRI Buka Rute Malang–Jakarta dan Surabaya–Jakarta, Tiket Mulai Rp 280.000
“Saya lihat versi newspaper lagi tren di Cina. Awalnya orang tua saya juga bingung, tapi setelah lihat langsung visualnya jadi paham. Intinya sesederhana itu,” ujar pria yang biasa disapa Keiko itu.
Ia melanjutkan, konsepnya adalah photo box dan cetak dalam bentuk koran, karena memang sedang ngetren.
Belajar dari Tren Global, Tetap Dekat dengan Lokal
Ia pun aktif mengikuti perkembangan tren visual melalui Xiaohongshu. Dari sana, ia mendapatkan banyak referensi untuk mengembangkan konsep, mulai dari desain hingga pengalaman pengguna.
Namun, ia tidak menyalin begitu saja. Ada penyesuaian yang dilakukan agar tetap sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia.
“Tetap ada operatornya meskipun di luar negeri saya lihat usaha ini bisa jalan sendiri karena kultur mandiri,” kata Keiko Mooi Ferdinand.
Baca juga: Surabaya ke Probolinggo Kini Bisa Naik Commuter SuPasPro, Tarif Mulai Rp 8.000
Menurut dia, di Indonesia budayanya adalah suka dilayani. Terkadang ada orang yang tidak bisa mengoperasikan.
"Atau biasanya ada orang-orang tua atau bocil-bocil yang photobooth nah makanya kita pakai orang,” sambungnya.
Karena itu, ia tetap menghadirkan operator agar setiap pengunjung merasa lebih nyaman dan tidak kebingungan saat berfoto.
“That's why saya menyesuaikan jadi menggunakan orang biar yang mau foto tidak bingung kalau ada apa-apa oke jadi ya lebih ke servis,” katanya lagi.
Lebih dari sekadar foto
Usaha yang dirintis sejak Desember 2025 ini hadir di tengah tren photobooth yang kembali populer. Namun, ia ingin menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar hasil foto.
Seorang pengunjung Tunjungan melakukan photoboth disalah satu yang banyak di sepanjang ditrotoar kawasan wisata di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (09/04/2026) sore.
Pengunjung bisa berfoto beberapa kali, memilih frame sesuai keinginan, hingga membawa pulang hasil cetak bergaya koran yang unik, lengkap dengan soft file.
“Yang penting bukan cuma hasil fotonya, tapi juga bagaimana mereka menikmati prosesnya,” ucap Keiko.
Dengan harga mulai Rp30.000 per lembar, photobooth ini menjadi ruang yang terbuka bagi siapa saja untuk menciptakan kenangan.
Baca juga: Ke Bromo Kini Bisa Naik DAMRI dari Malang dan Surabaya, Ini Jadwalnya
Mayoritas pengunjungnya datang berpasangan. Ada yang baru selesai ngedate sambil membawa bunga, lalu mengabadikan momen bersama.
Ada pula yang sengaja datang untuk membuat kenangan kecil. “Biasanya couple. Ada juga yang custom border pakai nama mereka,” imbuhnya.
Keramaian biasanya datang di malam hari, akhir pekan, atau setelah momen gajian. Namun, di luar itu, selalu ada cerita yang tercipta dari setiap orang yang datang.
Cerita dari Pengunjung
Di tengah kota yang terus bergerak cepat, ruang kecil seperti ini menghadirkan jeda.
Seorang pengunjung Tunjungan sedang memilih layout cetak foto usai melakukan photoboth disalah satu yang banyak di sepanjang ditrotoar kawasan wisata di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (09/04/2026) sore.
Tempat di mana orang bisa berhenti sejenak, merayakan kebersamaan, dan pulang dengan sesuatu yang lebih dari sekadar foto tapi sebuah cerita yang bisa disimpan lebih lama.
Bagi Andini, seorang mahasiswa di Surabaya, pengalaman ini bukan sekadar foto bersama.
“Seru, karena fotonya di trotoar dengan background langsung Tunjungan. Antri juga jadi sensasinya lebih terasa. Ini pertama kali, kemarin lihat di TikTok, sekarang lagi musim model newspaper jadi pengen punya juga. Tadi ke sini bertiga sama teman, sebelum ngopi kita foto-foto dulu,” ujar mahasiswa berusia 30 tahun itu.
Ia mengaku, setiap bepergian bersama teman, photobooth selalu menjadi agenda kecil yang tidak boleh terlewat.
Baca juga: Surabaya Juga Punya Kota Lama, Serasa Kembali ke Masa Kolonial Belanda
“Setiap pergi bareng, kita selalu menyempatkan photobooth buat kenang-kenangan,” imbuhnya.
Pengalaman serupa datang dari Salwa, warga Kediri, yang datang bersama keluarganya. Menurutnya, konsep photobooth di ruang terbuka memberikan pengalaman berbeda.
“Buat kenang-kenangan sama keluarga, karena tidak sering juga ke Surabaya. Paling setahun dua kali. Jadi tadi sama ibu, bapak, adik, dan kakak foto dulu di sini,” kata perempuan yang bekerja di bidang manufaktur itu.
“Bagus sih, cuma kalau siang panas. Tapi oke lah, enggak pakai antre,” pungkasnya sambil tersenyum.
Tag: #tren #photobooth #newspaper #surabaya #dari #tunjungan #untuk #kenangan