Wisatawan Diminta Bersiap Hadapi Tiket Pesawat Mahal dan Pembatalan Penerbangan
Imbas konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, sebagian besar maskapai penerbangan di dunia mengurangi jumlah penerbangan, hingga menaikkan tarif tiket pesawat.
Dilansir dari BBC, imbas naiknya harga bahan bakar, banyak maskapai penerbangan di seluruh dunia yang mengambil langkah darurat.
Melihat situasi ini, para analis memperingatkan kepada wisatawan yang hendak bepergian naik pesawat, untuk waspada terhadap potensi pembatalan penerbangan, seiring berlanjutnya konflik.
Pasalnya, harga bahan bakar besarnya mencapai 20 hingga 40 persen dari biaya operasional.
Baca juga: Jalur 6-8 Stasiun Bogor Akan Ditutup Sementara, Apa Saja yang Berubah?
Pekan lalu, harga bahan bakar jet Eropa tercatat mencapai 1.838 dolar amerika serikat, atau sekitar Rp 23.581.774 per ton. Angka ini merupakan titik tertinggi sepanjang masa.
Sebelumnya, diketahui harga bahan bakar jet Eropa sebelum terjadinya perang yaitu sebesar 831 dolar amerika serikat, atau sekitar Rp 14.122.301 per ton.
Penerbangan batal, harga tiket naik
Baru-baru ini, Setidaknya dua maskapai yaitu Air India dan Air New Zealand telah mengambil kebijakan tersebut.
Pembatalan penerbangan Air New Zealand diperkirakan akan berdampak pada rute ke dan dari Auckland, Wellington, dan Christchurch.
Sementara itu, tidak ada perubahan untuk penerbangan ke bandara-bandara yang lebih kecil.
Pihak maskapai mengatakan, sebagai besar pelanggan yang terkena dampak pembatalan, ditawari penerbangan alternatif pada hari yang sama.
Baca juga: Harga Tiket Pesawat Garuda Indonesia dan Citilink Bakal Naik, Imbas Avtur Mahal
"Seperti maskapai penerbangan di seluruh dunia, kami mengalami harga bahan bakar jet yang lebih dari dua kali lipat dari harga biasanya," kata seorang juru bicara Air New Zealand, dikutip dari BBC, Rabu (7/4/2026).
Lain halnya dengan Air India, maskapai ini mengatakan akan mengubah biaya tambahan bahan bakar pada penerbangan domestik, dari biaya tetap menjadi biaya yang didasarkan pada jarak penerbangan.
Maskapai ini juga menaikkan biaya tambahan untuk penerbangan internasional.
Diketahui, saat ini banyak maskapai penerbangan di Asia telah mengurangi layanan dan menaikkan tarif untuk mengatasi situasi tersebut.
Negara-negara dengan ekonomi besar, termasuk Jepang dan Korea Selatan, sangat terpengaruh dengan kondisi ini. Sebab, mereka sangat bergantung pada energi dari Timur Tengah.
Maskapai lainnya, seperti China Eastern Airlines berencana menaikkan biaya tambahan untuk penerbangan domestik. Sementara Korean Air mengatakan akan memasuki mode manajemen darurat.
Lalu United Airlines di AS dan SAS di Skandinavia termasuk di antara maskapai yang juga telah mengurangi penerbangan dan menaikkan harga tiket.
Baca juga: Wisata Gunung Bromo Ditutup Sementara untuk Pemulihan Ekosistem, Cek Jadwalnya
Air France-KLM telah menyatakan akan menaikkan tarif untuk penerbangan jarak jauh, sementara Cathay Pacific menaikkan biaya tambahan bahan bakar.
Sementara itu, pemilik British Airways, IAG, dan EasyJet sejauh ini mampu menunda kedua tindakan tersebut karena mereka membeli bahan bakar dengan harga yang ditetapkan sebelum perang dimulai.
Tag: #wisatawan #diminta #bersiap #hadapi #tiket #pesawat #mahal #pembatalan #penerbangan