Fenomena Unik Desa di Gunungkidul, Matahari Terbit Jam 8 Pagi, Tenggelam Jam 3 Sore
Padukuhan Wotawati yang Sedang Dibangun (17/12/2024).(KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA)
08:56
26 Februari 2026

Fenomena Unik Desa di Gunungkidul, Matahari Terbit Jam 8 Pagi, Tenggelam Jam 3 Sore

Ingin berwisata ke tempat asri yang menenangkan? Yuk, coba nikmati wisata Yogyakarta yang menawarkan suasana desa unik. Ada sebuah dusun yang memiliki keunikan dengan pemandangan yang indah. Sebuah desa terpencil yang terletak di kelurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul.

Desa itu bernama Wotawati. Berjarak 74 kilometer dari pusat Yogyakarta, kawasan ini menjadi viral karena keistimewaannya. Dusun Wotawati ini terletak di sebuah lembah yang merupakan jejak dari aliran Sungai Bengawan Solo dengan fenomena matahari terbit yang lebih lambat dari daerah lainnya.

Sinar matahari baru benar-benar terbit dan menyinari dusun sekitar pukul 08.00 WIB dan tenggelam lebih awal yakni pukul 15.00 WIB. Menariknya, desa Wotawati ini juga memiliki gaya kolosal ala kerajaan Majapahit dan Mataram.

Menggabungkan pemandangan landscape tata desa di kawasan lembah yang asri dengan budaya masyarakatnya yang bermata pencaharian petani, membuat desa wisata Wotawati memiliki daya tarik pariwisata tersendiri.

Letak geografis di Dusun WotawatiPadukuhan Wotawati di Dasar Lembah Bengawan Solo Purba.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Padukuhan Wotawati di Dasar Lembah Bengawan Solo Purba.

Memiliki letak geografis yang tidak biasa, desa ini merupakan salah satu desa dari 10 pedukuhan yang ada di Kelurahan Pucung yang lokasinya ada di lembah Bengawan Solo Purba.

Lurah Pucung, Estu Dwiyono menyampaikan mengenai keunikan lokasi desa wisata Wotawati.

"Dari sudut pandang yang lain kami melihat potensi pariwisata yang berbeda dari pada tempat lain. Karena padukuhan ini menjadi satu-satunya padukuhan yang ada di Lembah Bengawan Solo Purba. Secara bentang alam dan geografis ini menarik karena diapit perbukitan sehingga paparan sinar matahari cukup minim, bisa jadi hanya terpapar sinar matahari selama 8 jam setiap harinya," tutur Estu yang dikutip kompas dari Portal Pemerintahan DIY, Rabu (25/2/2026)

Terletak di antara perbukitan karst dan hanya menerima sekitar tujuh jam sehari, Dusun Wotawati memiliki potensi desa wisata yang potensial. Fenomena yang terjadi di Dusun tersebut terjadi akibat posisi dusun yang berada dalam cekungan sempit dan dikelilingi perbukitan kapur.

Baca juga: 7 Festival Cap Go Meh 2026 di Indonesia, Bogor Street Festival hingga Grebeg Sudiro Solo

Rumah unik di desa wisata Wotawati

Di desa ini, pengunjung akan disuguhi nuansa pedesaan ala jaman kerajaan. Rumah-rumah hunian khas kulturasi kerajaan Mataram dan Majapahit menjadi keunggulan dari desa wisata ini. Menggunakan bata merah sebagai material utama, rumah warga Wotawati mempunyai ciri khas Gunungkidul berupa Gapura Lar Badak.

Fasadnya juga disesuaikan dengan pagar terakota dan bata merah. Menariknya, dapur yang ada di rumah warga menghadap ke arah timur.

Selain itu, jalan-jalan yang ada di pemukiman Padukuhan Wotawati ini seperti labirin. Setiap dua hingga empat rumah kanan, kiri, depan, belakang memiliki akses penghubung berupa gang-gang yang ada di pemukiman modern saat ini.

Baca juga: KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Kegiatan wisata di Desa wisata Wotawati

desa wisata wotawati tangkapan layar/@hafizazani_id desa wisata wotawati

Bagi yang tertarik untuk berlibur kesini, ada berbagai kegiatan menarik yang bisa dilakukan. Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani dan peternak menjadi daya tarik wisata edukasi dan budaya sebagai media belajar bercocok tanam, beternak hingga memasak bersama.

Saat berkunjung, kita bisa menikmati sejumlah kuliner khas Gunungkidul yang dijual atau sering ditemui di sekitar jalur menuju dusun. Mulai dari olahan nasi tiwul hingga makanan tradisional gaplek dan getuk.

Apabila ada rencana berlibur dalam beberapa hari, desa wisata Wotawati juga memberikan Anda pengalaman menginap dan makan bersama dengan warga lokal.

Selain itu, wisatawan juga bisa menyusuri jejak Bengawan Solo Purba dengan melihat kampung hingga ke lokasi wisata terdekat seperti Pantai Ngungap atau lembah Ngungap.

Letaknya yang cukup terpencil, membuat suasana desa wisata Wotawati ini cocok sebagai destinasi healing yang tenang dan jauh dari kebisingan.

Keunikan geografis yang dimiliki desa wisata Wotawati ini menjadi peluang wisata yang wajib Anda kunjungi saat berwisata ke Yogyakarta.

Tag:  #fenomena #unik #desa #gunungkidul #matahari #terbit #pagi #tenggelam #sore

KOMENTAR