Vaksin Pertama Rancangan AI Diuji ke Manusia, Diklaim Bisa Lawan Virus yang Belum Muncul
Ilustrasi vaksin buatan AI.(Gambar dibuat dengan AI.)
11:51
10 Juni 2026

Vaksin Pertama Rancangan AI Diuji ke Manusia, Diklaim Bisa Lawan Virus yang Belum Muncul

- Teknologi kecerdasan buatan (AI) ternyata tidak hanya digunakan untuk membuat chatbot atau sekadar menghasilkan gambar saja.

AI juga mulai digunakan untuk merancang vaksin penangkal penyakit, dan rancangannya kini telah mencapai tahap uji coba pada manusia.

Tim peneliti dari University of Cambridge mengumumkan bahwa vaksin pertama di dunia yang bahan aktif utamanya dirancang sepenuhnya menggunakan AI, telah berhasil diuji coba pada manusia.

Penelitian yang dilakukan ini menjadi tonggak penting dalam pemanfaatan AI untuk pengembangan vaksin, dan persiapan menghadapi pandemi di masa depan.

Baca juga: Hacker China Ditangkap, Diduga Curi Rahasia Vaksin Covid-19

Untuk diketahui, vaksin eksperimental tersebut dirancang sebagai vaksin universal, yaitu vaksin yang tidak hanya menargetkan satu virus atau satu varian tertentu, tetapi terhadap satu keluarga virus sekaligus, termasuk virus yang berpotensi bermutasi di masa depan.

Dirancang AI, bukan manusia

Berbeda dari pengembangan vaksin konvensional yang biasanya berfokus pada virus yang sudah dikenal, para peneliti menggunakan AI untuk menganalisis ribuan kode genetik virus, yang dikumpulkan dari berbagai program pemantauan penyakit di seluruh dunia.

Dari analisis tersebut, sistem AI merancang sebuah "super-antigen", yaitu komponen vaksin yang menggabungkan karakteristik penting yang dimiliki oleh seluruh keluarga virus.

Dengan pendekatan ini, vaksin tidak hanya mengenali satu jenis virus, tetapi juga berbagai virus yang memiliki karakteristik serupa, termasuk yang belum muncul pada manusia.

Dilansir Economic Times, para peneliti mengatakan metode ini berpotensi mengubah pendekatan dunia dalam menghadapi wabah penyakit.

Baca juga: 4 Negara Uji Coba Vaksin TBC Bill Gates Selain Indonesia

Jika selama ini vaksin dibuat setelah virus muncul dan menyebar, teknologi baru ini memungkinkan ilmuwan menyiapkan perlindungan bahkan sebelum pandemi terjadi.

Menargetkan keluarga virus Corona

Vaksin yang diuji kali ini berfokus pada kelompok virus sarbecovirus, yaitu keluarga virus corona yang juga menjadi penyebab wabah Covid-19, SARS, serta sejumlah virus corona yang ditemukan pada kelelawar dan berpotensi menular ke manusia.

ilustrasi gejala virus corona atau Covid-19 yang dialami pasien baru di Indonesia.canva.com ilustrasi gejala virus corona atau Covid-19 yang dialami pasien baru di Indonesia.

Dalam uji klinis tahap awal, para peneliti menemukan bahwa vaksin tersebut aman digunakan dan mampu memicu respons imun terhadap beberapa jenis virus corona sekaligus.

Meski respons kekebalan yang dihasilkan masih tergolong moderat, hasilnya dinilai cukup menjanjikan untuk melanjutkan penelitian ke tahap berikutnya.

Penelitian ini juga menjadi pertama kalinya vaksin yang komponen utamanya dirancang sepenuhnya oleh AI diuji pada manusia.

Setelah menyelesaikan uji klinis tahap pertama selesai, tim peneliti berencana melanjutkan penelitian ke fase berikutnya yang akan melibatkan lebih dari 200 peserta.

Tujuannya untuk mengukur efektivitas vaksin dalam menghasilkan perlindungan yang lebih luas dan bertahan lebih lama.

Baca juga: Bapak Internet dan Penemu Vaksin AstraZeneca, Dua Ilmuwan yang Enggan Patenkan Temuannya

Teknologi berbasis AI yang dikembangkan oleh peneliti Cambridge bersama perusahaan bioteknologi, DIOSynVax ini diharapkan dapat mempercepat proses pengembangan vaksin yang selama ini membutuhkan waktu bertahun-tahun dan biaya yang sangat besar.

Untuk diketahui, dalam kondisi normal, pengembangan vaksin baru bisa memakan waktu lebih dari satu dekade alias lebih dari sepuluh tahun, sebelum siap digunakan secara luas.

Bisa cegah Ebola dan Flu Burung

Meski uji coba awal difokuskan pada virus corona, para peneliti menilai teknologi yang sama berpotensi diterapkan pada keluarga virus lain.

Salah satu target yang disebut adalah virus Ebola, flu burung H5N1, hingga patogen lain yang berisiko memicu pandemi di masa depan.

Karena AI mencari karakteristik yang selalu dipertahankan virus untuk bertahan hidup, vaksin yang dihasilkan berpotensi tetap efektif meski virus mengalami mutasi.

Sejumlah ilmuwan menggambarkan pendekatan ini sebagai perubahan besar dalam dunia vaksin.

Jika vaksin saat ini umumnya bersifat reaktif dan dibuat setelah ancaman muncul, vaksin rancangan AI memungkinkan ilmuwan mengambil langkah yang lebih proaktif dengan menyiapkan perlindungan sebelum wabah terjadi.

Tag:  #vaksin #pertama #rancangan #diuji #manusia #diklaim #bisa #lawan #virus #yang #belum #muncul

KOMENTAR