Kesenjangan Digital di Ruang Direktur Perusahaan
Ilustrasi digital disruption. (Media and Digital Transformation).
13:16
4 Februari 2026

Kesenjangan Digital di Ruang Direktur Perusahaan

- iCIO Community mempublikasikan hasil riset berjudul “Balancing Innovation and Control: Inside the Boardroom of Digital Decision-Making”. Studi ini mengulas dinamika pengambilan keputusan strategis terkait investasi digital. Respondennya adalah IT Leaders dan CEO dari 12 sektor industri, mulai Financial Services, Perbankan, Manufaktur, hingga Kesehatan.

Riset tersebut mengungkap bahwa peran CIO dan Technology Leaders masih dominan dalam keputusan investasi dan pengelolaan anggaran IT. Porsi mereka mencapai 41 persen, sedangkan partisipasi CEO dan Dewan Direksi dalam agenda digital menunjukkan tren peningkatan.

Dari sudut pandang CEO, sebanyak 56 persen menyatakan digital sudah menjadi bagian inti strategi bisnis perusahaan. Sebanyak 33 persen masih menempatkan digital sebagai fungsi pendukung yang belum sepenuhnya selaras dengan strategi utama. Sementara 11 persen lainnya menilai keselarasan sudah terbentuk tetapi belum optimal dalam implementasi.

Temuan ini menegaskan bahwa meskipun transformasi digital sudah masuk ke ruang rapat direksi, tantangan utama ada pada penguatan keselarasan lintas kepemimpinan. Strategi digital harus dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan.

Koordinator Divisi Riset iCIO Community David Wirawan memandang kondisi ini mencerminkan fase peralihan di banyak organisasi Indonesia. “Banyak perusahaan sudah menyadari bahwa keputusan digital adalah keputusan bisnis strategis. Namun riset ini menunjukkan bahwa kesenjangan masih terjadi pada level penyelarasan bukan niat, tapi bagaimana CIO dan C-Level menyepakati prioritas, risiko, dan ukuran keberhasilan yang sama,” ujarnya.

Mayoritas CEO mulai melihat belanja IT sebagai pendorong pertumbuhan. Sebanyak 55 persen mengategorikan investasi IT sebagai instrumen strategis untuk dukung ekspansi bisnis. Namun, sebagian pimpinan memperlakukan belanja teknologi sebagai biaya operasional yang harus diawasi ketat.

Di tengah situasi tersebut, CIO dan Technology Leaders berada dalam posisi lebih kompleks. Mereka harus terus mendorong inovasi sekaligus membuktikan kontribusi teknologi pada kinerja bisnis secara terukur. Hal ini terutama penting di tengah ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya tuntutan efisiensi.

Untuk menjaga keberlanjutan dan daya saing, perusahaan melanjutkan investasi digital dengan pendekatan lebih terfokus. Sebanyak 63 persen organisasi melaporkan pertumbuhan anggaran digital yang selektif. Prioritasnya pada teknologi seperti AI, cloud, dan keamanan siber.

AI dan GenAI, platform digital untuk pengalaman pelanggan, analitik data real-time, serta arsitektur cloud-native dinilai sebagai area investasi paling potensial hingga 2026. Edwin Sugianto, Koordinator Divisi Riset iCIO Community bersama David Wirawan, menilai tren ini mencerminkan pergeseran cara organisasi memaknai inovasi digital.

“Inovasi tetap berjalan, tapi tidak lagi bersifat eksperimental. Perusahaan kini lebih disiplin dan memastikan setiap investasi teknologi benar-benar terhubung dengan kebutuhan bisnis, untuk efisiensi, pertumbuhan, dan ketahanan jangka panjang,” jelasnya.

Namun, pengukuran keberhasilan transformasi digital masih cenderung fokus pada indikator finansial. Riset mencatat 53 persen organisasi masih andalkan Return on Investment (ROI) sebagai tolok ukur utama. Sebanyak 33 persen mengombinasikan dengan Return on Value (RoV), termasuk aspek pengalaman pelanggan dan kesiapan organisasi.

Sisanya telah menjadikan RoV sebagai indikator utama. Perbedaan sudut pandang pimpinan dan tekanan hasil jangka pendek jadi hambatan memperluas pendekatan pengukuran nilai non-finansial.

Memasuki 2026, sebagian besar organisasi menilai dirinya cukup adaptif. Namun respons terhadap perubahan ekonomi, regulasi, dan kompetisi masih reaktif.

Riset ini menyimpulkan tantangan terbesar perusahaan Indonesia bukan kemauan bertransformasi, tapi menjaga keselarasan strategi bisnis dan teknologi secara konsisten di tingkat direksi.

Untuk bergerak dari bertahan ke memenangkan disrupsi, perusahaan perlu membangun kepemimpinan kolektif. Akuntabilitas harus diperkuat dan kejelasan nilai dijaga di setiap keputusan digital yang diambil.

Editor: Ilham Safutra

Tag:  #kesenjangan #digital #ruang #direktur #perusahaan

KOMENTAR