Drone Emprit soal Merebaknya Isu Pocong: Medsos Jadi Amplifier Paranoia
ilustrasi hantu mistis(NitaYuko)
14:02
4 Juni 2026

Drone Emprit soal Merebaknya Isu Pocong: Medsos Jadi Amplifier Paranoia

- Di balik cepatnya penyebaran video dan foto teror pocong di berbagai daerah, media sosial dinilai memainkan peran besar sebagai penguat (amplifier) bagi konten-konten yang bersifat sensasional dan membangkitkan rasa takut alias paranoia.

Lead Analyst Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid, mengatakan algoritma berbagai platform media sosial memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Karena itu, konten yang memancing keterlibatan tinggi akan lebih mudah dipromosikan oleh sistem.

“Algoritma sosmed memiliki peran yang sangat masif dan merupakan amplifier kuat untuk peredaran konten-konten sensasional dan menakutkan,” kata Rizal kepada Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Serempaknya Isu Pocong di Banyak Daerah, Cari Sensasi Belaka?

Menurut dia, algoritma Instagram, TikTok, Facebook, dan platform lain bekerja dengan cara mempromosikan konten yang menghasilkan tingkat interaksi tinggi.

“Algoritma dirancang untuk membuat user betah berlama-lama di sosmed. Caranya ialah dengan mempromosikan konten yang menghasilkan engagement tinggi,” ujarnya.

Rizal menjelaskan, konten yang membangkitkan emosi kuat seperti rasa takut, marah, maupun jijik secara psikologis lebih mudah memancing respons spontan dari pengguna. Bahkan ketika pengguna membagikan sebuah unggahan kepada orang lain dengan maksud memberikan peringatan, algoritma platform justru membaca aktivitas tersebut sebagai sinyal bahwa konten tersebut menarik perhatian banyak orang.

“Ketika pengguna nge-share suatu konten ke orang lain untuk memberi peringatan, algoritma langsung membacanya sebagai sinyal positif bahwa konten tersebut sangat diminati,” ujarnya.

Baca juga: Teror Pocong Merebak di Sejumlah Daerah, dari Konten Iseng hingga Rekayasa AI

Akibatnya, konten tersebut semakin didorong oleh sistem ke beranda maupun fitur For Your Page (FYP), termasuk kepada pengguna yang tidak mengikuti akun pengunggah maupun tidak tinggal di wilayah tempat konten itu pertama kali muncul.

“Karena interaksinya tinggi, algoritma sosmed akan mendorong konten tersebut ke feed atau FYP user yang bahkan tidak mengikuti akun pengunggah aslinya atau tidak tinggal di daerah sekitar pengunggah asli,” kata Rizal.

Ada bahaya yang mengkhawatirkan

Rizal juga menilai maraknya kepanikan akibat konten pocong yang ternyata merupakan rekayasa maupun konten settingan menunjukkan masih rendahnya tingkat literasi digital masyarakat.

“Ini adalah indikasi rendahnya literasi digital. Kita sering melihat baik konten settingan maupun AI segera memicu kepanikan. Ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang masih rentan menelan informasi tanpa verifikasi,” ujarnya.

Menurut Rizal, persoalan tersebut tidak bisa dipandang sepele karena ketakutan yang dibangun di ruang digital dapat berdampak langsung pada kehidupan nyata.

“Saya percaya ada potensi membahayakan. Kekhawatiran yang dikonstruksi di dunia digital ini membahayakan karena memicu dampak negatif di dunia nyata,” kata dia.

Baca juga: Beredar Dugaan Teror Pocong di Surabaya, Polisi Duga Orang Iseng demi Konten

Ia mencontohkan, narasi teror pocong telah berhasil memanipulasi rasa takut masyarakat. Bahkan, muncul laporan dari warganet mengenai dugaan pocong yang mengetuk rumah warga pada malam hari sambil membawa senjata tajam.

“Konten pocong ini berhasil memanipulasi rasa takut warga. Bahkan banyak netizen yang melaporkan kalau pocong mengetuk rumah warga pada larut malam sambil membawa senjata tajam. Teror ini menimbulkan kepanikan dan keresahan,” ujarnya.

Selain memicu keresahan, fenomena tersebut juga memaksa aparat penegak hukum (APH) turun langsung melakukan penyelidikan hingga pembinaan terhadap para pembuat konten.

“Teror pocong juga memaksa APH menyelidiki ancaman secara langsung di dunia nyata, hingga melakukan pembinaan. Teror ini jelas mengganggu ketertiban dan menyedot sumber daya aparat,” kata Rizal.

Dia berpandangan, penyebaran konten yang menimbulkan kepanikan semacam itu juga berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum. Hal tersebut, kata dia, sejalan dengan peringatan yang sebelumnya telah disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim).

“Teror juga berisiko pidana, sebagaimana disampaikan MUI Jatim,” ujarnya.

Belakangan, kemunculan sosok pocong yang dikaitkan dengan aksi teror belakangan menghebohkan sejumlah daerah di Indonesia.

Mulai dari Surabaya, Palembang, Kutai Barat, hingga Bangkalan, berbagai foto dan video yang beredar di media sosial memicu ketakutan sekaligus spekulasi di tengah masyarakat.

Namun, hasil penelusuran aparat kepolisian menunjukkan bahwa sebagian besar fenomena tersebut tidak pernah benar-benar terjadi.

Ada yang hanya dibuat demi konten media sosial, ada pula yang ternyata merupakan hasil rekayasa menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Konten pocong bersenjata di Surabaya

Kabar kemunculan pocong bersenjata beredar di kawasan Penjara Kalisosok, Kecamatan Bubutan, Surabaya.

Dalam foto yang tersebar, tampak sosok menyerupai pocong berbalut kain putih berdiri di tikungan jalan sambil membawa benda yang menyerupai senjata tajam.

Kapolsek Bubutan Kompol Sandi Putra mengatakan pihaknya telah melakukan patroli untuk memastikan informasi tersebut.

“Ternyata pocong bersenjata seperti yang beredar itu tidak ada. Indikasinya orang iseng untuk konten (media sosial) saja,” kata Sandi ketika dikonfirmasi, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Akal-akalan Pemuda Bangkalan, Video Pocong Bercelurit Direkam dari CCTV Rumah Pelaku

Rekayasa AI di Palembang

Fenomena serupa juga terjadi di Kecamatan Gandus, Palembang, Sumatera Selatan.

Foto penampakan pocong di samping sebuah rumah yang diunggah akun Instagram @palembang.eksis sempat memunculkan berbagai spekulasi.

Bahkan, muncul dugaan bahwa sosok tersebut merupakan pelaku kejahatan yang menyamar sebagai pocong untuk melakukan aksi perampokan.

Kapolsek Gandus AKP I Made Budi Harta mengatakan polisi kemudian mengamankan seorang pemuda bernama Febrianto alias Ebi (23) yang diduga menyebarkan foto tersebut.

“Setelah dilakukan pemeriksaan dan klarifikasi, yang bersangkutan mengakui bahwa foto pocong yang beredar di media sosial merupakan hasil editan menggunakan teknologi AI,” kata Made, Senin (1/6/2026).

Menurut Made, foto tersebut sempat membuat masyarakat resah.

Melalui video klarifikasi yang diunggah akun Instagram @palembang.update, Ebi juga meminta maaf.

“Terkait viralnya foto yang viral di media sosial di Gandus itu, itu fix editan dari AI. Saya pribadi meminta maaf atas keresahan masyarakat. Sekali lagi itu kesalahan dari saya pribadi. Itu tidak sengaja. Sekali lagi saya minta maaf,” ujar Ebi.

Isu “pocong begal” di Kutai Barat

Kabar mengenai “pocong begal” juga beredar di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Informasi yang menyebar sejak Selasa (2/6/2026) dini hari itu menyebut adanya pelaku begal yang menyamar sebagai pocong untuk mengelabui pengendara di kawasan Kampung Ngenyan Asa, Kecamatan Melak.

Kasi Humas Polres Kutai Barat IPTU Sukoco mengatakan informasi tersebut pertama kali diterima melalui layanan 110 dari seorang warga.

Namun, setelah dilakukan penelusuran, polisi tidak menemukan fakta yang mendukung isu tersebut.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Kutai Barat agar tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya. Jangan langsung membagikan (share) informasi yang belum terverifikasi karena dampak digitalnya dapat memicu kepanikan massal di tengah masyarakat,” ujar IPTU Sukoco, Rabu (3/6/2026).

Prank pocong bercelurit di Bangkalan

Di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, polisi membina tujuh pemuda yang membuat video prank pocong membawa celurit.

Menurut Kasi Humas Polres Bangkalan Ipda Agung Intama, ide tersebut muncul ketika para pelaku sedang berkumpul.

“Ide prank itu pertama muncul dari ZH yang saat itu sedang nongkrong bersama teman-temannya,” kata Agung, Senin (1/6/2026).

Mereka sengaja memilih rumah orangtua salah satu pelaku yang sedang berada di Malaysia karena dilengkapi kamera CCTV sehingga rekaman terlihat lebih alami.

“Lalu setelah video itu dibuat, KN meminta rekaman video CCTV itu ke orangtuanya,” ujar Agung.

Video tersebut awalnya disebarkan ke grup percakapan desa sebelum akhirnya meluas ke berbagai platform media sosial dan menimbulkan keresahan masyarakat.

Polisi kemudian mengumpulkan ketujuh pemuda itu di Balai Desa Mrandung untuk dimintai klarifikasi dan diberikan pembinaan.

“Tadi siang dikumpulkan kembali di Balai Desa Mrandung untuk dilakukan klarifikasi dan pembinaan oleh Polsek Klampis. Barang bukti berupa kain putih dan celurit telah kami amankan di Polsek Klampis,” tuturnya.

Salah satu pelaku, SF, juga meminta maaf kepada masyarakat.

“Saya mohon maaf kepada warga sekitar terutama kepada Kepala Desa Mrandung serta masyarakat Kabupaten Bangkalan. Video itu kami buat hanya untuk konten dan tidak pernah ada teror pocong di sini,” ujarnya.

Tag:  #drone #emprit #soal #merebaknya #pocong #medsos #jadi #amplifier #paranoia

KOMENTAR