Waktu: Oposisi Kekuasaan yang Sebenarnya
KEKUASAAN hidup dalam durasi waktu, bukan dalam keabadian. Sejak seseorang dilantik untuk berkuasa (dalam jabatan apapun), jam mundur sudah dimulai.
Masa jabatan bukan ruang ekspansi tanpa batas, melainkan lorong waktu yang terus menyempit. Karena waktu tidak bisa dihentikan, maka setiap kekuasaan sedang menuju akhir sejak ia dimulai.
Waktu adalah oposisi paling konsisten terhadap kekuasaan. Jika oposisi politik bisa dilemahkan, waktu tidak bisa dibendung dan dinegosiasikan.
Ia bekerja secara perlahan, tetapi pasti. Rezim sekokoh apapun dan di mana pun, dalam logika waktu, sedang bergerak menuju titik akhir.
Kata Hannah Arendt, kekuasaan bukan sebagai dominasi semata, tetapi lorong waktu yang terus berputar menuju ujung.
Kekuasaan yang hanya menghabiskan waktu, kata Arendt, akan hilang bersama waktu itu sendiri. Sebaliknya, kekuasaan yang mengisi waktu dengan karya yang bernilai bisa melampaui dirinya.
Ilusi terbesar kekuasaan adalah merasa bahwa waktu berkuasa masih lama. Padahal, dalam praktik, fase efektif kekuasaan itu sangat pendek.
Baca juga: Ojo Dumeh Berkuasa
Ada fase adaptasi di awal. Ada fase stabilisasi di tengah-tengah. Dan fase pelemahan di akhir. Yang benar-benar produktif, biasanya, sering hanya sepertiga masa jabatan.
Mikir kuasa
Sejak detik pertama pelantikan selesai, pejabat berkuasa langsung dibayangi oleh dorongan untuk mempertahankan kekuasaan. Itu alami, lumrah, dan wajar. Malah, yang tidak wajar adalah kekuasaan yang tidak berusaha mempertahankan dirinya.
Hasrat mempertahankan kekuasaan bukan anomali, melainkan bagian inheren dari logika kekuasaan itu sendiri.
Hampir semua teori besar tentang kekuasaan—dari klasik hingga modern—mengakui dorongan ini sebagai sesuatu yang natural, meski tetap harus dibatasi.
Kekuasaan selalu ingin mereproduksi dirinya, kata Michel Foucault. Karena kekuasaan hari ini tidak menjamin keamanan besok, kata Thomas Hobbes, maka kekuasaan menuntut diperpanjang.
Dalam kajian ilmu politik dikenal konsep permanent campaign, kondisi ketika aktor politik tidak pernah berhenti berkampanye, bahkan ketika ia sudah berkuasa. Logika elektoral “menjajah” seluruh periode kekuasaannya.
Buntut dari semua itu, tidak aneh ketika setiap kebijakan menjadi alat, bukan tujuan. Keputusan publik tidak semata-mata dinilai dari kemanfaatannya, tetapi dari efek elektoralnya. Program pembangunan dipilih karena paling terlihat dan terjual.
Sejak pertama kali dilantik, sebenarnya seorang penguasa sudah dihinggapi politik kecemasan (politics of anxiety), yaitu rasa takut kehilangan kekuasaan.
Perasaan ini melahirkan konsolidasi berlebihan, loyalitas semu, dan kecenderungan tidak mau mendengar kabar yang tidak menyenangkan.
Baca juga: Menjelaskan Pernyataan Jusuf Kalla, Meluruskan Peristiwa
Celakanya, arena kekuasaan bukan kursi kosong. Selalu ada yang mendekat, menunggu, bahkan mengintai dari belakang.
Ketika satu aktor sedang duduk di kursi, aktor lain sudah bersiap menunggu di belakang panggung. Bahkan, sering kali mereka tidak sekadar menunggu, tetapi secara aktif menciptakan kondisi agar kursi itu lebih cepat kosong.
Kekuasaan hidup dalam tekanan dua arah. Dari dalam ada rasa ketakutan kehilangan. Dari luar ada dorongan perebutan.
Secara real, penguasa tidak pernah benar-benar berada dalam posisi aman. Di “luar sana” ada pihak yang sedang antrE. Mereka bukan sekadar penonton, melainkan kompetitor aktif yang membangun narasi tandingan, mengakumulasi dukungan, dan menunggu momentum.
Kekuasaan berubah menjadi ruang yang selalu diperebutkan. Kekuasaan tidak pernah benar-benar dimiliki. Ia hanya dipinjam di bawah tekanan waktu, di tengah antrean mereka yang siap mengambil alih.
Yang berkuasa merasa dikejar oleh waktu, sementara yang menunggu merasa dipanggil oleh waktu.
Parahnya lagi, kekuasaan tidak hanya diperebutkan lewat program masa depan, tetapi juga melalui romantisasi masa lalu (politics of nostalgia).
Kekuasaan bukan hanya dikejar oleh yang belum pernah merasakannya, tetapi juga dipanggil kembali oleh mereka yang pernah menikmatinya.
Para mantan elite membawa modal yang tidak dimiliki pemain baru, yaitu memori publik. Dan memori masa lalu cenderung dipoles menjadi lebih indah dari kenyataan. Yang diingat publik itu adalah stabilitasnya, keberhasilannya, dan simbol-simbol kejayaannya.
Sementara itu, yang sering terlupakan krisisnya, kegagalannya, dan biaya sosialnya. Masa lalu bisa dikurasi, disederhanakan, bahkan dimanipulasi.
Baca juga: Dari Kebebasan Berpendapat hingga Makar
Para “mantan terindah” bermain di ruang emosional, bukan sekadar rasional. Kalau elite baru menjual harapan, mantan elite menjual kerinduan. Dan kerinduan sering lebih kuat daripada harapan, karena ia terasa “pernah nyata dan membekas”.
Lahirlah ilusi publik bahwa “si dia” pernah berhasil, pasti bisa lagi. Padahal, konteks sudah berubah. Struktur sosial berubah. Ekonomi berubah. Geopolitik berubah. Sekarang ada “Iran”, dulu tidak ada. Namun, memori publik sering tidak ikut berubah secepat realitas.
Kekuasaan adalah relasi yang tidak pernah stabil. Ia selalu berada dalam tarik-menarik antara kepemilikan, keinginan, dan kenangan. Bagaikan seorang gadis yang diperebutkan. Yang sedang memilikinya takut kehilangan, yang belum mendapatkannya penuh ambisi, dan yang pernah “bersamanya” sibuk mengenang.
Alhasil, kekuasaan boleh cemas kehilangan. Boleh cerdik mempertahankan. Bahkan, boleh keras mengamankan. Namun, di atas semua itu, waktu tetap berputar tanpa kompromi. Dan waktu adalah oposisi yang sebenarnya.