Mudik: Kembali kepada Keautentikan
Pemudik beristirahat di bahu jalan Gerbang Tol Cikampek Utama, Jawa Barat, Rabu (18/3/2026). Sejumlah pemudik sahur dan istirahat di bahu jalan tol karena tidak memungkinkan menuju rest area terdekat karena imbas kepadatan lalu lintas pada H-3 Lebaran Idul Fitri 2026. (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansya)
06:18
20 Maret 2026

Mudik: Kembali kepada Keautentikan

SAMA dengan warga masyarakat pada umumnya, saya juga mudik. Bahkan, beberapa hari menjelang akhir puasa, pikiran dan hati saya seperti sudah di kampung halaman.

Mudik sudah menjadi tradisi khas di Indonesia. Dijalani seluruh segmen sosial. Mulai dari pegawai, pedagang, buruh, majikan dan segmen sosial lain.

Baik muslim santri maupun abangan, bahkan non-Muslim. Seolah-olah tak tergantikan oleh media apapun, meski biayanya tak murah.

Entah sejak kapan mentradisi. Saya menduga sejalan dengan perubahan sosial besar-besaran pada abad ke-20, ketika sistem kapitalisme berangsur-angsur menggantikan sistem pertanian tradisional (subsisten).

Geertz menyebut perubahan itu “involusi pertanian”. Sektor pertanian modern gagal menyerap ledakan angkatan kerja di pedesaan pada satu sisi, sementara itu terjadi penyempitan lahan pertanian tradisional pada sisi lain.

Perubahan sosial besar-besaran itu berlanjut pada zaman kemerdekaan. Kota-kota metropolis muncul sebagai pusat modernisasi (industrialisasi). Juga kota-kota satelitnya.

Pada sisi lain, program Revolusi Hijau yang digalakkan pemerintahan Orde Baru justru menyingkirkan petani dari lahan mereka. Tak ada pilihan lain kecuali migrasi. Kota lalu menjadi kantong ekonomi baru, baik di sektor formal maupun informal.

Sejak itulah, setiap menjelang Idul Fitri, orang-orang pulang kampung (mudik). Idul Fitri secara nyata mempertemukan antara dimensi spiritualitas (keagamaan), kultural, dan sosial-ekonomi.

Jadilah mudik sebagai tradisi khas Indonesia yang dampak sosial-ekonominya sangat besar. Pun dampak kulturalnya.

Baca juga: Lebaranomics: Transformasi Mudik Jadi Stimulus Ekonomi Daerah

Seorang filsuf dan psikolog terkemuka asal Amerika Serikat, William James, percaya bahwa makna hidup dapat disederhanakan menjadi satu kata: kebahagiaan.

Kebahagiaan dianggap motivasi utama yang mendorong manusia untuk bertindak dan bertahan hidup.

Bermacam cara orang atau komunitas memandang kebahagiaan. Pun cara memperoleh, mempertahankan, dan memulihkannya tatkala kebahagiaan menjauhinya.

Mudik tampaknya menjadi sarana yang mewadahi dimensi-dimensi kebahagiaan bagi orang Indonesia pada umumnya. Namun, bisa jadi, tak sedikit orang menemukan kebahagiaan itu hanya dari mudik.

Bagi sebagian orang, mudiklah satu-satunya cara mendapatkan kebahagiaan. Di luar itu realitas sosial begitu kejam. Realitas menjauhkan dirinya dari kebahagiaan.

Sementara itu, hari esok susah pula diimajinasikan. Karena itu, bagi sebagian orang, kebahagiaan dicarinya dengan berpaling ke belakang: pulang ke akar masa lalu di kampung halaman.

Asep Kumala Seta (31), penjual cilok di Bandung, mewakili golongan itu. Ia nekat pulang ke kampung halaman di Sindangkasih, Kabupaten Ciamis (sekitar 120 km), bukan dengan bus antarkota yang nyaman, melainkan dengan kekuatan kakinya sendiri.

Langkah Asep untuk sampai kampung halaman tak surut oleh terik matahari dan debu jalanan. Sesekali beruntung, ada truk yang bersedia ditumpangi (Kompas.com, 18/03/2026).

Boleh jadi, karena itu pula Indonesia dinobatkan Global Flourishing Study (GFS), survei internasional kolaborasi antara Harvard University, Baylor University, dan lembaga riset Gallup, sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia.

Bagi orang Indonesia, rupanya kebahagiaan tak berbanding lurus dengan kesejahteraan.

Bukan sekadar masa lalu

Kendaraan pribadi (kiri) menggunakan jalur rekayasa lalu lintas lawan arah atau contraflow untuk menghindari kemacetan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 47 di Karawang, Jawa Barat, Kamis (19/3/2026). Pada H-2 Lebaran lalu lintas Tol Jakarta-Cikampek masih dipadati kendaraan pemudik menuju Gerbang Tol Cikampek Utama. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah Kendaraan pribadi (kiri) menggunakan jalur rekayasa lalu lintas lawan arah atau contraflow untuk menghindari kemacetan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 47 di Karawang, Jawa Barat, Kamis (19/3/2026). Pada H-2 Lebaran lalu lintas Tol Jakarta-Cikampek masih dipadati kendaraan pemudik menuju Gerbang Tol Cikampek Utama. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.Bagi banyak orang, kampung halaman bukan sekadar masa lalu. Kampung halaman mengikat “lahir-batin” seseorang.

Tak jarang seseorang diidentifikasi berdasarkan kampung halamannya. Tutur kata, cara pandang, kesukaan, bahkan seleranya dalam banyak hal dilihat dari kampung halaman. Maklum, kampung halaman membentuk identitas awal (asal) yang tak mudah luntur.

Dari perspektif bahasa, kampung halaman bagaikan “bahasa ibu”. Ia cenderung memengaruhi bahasa kedua, baik rasa bahasa maupun kode lingualnya.

Baca juga: Mudik Tanpa Data Presisi, Infrastruktur yang Dipertaruhkan

Mobilitas sosial tidak sertamerta menghilangkan identitas “lahir-batin” bentukan kampung halaman. Di daerah baru, mereka menganggap (dianggap) “pendatang”, kendati waktu hidup di daerah baru itu lebih lama daripada di kampung halaman. Dunia yang dihayati tetaplah kampung halaman, yang jauh dari keseharian.

Dengan demikian, mudik mendekatkan kembali antara “dunia keseharian” dan “dunia yang dihayati”. Boleh jadi, begitu banyak kesenjangan antara “dunia keseharian” dan “dunia yang dihayati”.

Keluarga pemudik akan berkumpul di rumah orangtua, atau yang dituakan. Posisi orangtua atau yang dituakan di kampung halaman sangat penting untuk menyatukan anggota keluarga yang terpencar di berbagai daerah.

Di Jawa dikenal dengan istilah “ngumpulne balung pisah” (mengumpulkan tulang yang berserakan).

Peristiwa tersebut mengingatkan saya pada konsep “somah”, sistem pertalian kekeluargaan Jawa. Juga ungkapan Jawa: “mangan ora mangan yen ngumpul” (makan atau tidak, asal berkumpul).

Meski setiap anggota keluarga sesungguhnya merupakan pribadi mandiri, ungkapan tersebut menguatkan arti penting kampung halaman, khususnya bagi orang Jawa.

Perubahan sosial memaksa mereka meninggalkan kesatuan dasar keluarga, yang disebut “somah”. Hubungan dan kesatuan keluarga terputus (sementara) oleh jarak geografis dan sosial. Kelak dipulihkan kembali dengan cara mudik saat Idul Fitri.

Di kampung halaman, mereka kembali merasakan keautentikan kampung. Mereka menikmati alam dan lingkungan yang berbeda dengan kota, makanan khas kampung, suasana dan cara bergaul khas orang kampung yang ramah, bersahaja, egaliter dan menyatu bersama warga yang lain.

Meski sebagian tinggal cerita, kenangan masa lalu, keautentikan itu layak diziarahi. Mengikuti Radcliffe-Brown, menemukan kembali keautentikan di kampung halaman memenuhi fungsi integrasi sosial.

Dipandu kapitalisme

Menemukan kembali keautentikan pada hari-hari ini justru penting dan bermakna tatkala budaya konsumsi dan ekosistem lainnya dipandu oleh kapitalisme (pasar). Dan, tradisi mudik pun telah dicumbui kepentingan kapital.

Hiruk-pikuk mudik sebagian justru akibat tendensi pelipatgandaan kapital. Tendensi ini pula yang mencumbui kegiatan ritual sepanjang bulan Ramadhan.

Baca juga: Mudik Performatif, Mudik Kamuflase, dan Ancaman Mudik Ekstraktif

Pasar justru bergairah di bulan Ramadhan. Konsumen meningkat tajam, baik konsumen di pasar tradisional, pasar modern, bahkan “pasar kaget”.

Barang dagangan bertambah, melimpah ruah. Mulai dari kebutuhan pokok, kebutuhan beribadah, hingga barang mewah. Sebagian terkait dengan citra sosial.

Lihatlah, penjualan mobil cenderung meningkat menjelang Idul Fitri, baik mobil baru maupun bekas. Durasi belanja di pasar pun bertambah. Obral diskon, promo dan iming-iming lain, yang serba menggiurkan konsumen.

Kita pun makin sulit membedakan mana “kebutuhan” dan mana “keinginan”. Di sepanjang Ramadhan, yang profan menghimpit yang sakral. Terjadi profanisasi yang mendalam.

Tatkala yang profan terang-terangan dan terus-menerus menghimpit yang sakral, saya kira, hal itu tanda bahwa dunia sehari-hari kita makin melumerkan batas antara yang sakral dan yang profan, yang halal dan yang haram.

Nilai-nilai substantif dan moralitas tak lagi dipandang penting manakala tak memberikan keuntungan ekonomis.

Di pelukan budaya konsumsi dan ekosistem semacam itu kembali kepada keautentikan di kampung halaman menjadi bermakna. Kampung halaman berfungsi semacam “ruang liminal” dalam perspektif Van Gennep.

Kenyataan hidup sehari-hari yang penuh kompetisi saling mengalahkan, yang tak jarang dilakukan secara tidak adil, sewenang-wenang, diskriminatif, penuh kelicikan dan keculasan, dibawa ke “ruang liminal” untuk direfleksikan. Di kampung halaman, seseorang diingatkan asal-usulnya.

Siapa tahu, meski sejenak, di kampung halaman itu kita menemukan kembali keautentikan sebagai warga kampung yang ramah, bersahaja, egaliter, dan bersolidaritas sosial kuat.

Saat kembali pada kehidupan sehari-hari kita tumbuh sebagai pribadi yang lebih jernih, terbuka, bersahaja, dan peka pada nasib sesama (keadilan sosial).

Dan, di saat dunia tidak sedang baik-baik saja, keautentikan semacam itu sangat dibutuhkan, terutama oleh para pemimpin negeri yang bertanggung jawab melindungi dan menyejahterakan rakyat.

Tag:  #mudik #kembali #kepada #keautentikan

KOMENTAR