



Meningkatnya Minat Menonton True Crime Ternyata Ada Sisi Buruknya untuk Kita dan Korban Kejahatan, Ini Penjelasan Ahli
–True crime atau kisah kejahatan nyata adalah salah satu genre acara televisi atau dokumenter yang banyak disukai. Berbeda dengan film horor yang biasanya menceritakan kisah fiksi dan fantasi, true crime menceritakan kisah kejahatan nyata yang telah terjadi entah itu telah dipecahkan atau belum.
Biasanya menceritakan kasus-kasus pembunuhan berantai, sekte sesat, mafia atau geng, dan lain-lain. Dilansir dari laman University Communications Chapel Hill, kisah-kisah ini menarik banyak perhatian melalui media-media sosial di internet. Seperti di YouTube, banyak channel yang membahas kasus-kasus nyata.
Ketertarikan itu berasal dari keingintahuan tentang motivasi atau alasan para penjahat tersebut melakukan hal-hal bejat tersebut, mengenai hukum dan sistem peradilan yang ada, hingga proses penyelidikan dan pencarian pelaku yang dilakukan. Dilansir dari Cold Case Inc, pikiran dari orang-orang peminat termasuk topik yang sangat menarik bagi para psikolog.
Dokumenter itu sering membahas secara mendalam sisi gelap manusia, dan membongkar motivasi dan aksi kejahatan, lebih seringnya pembunuh berantai. Minat ini dapat dilacak hingga ratusan tahun yang lalu, dimulai dari kasus terkenal dari Inggris, Jack the Ripper.
Salah satu teori mengapa kita menyukai tontonan ini dikarenakan keingintahuan untuk mengerti para penjahat ini. Akan tetapi keingintahuan ini juga didorong keinginan untuk mempersiapkan diri terhadap keadaan-keadaan terburuk.
Dengan mengetahui kasus-kasus itu, seakan-akan dapat mengenali tanda-tanda ancaman yang akan datang sehingga kita dapat menghindarinya. Walaupun documenter itu sudah ada sejak berdekade-dekade yang lalu, popularitas mereka baru saja melejit akhir-akhir ini. Hal ini karena teknologi yang semakin canggih sehingga konten-konten seperti true crime makin mudah untuk dibuat, dicari, dan disebarkan.
Para ahli telah lama memperdebatkan efek-efek dari tontonan semacam ini bagi kesehatan mental. Untuk beberapa orang, acara-acara televisi seperti ini dapat menjadi pengalaman yang sangat tidak mengenakan, karena mereka harus melihat kejahatan terburuk dan hal tersebut membuat mereka ketakutan.
Terdapat orang-orang yang merasa paparan konten-konten yang kasar dan mengganggu seperti ini dapat memicu kecemasan, depresi, hingga gejala-gejala gangguan stres pasca trauma (PTSD). Sehingga disarankan agar kita hanya menonton acara-acara seperti ini tidak terlalu sering dan hanya untuk memenuhi rasa keingintahuan saja.
Acara-acara ini terkadang juga dapat menjadi sesuatu yang kontroversial. Ini dikarenakan oleh beberapa hal. Pertama, beberapa kritikus mengatakan bahwa dokumenter-dokumenter ini mengeksploitasi kesengsaraan para korban dan keluarganya untuk hiburan. Kedua, terdapat kekhawatiran bahwa kejahatan-kejahatan ini dapat menginspirasi peniru-peniru kejahatan, terutama pembunuhan berantai, atau dapat memicu minat terhadap sikap atau perlakuan kasar.
Terakhir, ketepatan dan objektivitas dari beberapa dokumenter-dokumenter ini tidak dibawah pengawasan yang baik. Sehingga banyak menghasilkan narasi yang bias dan terlalu disensasionalkan. Karena itu, etika moral dari menonton acara-acara ini sendiri telah menjadi subjek perdebatan panjang.
Di satu sisi, dokumenter-dokumenter ini berhasil meningkat kesadaran akan isu-isu penting, seperti kegagalan sistem peradilan atau dampak kejahatan yang telah terjadi kepada para korban serta keluarganya. Di sisi lain, terdapat resiko atas pengeksploitasan kejadian-kejadian nyata hanya untuk sekedar hiburan semata, dan dampak buruk lainnya.
Maka dari itu, apakah acara-acara ini sebenarnya baik untuk kita tergantung atas para penontonnya sendiri.
Tag: #meningkatnya #minat #menonton #true #crime #ternyata #sisi #buruknya #untuk #kita #korban #kejahatan #penjelasan #ahli