Sulit Menjalin Hubungan hingga Suka Playing Victim, Kenali 8 Perilaku Orang yang Egois dan Kurang Empati
Ilustrasi orang egois dan kurang berempati. (Freepik/katemangostar)
14:20
25 Maret 2024

Sulit Menjalin Hubungan hingga Suka Playing Victim, Kenali 8 Perilaku Orang yang Egois dan Kurang Empati

Tentu, kita beberapa kali menjumpai orang egois dan kurang berempati.

Seseorang yang egois dan kurang berempati akan mementingkan dirinya sendiri dan mengabaikan perasaan atau kebutuhan orang lain.

Dinilai lebih mendalam, terdapat beberapa perilaku yang dilakukan oleh orang egois dan kurang berempati. Simak beberapa perilaku orang yang egois dan kurang berempati, dikutip dari Hackspirit.com, Senin (25/3):

1. Kurangnya Ketertarikan pada Orang Lain

Orang yang egois biasanya hanya memikirkan tentang dirinya sendiri. Hal tersebut membuat mereka kurang tertarik dengan urusan orang lain, baik tentang kehidupan, perasaan, atau pengalaman orang.

Selain itu, orang egois cenderung mendominasi pembicaraan, membicarakan pencapaian, masalah, dan ketertarikannya. Mereka jarang menunjukkan ketertarikan yang tulus terhadap apa yang dialami orang lain.

Di sisi lain, empati membutuhkan pemahaman dan berbagi perasaan orang lain. Kurangnya empati berarti mereka kesulitan menempatkan diri pada posisi orang lain, sehingga sulit bagi mereka untuk berhubungan lebih dalam dengan orang lain.

Jika kamu bertemu dengan seseorang yang terus-menerus mengalihkan pembicaraan ke dirinya sendiri dan tidak menunjukkan ketertarikannya pada perasaan atau pengalamanmu, bisa menjadi itu tanda egoisme dan kurangnya empati pada orang tersebut.

2. Kurangnya Empati terhadap Perasaan Orang Lain

Bagi seseorang yang kurang berempati, memahami dan berbagi perasaan orang lain bisa menjadi sebuah tantangan. Ketidakmampuan untuk merasakan perasaan orang lain dapat dilihat dari sikap meremehkan atau ketidakpedulian terhadap emosi orang lain.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang menunjukkan kecenderungan narsistik – sering dikaitkan dengan sikap egois – cenderung tidak menggunakan alasan empati.

Ketika orang lain merasakan suatu perasaan, mereka kesulitan untuk memahami dan membagikan emosi tersebut. Hal ini dapat menyulitkan mereka untuk menjalin hubungan yang tulus dan mendalam dengan orang lain. Bukannya mereka tidak ingin terhubung, kemungkinan mereka tidak mengerti caranya.

3. Kerap Menyela Pembicaraan Orang Lain

Pernahkah kamu berbicara dengan seseorang yang terus-menerus menyela dirimu? Rasanya mereka tidak benar-benar mendengarkan apa yang kamu katakan, bukan? Ini adalah perilaku lain yang sering ditunjukkan oleh individu yang egois.

Mereka tidak benar-benar mendengarkan dan menanggapi apa yang kamu katakan, mereka kemungkinan lebih tertarik untuk menyampaikan maksud mereka sendiri.

Hal ini dapat terlihat dalam diskusi kelompok di mana mereka mungkin memotong kata-kata orang lain di tengah kalimat untuk mengalihkan pembicaraan kembali ke diri mereka sendiri.

Kurangnya etika dalam berbicara tidak hanya mencerminkan egoisme mereka, tetapi juga menunjukkan ketidakpedulian terhadap pikiran dan perasaan orang lain.

4. Ingin Dapat Perlakuan Khusus

Orang egois dan kurang empati sering percaya bahwa mereka pantas mendapatkan perlakuan khusus dan berhak atas hal-hal tertentu tanpa harus mendapatkannya.

Entah itu mengharapkan bantuan khusus, mengabaikan peraturan yang harus dipatuhi orang lain, atau berasumsi bahwa orang lain harus memenuhi kebutuhannya secara otomatis, seolah-olah dunia harus berputar di sekitar mereka dan kebutuhan serta keinginan mereka harus selalu didahulukan.

Perilaku ini tidak memberikan banyak ruang untuk memahami atau mempertimbangkan kebutuhan dan perasaan orang lain, sehingga semakin menunjukkan kurangnya empati mereka.

5. Kesulitan dalam Membentuk Hubungan yang Bermakna

Bersikap egois dan kurang empati bisa menjadi rintangan dalam membentuk hubungan yang bermakna dan langgeng. Mereka sulit untuk menciptakan ikatan yang mendalam dengan seseorang yang tampaknya lebih tertarik pada dirinya sendiri daripada pada dirimu.

Jika fokusnya selalu pada kebutuhannya, keinginannya, atau kisahnya, maka hanya ada sedikit ruang bagimu untuk merasa dilihat, didengar, dan dihargai dalam hubungan tersebut. Seiring berjalannya waktu, hal ini dapat menimbulkan perasaan kesepian meski saat kamu sedang bersama mereka.

Selain itu, tanpa empati, mereka kemungkinan sulit memahami perasaanmu atau sulit menunjukkan kepedulian yang tulus saat kamu mengalami masa sulit. Kurangnya dukungan emosional dapat menyulitkan membangun hubungan emosional yang kuat dengan mereka.

6. Tidak Ikut Bahagia saat Orang Lain Sukses

Orang yang egois dan kurang berempati tak bahagia saat ada orang lain yang mencapai kesuksesannya.

Sebaliknya, mereka justru meremehkan pencapaian orang lain dan mengalihkan pembicaraan kembali ke karier mereka sendiri.

Fokus mereka terlalu banyak pada diri mereka sendiri sehingga mereka kesulitan untuk benar-benar bersukacita atas pencapaian orang lain. Seolah-olah setiap kesuksesan yang diraih orang lain hanya sedikit merugikan mereka dan menyoroti kekurangan mereka sendiri.

Tak bisa bahagia untuk orang lain tidak hanya memengaruhi hubungan mereka, tetapi juga membuat orang-orang di sekitar mereka merasa tidak didukung dan diremehkan.

7. Sering Merasa Menjadi Korban (Playing Victim)

Perilaku lain yang sering ditampilkan oleh individu yang egois adalah kecenderungan mereka untuk berperan sebagai korban. Mereka mempunyai kemampuan untuk memutarbalikkan situasi agar terlihat sebagai pihak yang tidak bersalah dan seringkali dengan mengorbankan orang lain.

Ketika terjadi kesalahan, alih-alih mengambil tanggung jawab, mereka cenderung menyalahkan orang lain. Dengan cara ini, mereka menjaga citra mereka dan menghindari konsekuensi dari tindakan mereka.

Mentalitas korban ini tidak hanya membebaskan mereka dari tanggung jawab, tetapi juga berupaya mendapatkan simpati dan perhatian orang lain.

Namun, kebutuhan akan validasi dan perhatian yang terus-menerus ini dapat menguras tenaga orang-orang di sekitar mereka dan dapat membebani hubungan.

 

8. Tidak Tulus Meminta Maaf

Permintaan maaf yang tulus menjadi pengakuan atas rasa sakit hati yang ditimbulkan dan keinginan untuk memperbaiki keadaan. Dalam hal ini, tentu butuh empati untuk memahami dampak tindakan yang dilakukan terhadap orang lain dan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan.

Namun, bagi mereka yang egois dan kurang empati, menyampaikan permintaan maaf yang tulus kemungkinan jarang terjadi. Sebaliknya, kamu mungkin merasa permintaan maaf mereka terkesan hampa atau tidak tulus atau mereka mungkin menghindari permintaan maaf sama sekali.

Permintaan maaf bukan sekadar mengatakan "Saya minta maaf". Permintaan maaf berarti mengakui rasa sakit hati, mengambil tanggung jawab, dan menunjukkan perubahan. Tanpa unsur-unsur tersebut, permintaan maaf hanyalah kata-kata kosong.

Tanpa permintaan maaf yang tulus, sulit untuk memperbaiki hubungan dan membangun kepercayaan dalam hubungan apapun.

Editor: Nicolaus Ade

Tag:  #sulit #menjalin #hubungan #hingga #suka #playing #victim #kenali #perilaku #orang #yang #egois #kurang #empati

KOMENTAR