Kurang Kolagen Bisa Memicu Stretch Mark, Bisakah Diatasi?
Ilustrasi stretch mark.()
18:10
30 Mei 2026

Kurang Kolagen Bisa Memicu Stretch Mark, Bisakah Diatasi?

- Stretch mark ditandai dengan munculnya garis-garis pada permukaan kulit yang biasanya terjadi setelah kehamilan, pertumbuhan berat badan yang cepat, atau perubahan ukuran tubuh dalam waktu singkat. 

Meski tidak berbahaya, stretch mark sering kali memengaruhi kepercayaan diri karena sulit dihilangkan sepenuhnya.

Salah satu faktor yang kini banyak mendapat perhatian adalah peran kolagen dalam menjaga elastisitas dan kekuatan kulit.

Baca juga: 7 Cara Mencegah Stretch Mark agar Tak Makin Parah

Dermatologist dr. Danar Wicaksono, MSc., SpDVE menjelaskan, kekurangan kolagen dapat menjadi salah satu penyebab munculnya stretch mark, terutama ketika kulit mengalami peregangan yang signifikan.

“Di bidang dermatologi, kami mengenal adanya stretch mark. Kadang-kadang kalau melahirkan itu kulitnya jadi pecah-pecah. Itu salah satunya disebabkan karena kekurangan kolagen,” ujar dr. Danar saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (26/5/2026).

Peran kolagen dalam menjaga elastisitas kulit

Dermatolog dr. Danar Wicaksono, MSc., SpDVE dalam Peluncuran Bear Brand Collagen & Vitamin C, di Jakarta Selatan, Selasa (26/5/2026).Dok. Bear Brand Dermatolog dr. Danar Wicaksono, MSc., SpDVE dalam Peluncuran Bear Brand Collagen & Vitamin C, di Jakarta Selatan, Selasa (26/5/2026).

Menurut dr. Danar, kolagen merupakan salah satu komponen penting yang berfungsi menjaga struktur dan kekuatan kulit. Kolagen membantu kulit tetap elastis sehingga dapat beradaptasi ketika terjadi perubahan pada tubuh.

Saat kadar kolagen menurun atau tidak mencukupi, kemampuan kulit untuk meregang dan kembali ke bentuk semula juga dapat berkurang. 

Kondisi inilah yang dapat meningkatkan risiko munculnya stretch mark ketika kulit mengalami tekanan atau peregangan berlebihan.

Dr. Danar mengatakan, saat ini semakin banyak orang yang mulai memahami pentingnya menjaga kadar kolagen dalam tubuh sebagai bagian dari upaya merawat kesehatan kulit.

“Sekarang makin aware orang-orang mengantisipasi agar tidak munculnya stretch mark. Salah satunya dengan mempertebal kolagen di dalam kulit lewat asupan berprotein seperti susu,” katanya.

Menurut dia, asupan protein berperan penting karena menjadi salah satu bahan yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung pembentukan dan pemeliharaan kolagen. 

Dengan menjaga kecukupan nutrisi, kondisi kulit dapat lebih terjaga dan risiko kerusakan kulit dapat ditekan.

Stretch mark tidak bisa dihilangkan hanya dengan makanan

Meski asupan nutrisi dapat membantu menjaga kesehatan kulit, dr. Danar menegaskan, kondisi tersebut memiliki keterbatasan ketika stretch mark sudah telanjur muncul.

“Sayangnya stretch mark tidak bisa diatasi dengan asupan dan produk dari luar saja, karena kulitnya sudah terlanjur ada cedera atau robekan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, stretch mark pada dasarnya merupakan bentuk kerusakan atau robekan pada lapisan kulit yang terjadi akibat peregangan berlebihan. 

Oleh karena itu, makanan maupun produk perawatan kulit tidak dapat sepenuhnya mengembalikan kondisi kulit seperti semula.

Menurut dia, banyak orang mengira perubahan pola makan atau penggunaan produk tertentu dapat menghilangkan stretch mark yang sudah ada. 

Baca juga: Apakah Stretch Mark Saat Hamil Bisa Dicegah sejak Awal?

Namun, pendekatan tersebut lebih berperan dalam membantu menjaga kesehatan kulit dan mendukung pembentukan kolagen, bukan memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.

“Makanan sebenarnya dia membantu untuk mempertebal kolagen saja, tapi kalau sudah terlanjur stretch mark, itu harus dengan intervensi tindakan-tindakan medis seperti laser atau injeksi growth factor,” katanya.

Pencegahan lebih baik daripada pengobatan

Dr. Danar mengimbau, langkah terbaik dalam menghadapi stretch mark adalah melakukan pencegahan sejak dini. 

Menjaga kesehatan kulit melalui pola makan yang baik dan memenuhi kebutuhan protein dapat menjadi salah satu upaya untuk mendukung produksi kolagen dalam tubuh.

“Segala sesuatunya itu kita lebih baik prevent daripada kita harus mengobati,” ujarnya.

Prinsip tersebut juga berlaku dalam kesehatan kulit. Ketika kondisi kulit masih sehat, menjaga nutrisi dan gaya hidup yang baik dapat membantu mempertahankan kekuatan serta elastisitasnya. 

Sebaliknya, jika kerusakan kulit sudah terjadi, penanganan yang dibutuhkan biasanya lebih kompleks dan memerlukan tindakan medis tertentu.

Baca juga: Apakah Stretch Mark Normal pada Usia Remaja?

Tag:  #kurang #kolagen #bisa #memicu #stretch #mark #bisakah #diatasi

KOMENTAR