Saatnya Stop Overthinking Sebelum Merusak Kesehatan
Ilustrasi overthinking(Unsplash)
14:05
14 April 2026

Saatnya Stop Overthinking Sebelum Merusak Kesehatan

- Kamu mungkin pernah merasa cemas berlebih saat pesan lambat dibalas, atau mendadak takut dipecat ketika atasan mengajak bertemu. Pola pikir berlebihan ini sering disebut sebagai pemikiran katastrofik, alias versi yang lebih berat dari negative thinking.

Kondisi ini membuat seseorang melihat suatu situasi jauh lebih buruk dari aslinya, dan langsung menyimpulkan bahwa ketakutan terbesar akan segera menjadi kenyataan.

Co-founder dan Chief Clinical Officer di Joon, Amy Mezulis, Ph.D., menuturkan, pemikiran katastrofik memiliki tiga komponen. Pertama, fokus pada apa yang bisa terjadi di masa depan. Kedua,berfokus pada kemungkinan hasil yang sangat negatif.

"Dan kamu memikirkan hasil negatif di masa depan itu berulang kali. Jadi, ketika kamu mendapati pikiran terkunci dalam putaran yang mengantisipasi peristiwa negatif di masa depan, kamu mungkin sedang mengalami katastrofik," ujar dia, melansir Verywell Mind, Selasa (14/4/2026).

Baca juga: 4 Cara Mengatasi Overthinking Saat Silaturahmi Lebaran

Bahaya pola pikir katastrofik

Mengapa pola pikir ini muncul?

Psikolog Smriti Joshi, menganalogikan kondisi ini seperti seekor kelinci yang panik karena mengira bahwa langit sedang runtuh karena ia kejatuhan kelapa.

“Tanpa memeriksa apa yang telah terjadi, dia memercayai skenario terburuk dan panik bahwa langit runtuh dan dunia akan segera berakhir,” papar Joshi.

Saat menghadapi ketidakpastian, otak manusia secara alami cenderung menciptakan berbagai skenario pengandaian. Emosi seperti ketakutan akan memperkuat prasangka tersebut, sehingga kamu menjadi sangat pesimis.

Walau bukan gangguan kejiwaan tersendiri, kondisi ini sering menjadi gejala bawaan dari masalah mental yang lebih besar, seperti kecemasan kronis atau depresi.

Baca juga: 5 Zodiak yang Paling Santai dan Jarang Overthinking, Kamu Termasuk?

Ilustrasi Gen Z banyak menganggur, jadi pengangguranPexels / Liza Summer Ilustrasi Gen Z banyak menganggur, jadi pengangguran

Dampak buruk bagi fisik

Kebiasaan membayangkan hal terburuk secara terus-menerus akan memicu kewaspadaan berlebihan yang tidak sehat.

Stres yang memuncak akibat ketegangan ini lama-kelamaan menimbulkan keluhan fisik nyata seperti gangguan tidur dan sakit kepala.

“Bentuk pemikiran seperti itu perlahan dapat mengikis kemampuan kita untuk mengatasi tantangan secara efektif. Ini dapat membuatmu merasa tidak berdaya untuk mengelola yang terburuk," terang Joshi.

Selain merusak fisik, kebiasaan buruk ini sangat menyulitkan dalam menikmati momen saat ini karena isi kepala terus terpaku pada hal-hal yang belum tentu terjadi.

Baca juga: Awali Tahun Baru dengan Tenang, Ini 11 Tips Bebas Overthinking

Mezulis menuturan, keadaan fisik dan emosional manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan mental. Ketika pikiran terjebak pada peristiwa masa depan yang negatif, manusia cenderung merasa lebih cemas atau sedih.

"Pemikiran katastrofik juga membuat kita berfokus pada masa depan dengan mengorbankan fokus pada masa kini, sehingga sulit untuk hadir secara sadar dalam kehidupan nyata kita saat ini," ucap dia.

Menurunkan rasa percaya diri

Terjebak dalam putaran kepanikan akan merusak harga diri seseorang. Penurunan rasa percaya diri ini pada akhirnya sangat memengaruhi kualitas pengambilan keputusan dan memperburuk performa kerja harian.

Ketakutan tidak masuk akal dapat memicu tindakan drastis untuk menarik diri, seperti mengisolasi kehidupan sosial secara total dan meninggalkan hobi lama. Perubahan perilaku inilah yang paling berisiko memunculkan gejala depresi mendalam.

Baca juga: Hari Kegagalan Internasional, Ini 30 Kata-kata Motivasi agar Berani Bangkit Lagi

Tanda dan pemicu pola pikir katastrofik dalam keseharian

Ciri utama seseorang yang mulai terjebak pola pikir ini adalah telanjur meyakini skenario buruk tersebut pasti terjadi, atau merasa tak ada harapan lagi.

“Jika kamu mendapati dirimu mengalami keadaan emosional yang intens seperti kecemasan, ketakutan, atau kepanikan, cobalah dan fokus pada pikiran yang kamu miliki saat mengalami emosi negatif ini. Mungkin saja kamu sedang khawatir dan mengalami pikiran katastrofik,” saran Joshi.

Pola pikir berbahaya ini bisa muncul tiba-tiba dalam keseharian tanpa disadari. Di tempat kerja, teguran atasan sering memicu ketakutan akan pemecatan.

Baca juga: Anak Makin Rentan Cemas dan Depresi, Ini 4 Cara Mencegahnya

Dalam urusan asmara, pasangan yang sekadar lelah karena bekerja, kerap disalahartikan sebagai kehilangan minat akan pasangan dan merupakan tanda akan berpisah.

Masalah kesehatan pun tidak luput dari pola pikir katastrofik, yang mana nyeri perut ringan langsung dicurigai sebagai gejala penyakit berat.

“Masalah dalam hubungan, baik pribadi maupun profesional, dapat memicu ketakutan akan penolakan atau pengabaian,” ucap Joshi.

“Kegagalan di masa lalu, atau persepsi ketidakmampuan, dapat mengarah pada pola pikir yang mengantisipasi kegagalan dalam upaya di masa depan," pungkas dia.

Baca juga: 7 Sikap Orangtua yang Tanpa Disadari Membuat Anak Mudah Cemas 

Tag:  #saatnya #stop #overthinking #sebelum #merusak #kesehatan

KOMENTAR