Sempat Rusak Diterjang Banjir, Wisata di Lombok Timur Dibuka dengan Wajah Baru!
Tempat Wisata Denda Seruni di Kabupaten Lombok Timur, kini sudah kembali dibuka untuk umum.
Wisata di Desa Seruni Mumbul yang sebelumnya telah ada namun rusak karena banjir rob dan banjir bandang pada sekitar 2022 baru saja selesai direvitalisasi oleh Wahan Visi Indonesia (WVI) bersama Pemerintah Desa Seruni Mumbul.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Senin (8/4/2026), banyak spot foto yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung untuk foto-foto, di antaranya miniatur menara evel hingga jembatan.
Di sini, juga ada tempat makan yang nyaman bagi pengunjung dan tambak ikan.
Maria Natalia Pratiwi, Project Coordinator MARVEL East Lombok saat menyampaikan pemaparan saat launching Wisata Denda Seruni di Kabupaten Lombok Timur. (Suara.com/Dwi Bowo Raharjo)Project Coordinator MARVEL East Lombok, Maria Natalia Pratiwi, mengatakan program dari Mangrove Adaptive and Resilient Village for Enhanced Livelihoods (MARVEL) in sudah berlangsung hampir sekitar 2 tahun, atau dari Mei 2024.
Di sini, pengunjung juga nantinya bisa melanjutkan wisata ke Mangrove Seruni menggunakan perahu kayak atau sampan yang waktu tempuhnya kurang dari 10 menit.
"Kita berkerja bersama-sama untuk rehabilitasi mangrove dan ekonomi. Kita sudah menanam sekitar 14.800 mangrove di Seruni Mumbul dengan luasan 1,5 hektar," jelas dia.
Maria berharap dengan adanya ekowisata ini masyarakat setempat mendapatkan pemasukan lebih dan lebih sadar pentingnya menjaga lingkungan.
"Harapannya adanya nilai tambah berupa edukasi mangrove untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan," jelasnya.
Terlebih dengan adanya rehabilitasi mangrove diharapkan bisa mencegah dampak yang tidak diinginkan dari banjir rob yang kerap menimpa desa Seruni Mumbul.
"Harapannya kita bisa bersama-sama mengembangkan ini. Walaupun WVI enggak bisa mendampingi masyarakat sini lagi nantinya, tapi kami telah meninggalkan yang baik berupa ekowisata," ucap Maria.
Mangrove Seruni di Wisata Denda Seruni, Kabupaten Lombok Timur. (Suara.com/Dwi Bowo Raharjo)Sementara itu Sekretaris Desa Seruni Mumbul, Bambang, berharap program yang sudah dibawa oleh WVI bisa dilanjutkan oleh kelompok-kelompok di desa seperti Pokmaswas, Siaga Bencana Desa Seruni Mumbul, Karang Taruna, Pokdarwis, hingga forum Ibu Aska.
"Ekowisata itu dibentuk agar restorasi mangrove tetap berjalan," kata Bambang.
Ia juga menuturkan program dari WVI tidak berdiri sendiri, melainkan berdampingan dengan pemerintah desa.
Nantinya, ekowisata ini akan dikelola oleh masyarakat sekitar. Ada sekitar 200 warga dari berbagai kelompok yang akan dilibatkan dalam mengelola tempat wisata ini.
"Kita ingin bangun ekowisata yang sesungguhnya, 2026 kita sudah kami anggarkan untuk lab terapung untuk pembibitan mangrove," jelas dia.
"Kita bangun ekowisata dan edukasi, hanya saja karena evisiensi mungkin pelan lah (pembangunannya)," kata dia.
Selain itu, yang terpenting bagi Bambang bukan soal pendapatan dari kunjungan wisatawan ke ekowisata Desa Seruni Mumbu, melainkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.
Sebagai informasi, sebelum ada bencana banjir rob dan banjir bandang 2022, pendapatan wisata di sini mencapai sekitar Rp500 juta per tahun.
"Yan penting kita kesadaran masyarakat dengan pola pikirnya. Dulu masyarakat tidak pernah aware dengan mangrove, sekarang antusias sekali dengan mangrove," kata dia.
Tag: #sempat #rusak #diterjang #banjir #wisata #lombok #timur #dibuka #dengan #wajah #baru