Cara Menghadapi Anak yang Sedang Rewel Tanpa Membentak
Ilustrasi anak saat tantrum. Pengidap Peter Pan Syndrome menunjukkan serangkaian perilaku sosial, ideologi, dan sifat yang dianggap belum dewasa. Pemicunya meliputi pola asuh di masa kanak-kanak.(PEXELS/ Keira Burton )
08:25
2 April 2026

Cara Menghadapi Anak yang Sedang Rewel Tanpa Membentak

- Menghadapi anak yang sedang rewel kerap memancing emosi. Meski secara teori orangtua ingin selalu merespons dengan kepala dingin dan nada bicara yang lembut, realitas pengasuhan harian selalu menguji kesabaran.

"Sebagian besar orang tua berteriak. Namun, ketika teriakan itu terus-menerus, tidak ada yang baik-baik saja," kata psikolog klinis Emily Edlynn, PhD, dalam tulisannya di Parents, Rabu (1/4/2026).

Orangtua dan anak pasti merasa tidak nyaman setelah lepas kendali. Terlebih lagi, merespons dengan amarah justru berisiko memicu anak bertindak agresif.

Siklus negatif ini akan terus berulang jika tidak diputus. Sebagai orang dewasa kita butuh langkah strategis untuk kembali menenangkan diri.

Baca juga: Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog

Cara menghadapi anak yang sedang rewel tanpa membentak

Mencari sumber masalah

Tingkah laku anak sebenarnya hanyalah lapisan permukaan dari dinamika emosional yang sedang mereka alami.

Menurut Edlynn, ini sangat relevan terutama pada anak usia dini, mengingat mereka masih dalam tahap perkembangan untuk mengenali emosi dan mengekspresikan berbagai perasaan dengan cara yang dapat diterima.

Baca juga: 3 Tips Hadapi Anak Tantrum Menurut Para Menteri Saat Akses Medsos Dibatasi Pemerintah

Ilustrasi anak. Perubahan suasana hati anak setelah liburan sering dianggap biasa, padahal bisa menjadi tanda tekanan emosional yang perlu diperhatikan orangtua.Freepik Ilustrasi anak. Perubahan suasana hati anak setelah liburan sering dianggap biasa, padahal bisa menjadi tanda tekanan emosional yang perlu diperhatikan orangtua.

Kondisi tersebut menuntut orangtua untuk lebih peka. Jika orangtua mampu mengidentifikasi masalah yang memicu perilaku buruk tersebut dan langsung mengatasinya, hasilnya akan jauh lebih memuaskan.

"Hal ini lebih baik daripada terus-menerus memarahi mereka tanpa memberikan solusi, yang berisiko memperburuk keadaan," ucap Edlynn.

"Biasakan untuk mengajukan berbagai pertanyaan yang memancing mereka bercerita. Gali informasi lebih dalam dan dengarkan dengan saksama, karena pasti ada alasan di balik kemunculan perilaku tersebut," sambung dia.

Baca juga: Kasus Ayah Lempar Anak di Bekasi, 4 Cara agar Orangtua Tetap Sabar Saat Anak Rewel

Pentingnya evaluasi diri orangtua

Sebelum berusaha mengubah sikap anak, hal pertama yang wajib dilakukan adalah mengevaluasi kondisi emosional diri sendiri.

Niat untuk merespons dengan lebih sabar memang terdengar mudah, tetapi pada praktiknya membutuhkan kejernihan pikiran yang utuh.

Ilustrasi anak menangis.Shutterstock/Leon Rafael Ilustrasi anak menangis.

Oleh karena itu, cobalah merenung dan tanyakan pada diri sendiri mengenai tingkat stres yang sedang dihadapi hari ini. Evaluasi seluruh beban pikiran, baik yang berkaitan dengan pengasuhan anak maupun beban kehidupan lain yang diam-diam menguras kesabaran kita.

"Berhentilah dan lakukan penilaian pribadi secara menyeluruh. Tuliskan faktor-faktor penyebab stres, keinginan, dan kebutuhan kamu, lalu lihat apa yang dapat kamu delegasikan kepada orang lain," saran Edlynn.

Mengenali batas kemampuan adalah langkah krusial agar orangtua tidak kehabisan energi. Temukan cara untuk mundur sejenak dan bernapas.

Baca juga: Ayah Baru Mudah Marah Setelah Anak Lahir? Bisa Jadi Gejala Depresi Pascapersalinan

Mengambil kembali kendali saat krisis

Faktanya, ayah atau ibu tidak bisa berharap anak akan tiba-tiba memiliki kesadaran diri untuk memperbaiki sikapnya secara mandiri. Kesejahteraan mental orangtua memegang peranan penting dalam memutus pola komunikasi yang buruk.

Tantangan selanjutnya adalah menemukan cara efektif untuk kembali menguasai keadaan saat emosi mulai memuncak, karena membentak tidak pernah menyelesaikan masalah.

Saat kejadian berlangsung, langkah pertama adalah mengidentifikasi pemicu. Sebagai contoh, mungkin kita marah karena takut anak akan melukai dirinya sendiri atau saudaranya.

"Berhenti, jeda, dan tarik napas dalam-dalam. Kemudian, ketika kamu siap, gunakan suara yang tenang untuk campur tangan. Ketenanganmu tidak hanya membantu mencegah situasi memburuk, tetapi juga membantumu merasa lebih terkendali," ujar Edlynn.

Baca juga: 5 Zodiak yang Disebut Paling Mudah Marah, Kamu Termasuk?

Ketenangan yang diperlihatkan akan menular, membantu anak-anak merasa lebih aman. Terapkan teknik ini di setiap momen krisis untuk melatih kepercayaan diri orangtua.

Fokus pada manajemen stres jangka panjang

Dari kacamata yang lebih luas, masalah ini merupakan peringatan agar orangtua proaktif memprioritaskan manajemen stres pribadi.

"Cari tahu apa yang menenangkan dan membuat rileks, seperti mandi air hangat, membaca untuk melepaskan penat, jalan-jalan, dan masukkan ini ke dalam daftar tugas dengan prioritas yang sama seperti mencuci pakaian," papar Edlynn.

Susunlah rencana untuk memberikan waktu istirahat bagi diri sendiri dan lakukanlah secara konsisten. Jika muncul perasaan bersalah, ingatkan diri bahwa merawat kesehatan mental adalah demi kebaikan anak-anak.

"Sebagai orang tua, kamu adalah jangkar utama bagi anak-anak. Jika fondasi mental tidak kokoh, mereka pun akan goyah. Semakin kamu merawat diri, semakin mudah bagi kamu untuk meredam badai emosi anak dengan tenang," ujarnya.

Baca juga: 6 Tanda Stres Mengganggu Hubungan Kamu dan Pasangan, Jadi Sering Marah

Tag:  #cara #menghadapi #anak #yang #sedang #rewel #tanpa #membentak

KOMENTAR