



Mata Balas Mata, Menakar Serangan Balasan Iran ke Israel, Nuklir Jadi Cara Pamungkas Dramatis?
Serangan udara pada hari Senin, yang menewaskan dua jenderal Pasukan Quds dari unit elite Garda Revolusi Iran (IRGC) dan lima penasihat militer di kompleks kedutaan Iran di Damaskus.
Baik Israel, Amerika Serikat, serta negara-negara di kawasan saat ini dilaporkan bersiap dan mengantisipasi aksi balasan yang digaungan Iran tersebut.
Hal yang menjadi pertanyaan, seperti apa serangan balasan Iran ke Israel tersebut?
Sejumlah ulasan yang dirangkum Tribunnews,com, menyebut Iran menghadapi dilema menyusul serangan Israel terhadap konsulatnya di Suriah.
Dilema itu berkisar pada pertanyaan, bagaimana Iran bisa membalas tanpa memicu konflik yang lebih luas di kawasan?
Hal ini bersandar pada spekulasi , yang menurut para analis Timur Tengah, Teheran tidak ingin atau belum mau, meningkatkan eskalasi perang, seperti yang terjadi di Gaza, meluas.

Mata Balas Mata
Serangan Israel ke Konsulat Iran di Damaskus Suriah ini disebut-sebut sebagai upaya Israel mempercepat kampanye jangka panjang melawan Iran dan kelompok bersenjata yang didukungnya.
Iran dan Israel seudah lama bermusuhan, belakangan Tel Aviv gerah terhadap rongrongan milisi perlawanan yang mereka gambarkan sebagai proksi Iran, baik itu Houthi di Yaman, milisi perlawanan Irak dan Suriah, dan yang utama, Hizbullah di Lebanon.
Poros milisi perlawanan itu kian gencar menyasar wlayah teritorial Israel, di mana serangan diklaim sebagai wujud dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina dan milisi perlawanannya menghadapi agresi militer Israel yang sudah berlangsung sekitar enam bulan.
Tel Aviv, yang juga melakukan balasan ke pos-pos komando milisi perlawanan tersebut, belakangan disebut juag menargetkan tokoh-tokoh militer Iran yang dianggap sebagai motor gerakan-gerakan tersebut.
Selain hal tersebut di atas, serangan pada Senin kemarin tersebut dikaitkan dengan praktik asas mata balas mata oleh Israel sebagai pembalasan terhadap serangan Iran ke sebuah gedung di Erbil, Irak, Senin (15/1/2024) silam.
Saat itu, rudal balistik yang diluncurkan Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) menyasar apa yang disebut-sebut sebagai markas rahasia Mossad di Irak.
Dilema Teheran Soal Nuklir, Jadi Pamungkas?
Atas serangan Israel ke Damaskus yang menewaskan Brigadir Jenderal Mohammad Reza Zahedi, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah bersumpah akan membalas dendam.
Teheran punya sejumlah pilihan untuk membalas.
Iran bisa saja menggunakan proksi-proksinya untuk menyerang pasukan Amerika Serikat (AS), menggunakan proksi-proksi tersebut untuk menyerang Israel secara langsung, atau menggunakan cara ultimate - meningkatkan program nuklirnya, yang sudah lama coba dikendalikan oleh AS dan sekutunya.
Ulasan Memo menyebut pihak AS tengah menganalisis tiap pilihan yang dimiliki Iran dalam upaya mereka membalas Israel.
"Berbicara tanpa mau disebutkan namanya, para pejabat AS mengatakan kalau mereka mengawasi dengan cermat untuk melihat apakah, seperti di masa lalu, proksi yang didukung Iran akan menyerang pasukan AS yang berbasis di Irak dan Suriah setelah serangan udara Israel," tulis laporan tersebut.
Serangan Iran tersebut berhenti pada Februari setelah Washington membalas pembunuhan tiga tentara AS di Yordania dengan puluhan serangan udara terhadap sasaran di Suriah dan Irak yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran dan milisi yang didukungnya.

Para pejabat tersebut mengatakan, mereka belum menerima informasi intelijen yang menunjukkan kalau kelompok-kelompok yang didukung Iran ingin menyerang pasukan AS setelah serangan Senin, yang menurut media Iran menewaskan anggota IRGC termasuk Mohammad Reza Zahedi, seorang brigadir jenderal.
Namun demikian, AS secara blak-blakan memperingatkan Teheran pada Selasa agar tidak menyerang pasukannya.
“Kami tidak akan ragu untuk membela personel kami dan mengulangi peringatan kami sebelumnya kepada Iran dan proksinya untuk tidak memanfaatkan situasi ini… untuk melanjutkan serangan mereka terhadap personel AS,” kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB Robert Wood.
Balasan Serupa, Iran Targetkan Konsulat Israel
Narasumber Pejabat AS itu mengatakan, mengingat telaknya serangan Israel, Iran potensial merespons dengan menyerang kepentingan Israel alih-alih menyerang pasukan AS.
Salah satu sumber yang memantau masalah ini secara hati-hati dan tidak mau disebutkan namanya, mengatakan kalau Iran bak menghadapi teka-teki, mereka ingin membalas guna mencegah serangan Israel lebih lanjut, tapi di sisi lain juga enggan menghadapi perang habis-habisan.
“Iran telah menghadapi dilema nyata bahwa jika mereka merespons, mereka bisa saja melakukan konfrontasi yang jelas-jelas tidak mereka inginkan,” katanya.
“Mereka mencoba memodulasi tindakan mereka dengan cara yang menunjukkan bahwa mereka responsif namun tidak eskalasi.”
Jika mereka tidak memberikan balasan dalam serangan ini, tambahnya, hal ini akan menjadi sinyal bahwa upaya pencegahan yang mereka lakukan hanya sebatas 'macan kertas'.
Seperti asas mata balas mata, Iran diyakini juga akan menyerang konsulat Israel di belahan dunia manapun yang menurut mereka menjadi target berisi tokoh-tokoh penting Israel.
“Oleh karena itu, Iran mungkin akan menyerang Israel, kedutaan besar Israel, atau fasilitas Yahudi di luar negeri.” Elliott Abrams, pakar Timur Tengah di lembaga pemikir Dewan Hubungan Luar Negeri di Amerika.
Tak Mau Kerahkan HIzbullah di Perang Besar Lawan Israel

Elliott Abrams juga mengatakan kalau dia yakin Iran tidak menginginkan perang habis-habisan dengan Israel tetapi potensial membalas dengan menargetkan fasilitas dan kepentingan Israel.
Terkait penggunaan proksi dalam aksi balasannya, Abrams secara khusus menyebut Hizbullah.
Namun dia menganalisis, Iran juga tak mau Hizbullah terlibat dalam perang besar melawan Israel.
“Saya pikir Iran tidak menginginkan perang besar Israel-Hizbullah saat ini, jadi respons apa pun tidak akan datang dalam bentuk tindakan besar-besaran Hizbullah,” kata Abrams, merujuk pada kelompok Lebanon yang dipandang sebagai wakil militer paling kuat di Teheran.
“Mereka punya banyak cara lain untuk merespons… misalnya dengan mencoba meledakkan kedutaan Israel.”

Nuklir Jadi Cara Pamungkas yag Dramatis
Iran juga punya cara pamugkas nan dramatis dalam upaya membalas Israel, yaitu dengan mempercepat program nuklirnya, yang telah ditingkatkan Teheran sejak tahun 2018.
Saat itu, Iran mengebut program nuklir negaranya sampai-sampai,mantan Presiden AS Donald Trump gerah dan memutuskan kalau negaranya menarik diri dari perjanjian nuklir Iran tahun 2015.
Perjanjian nuklir tersebut dirancang AS untuk membatasi pengembangan nuklir Iran dengan imbalan keuntungan ekonomi seperti dicabutnya berbagai embargo.
"Namun, dua langkah paling dramatis – meningkatkan kemurnian uranium yang diperkaya hingga 90 persen, yang dianggap setara dengan bom, atau menghidupkan kembali upaya untuk merancang senjata yang sebenarnya – dapat menjadi bumerang dan mengundang serangan Israel atau AS terhadap fasilitas nuklir di Iran," tulis ulasan Memo terkait potensi Iran membalas pakai cara nuklir-nukliran.
“Salah satu dari keputusan tersebut akan dipandang oleh Israel dan AS sebagai keputusan untuk memperoleh bom. Jadi… Iran benar-benar mengambil risiko yang besar. Apakah Teheran siap melakukannya? Menurut saya tidak,” kata sumber yang memantau masalah ini dengan cermat.
Jon Alterman, direktur program Timur Tengah di lembaga pemikir CSIS di Washington, mengatakan dia tidak berpikir kalau serangan balasan besar-besaran Iran akan menyasar kedutaan besar negaranya.
“Iran kurang tertarik untuk memberi pelajaran kepada Israel dibandingkan menunjukkan kepada sekutunya di Timur Tengah bahwa mereka tidak lemah,” ujarnya.
(oln/memo/*)
Tag: #mata #balas #mata #menakar #serangan #balasan #iran #israel #nuklir #jadi #cara #pamungkas #dramatis