Meski Belum Sepakat, Sinyal Damai AS-Iran Masih Menyala
- Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa terobosan besar pada Minggu (13/4/2026).
Meski demikian, sejumlah sumber menyatakan bahwa proses dialog antar kedua negara tetap berjalan, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (14/4/2026).
Di satu sisi, perundingan damai di Hotel Serena tersebut merupakan momen bersejarah.
Pasalnya, pertemuan tersebut merupakan kontak langsung pertama antara pejabat senior kedua negara selama lebih dari 10 tahun.
Selain itu, pertemuan tersebut juga menjadi keterlibatan paling intens sejak Revolusi Iran 1979.
Baca juga: Perundingan Gagal, Trump Pertimbangkan Serangan Terbatas ke Iran
Suasana tegang
Perundingan damai antara AS dan Iran dilakukan dengan pengamanan ketat dan protokol komunikasi yang kaku.
Berdasarkan informasi dari sejumlah staf operasional, delegasi AS dan Iran ditempatkan di sayap bangunan yang terpisah.
Untuk perundingan, ada satu area yang digunakan untuk pertemuan trilateral yang dipandu mediator Pakistan.
Guna menjaga kerahasiaan, penggunaan ponsel dilarang di dalam ruang utama.
Baca juga: 5 Kendala di Balik Gagalnya Perundingan AS-Iran
Hal ini memaksa para delegasi, termasuk Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, untuk keluar ruangan saat jeda demi menyampaikan pesan ke pemerintah masing-masing.
"Ada harapan kuat di tengah pembicaraan bahwa akan ada terobosan dan kedua pihak akan mencapai kesepakatan. Namun, situasi berubah dalam waktu singkat," ujar seorang sumber dari pemerintah Pakistan.
Sumber lain menyebutkan bahwa kesepakatan sebenarnya sudah mencapai 80 persen.
Namun, perundingan damai akhirnya menemui jalan buntu saat berhadapan dengan keputusan yang tidak bisa diselesaikan di lokasi.
Baca juga: Respons Kecewa Sejumlah Negara Usai Perundingan AS-Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan
Nuklir dan Selat Hormuz
Fokus utama perundingan mencakup pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran, jalur energi global yang strategis, serta program nuklir Iran dan sanksi internasional terhadap Teheran.
Pihak AS bersikeras pada sejumlah poin krusial yakni penghentian seluruh pengayaan uranium Iran dan pembongkaran fasilitas nuklir utama.
Pembukaan Washington juga menuntut Teheran untuk membuka penuh Selat Hormuz tanpa pungutan biaya serta menghentikan pendanaan untuk kelompok proksi regional.
Sebaliknya, Iran mengajukan tuntutan yang mencakup gencatan senjata permanen yang terjamin serta pencabutan sanksi primer dan sekunder.
Iran juga mendesak pencairan aset-aset yang dibekukan serta pengakuan hak pengayaan uranium dan kendali atas Selat Hormuz.
Baca juga: Nuklir Iran Ternyata Belum Lumpuh Total, Perundingan dengan AS Kian Alot
Ketegangan sempat memuncak saat membahas jaminan keamanan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mempertanyakan komitmen AS mengingat serangan AS-Israel terhadap Iran sempat terjadi hanya dua hari setelah dialog sebelumnya di Jenewa, Swiss.
"Bagaimana kami bisa mempercayai Anda jika pada pertemuan Jenewa terakhir, Anda mengatakan AS tidak akan menyerang saat diplomasi sedang berlangsung?" cetus Araqchi sebagaimana dikutip oleh beberapa sumber internal.
Suasana sempat begitu memanas hingga terdengar suara teriakan dari luar ruang sidang.
Baca juga: Kata Iran soal Penyebab Perundingan dengan AS Gagal Capai Kesepakatan, Singgung 3 Topik
Kondisi rersebut memaksa Panglima Militer Pakistan Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengintervensi dengan memberikan jeda istirahat untuk mendinginkan suasana.
Setelah 21 jam negosiasi, Vance menyatakan tidak adanya kesekapatan dari perundingan dan pulang ke AS.
Dia menyampaikan bahwa AS telah memberikan tawaran terakhir mereka.
"Kami pergi dari sini dengan proposal sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah Iran menerimanya," pungkas Vance.
Baca juga: Perundingan AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan, JD Vance Cabut dari Pakistan
Prospek dialog ke depan
Wakil Presiden AS JD Vance (kiri) disambut oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menjelang perundingan perdamaian AS-Iran di Islamabad pada 11 April 2026. Vance tiba di ibu kota Pakistan untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan perdamaian yang sangat penting dengan Iran, di bawah naungan gencatan senjata rapuh selama dua minggu antara Washington dan Teheran, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator dalam negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri konflik selama enam minggu.
Meski belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran, Presiden AS Donald Trump mengeklaim pada Senin (14/4/2026) bahwa pihak Teheran telah menghubunginya untuk mengupayakan kesepakatan.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menegaskan bahwa posisi AS tidak berubah sejak pertemuan Islamabad.
"Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan tim perunding Presiden Trump tetap berpegang pada garis merah ini," tegasnya.
Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa upaya mediasi masih terus berlangsung.
"Saya ingin memberi tahu Anda bahwa upaya penuh masih dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini," kata Sharif.
Baca juga: Perundingan Damai Diwarnai Saling Curiga, Iran Blak-blakan Tak Percaya AS
Tag: #meski #belum #sepakat #sinyal #damai #iran #masih #menyala