Rupiah Diprediksi Menguat ke Rp 17.700 Per Dollar AS, Jadi Katalis IHSG Pekan Depan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan lanjut menguat pada pekan depan, sejalan dengan prediksi terapresiasinya nilai tukar rupiah di level Rp17.700 per Dolar Amerika Serikat (AS).
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai penguatan indeks pada pekan depan juga ditopang oleh kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik.
Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), investor asing membukukan net buy atau beli bersih sebesar Rp 287 miliar.
Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini ke Dollar AS di Bank Mandiri, BCA, dan BNI
Ilustrasi IHSG
Adapun, area support IHSG diproyeksikan berada di 5.920 dan resistance kuat di 6.200.
Untuk diketahui, IHSG menutup perdagangan Jumat dengan lonjakan ke posisi 6.007,656 atau menguat 121,623 poin, setara 2,07 persen.
“Proyeksi IHSG untuk pekan depan berpotensi melanjutkan momentum penguatannya di rentang support 5.920 hingga resistance kuat di level 6.200, disokong oleh kembalinya dana asing dengan catatan net buy Rp287 miliar pada Jumat lalu serta perkiraan penguatan Rupiah ke arah Rp17.700 per dollar AS,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (13/6/2026).
Di tengah siklus pengetatan moneter yang masih berlangsung, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big banks) menjadi pilihan utama yang menarik untuk dicermati investor ritel.
Baca juga: Menjaga Kepercayaan Pasar demi Stabilitas Rupiah
Emiten-emiten tersebut dinilai berpotensi diuntungkan oleh tren suku bunga tinggi yang dapat menopang pertumbuhan pendapatan bunga.
“Saham-saham big banks dan BBTN menjadi pilihan utama yang sangat menarik untuk dicermati karena diuntungkan oleh tren suku bunga tinggi,” paparnya.
Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan, BI Rate.
Terlebih lagi, survei terbaru Bloomberg mengindikasikan bahwa Bank Indonesia (BI) masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan ini.
Jika terealisasi, kebijakan tersebut berpotensi menjadi katalis tambahan bagi peningkatan pendapatan bunga sektor perbankan.
Baca juga: BI Rate Naik, Modal Asing Masuk Rp 19 Triliun dalam Dua Hari, Rupiah Menguat
Selain sektor perbankan, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga layak menjadi perhatian investor ritel.
Secara teknikal, saham ini telah berhasil menembus (breakout) level EMA10, yang mengindikasikan potensi berlanjutnya tren penguatan.
Adapun, sentimen yang perlu dicermati investor pada pekan depan berasal dari faktor moneter, yakni hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Konsensus pasar saat ini memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Baca juga: Rupiah dan IHSG Menguat, Mengapa Dana Asing Belum Kembali ke Indonesia?
Oleh karena itu, kebijakan dari kedua bank sentral tersebut akan menjadi faktor yang menentukan stabilitas nilai tukar rupiah, serta arah arus masuk dan keluar dana asing di pasar modal Indonesia.
Senada, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG menguat terbatas pada pekan depan.
Ia menilai IHSG bisa bergerak pada area support 5.825 dan resistance 6.112.
Meski demikian, Herditya mengingatkan investor untuk mewaspadai potensi fluktuasi pasar.
Baca juga: Pascakenaikan BI Rate, Modal Asing Masuk Rp 45,92 Triliun dan Dorong Penguatan Rupiah
Pasalnya, Indonesia akan menghadapi tiga agenda penting yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar dalam waktu berdekatan.
Ilustrasi saham.
Agenda tersebut diawali dengan MSCI Market Accessibility Review pada 18 Juni, dilanjutkan FTSE Rebalancing pada 19 Juni, serta MSCI Market Classification Review pada 23 Juni 2026.
Peninjauan terakhir akan menjadi perhatian utama pelaku pasar karena menentukan apakah Indonesia tetap berstatus sebagai emerging market atau berisiko turun kelas menjadi frontier market.
“Kalau Indonesia masih bertahan di EM (emerging market) dan mampu membenahi dari sisi pasar modal dan kebijakan fiskalnya, maka dapat diperkirakan akan terjadi inflow ke pasar modal Indonesia. Namun sebaliknya, jika masuk ke FM (frontier market), yang akan terjadi adalah outflow yang relatif besar,” ucap Herditya.
Baca juga: Rupiah Menguat Rp 17.860 Per Dollar AS Usai Bank Dunia Proyeksi Ekonomi RI Naik Jadi 5 Persen
Untuk perdagangan pekan depan, Herditya merekomendasikan sejumlah saham yang layak dicermati ritel, yakni PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dengan target harga Rp 650 sampai Rp 670, PT Indika Energy Tbk (INDY) di rentang harga Rp 2.560 sampai Rp 2.810, serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) pada kisaran Rp 930 sampai Rp 990.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #rupiah #diprediksi #menguat #17700 #dollar #jadi #katalis #ihsg #pekan #depan