Dari Cibubur ke Kantor, Kenaikan Harga Pertamax Buat Warga Kelas Menengah Mengelus Dada
Kenaikan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax hanya bisa membuat warga kelas menengah di Jakarta mengelus dada. Di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat, para pekerja berharap pemerintah segera mengeluarkan insentif untuk membantu menjaga daya beli masyarakat.
Rafi (28), seorang karyawan swasta yang setiap hari menempuh perjalanan dari Cibubur, Jakarta Timur, menuju kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, mengaku kenaikan harga Pertamax akan langsung menambah beban pengeluaran bulanannya.
Sebelum penyesuaian harga, Rafi biasanya menghabiskan sekitar Rp45.000 hingga Rp60.000 per pekan untuk membeli 4 hingga 5 liter Pertamax. Namun, setelah harga Pertamax melonjak menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter, biaya transportasinya dipastikan meningkat signifikan.
Menurutnya, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih kepada kelompok masyarakat kelas menengah yang selama ini dinilai belum banyak mendapatkan bantuan langsung.
"Kasih insentif yang jelas buat kelas menengah," ujar Rafi kepada, Jumat (11/6/2026).
Tak hanya soal bantuan, Rafi juga menyoroti pentingnya komunikasi ekonomi pemerintah yang lebih terkoordinasi. Ia menilai perbedaan pernyataan antar kementerian dapat memperburuk sentimen masyarakat dan pelaku usaha.
"Komunikasikan ekonomi yang benar, jangan asal. Jangan sampai ada pernyataan yang bertolak belakang antar kementerian. Kuatkan rupiah, jangan terus menyalahkan faktor eksternal," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Arif (31), karyawan swasta yang juga pengguna Pertamax. Ia mengaku kenaikan harga BBM nonsubsidi membuat anggaran rumah tangganya semakin tertekan.
Meski harga Pertamax naik drastis, Arif masih enggan beralih ke Pertalite karena khawatir kualitas BBM bersubsidi tersebut dapat memengaruhi performa mesin kendaraannya. Akibatnya, ia harus menerima konsekuensi pengeluaran yang lebih besar untuk kebutuhan transportasi.
"Makanya saya berharap ada insentif dari pemerintah. Setidaknya bisa meringankan beban kita di tengah harga kebutuhan hidup yang naik semuanya," ujarnya.
Kenaikan harga Pertamax menjadi sorotan karena terjadi saat masyarakat masih menghadapi tekanan inflasi dan kenaikan berbagai kebutuhan pokok. Kondisi ini berpotensi menggerus daya beli kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi salah satu motor utama konsumsi domestik.
Diketahui, Pertamina resmi menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Di sisi lain, harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan.
PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax (RON 92) mulai 10 Juni 2026. Foto Suara.com/AI
Tag: #dari #cibubur #kantor #kenaikan #harga #pertamax #buat #warga #kelas #menengah #mengelus #dada