Pasar Global 'Berdarah' Akibat Ancaman Perang Trump, IHSG Malah Meroket!
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym].
09:19
11 Juni 2026

Pasar Global 'Berdarah' Akibat Ancaman Perang Trump, IHSG Malah Meroket!

Eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan mengguncang pasar keuangan global. Indeks-indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat ditutup melemah signifikan pada perdagangan Rabu (10/6/2026), dipicu oleh pernyataan agresif Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan meluncurkan serangan militer lebih lanjut terhadap Iran.

Sentimen negatif ini diperparah oleh rilis data ekonomi domestik AS. Inflasi inti indeks harga konsumen (CPI) AS pada bulan Mei 2026 tercatat naik 0,2% secara bulanan (month-on-month/MoM), sedikit lebih rendah dari konsensus pasar sebesar 0,3%.

Namun secara tahunan (year-on-year/YoY), inflasi inti masih nangkring di level 2,9%. Meskipun angka tersebut sesuai ekspektasi, posisinya masih berada di atas target aman yang ditetapkan Bank Sentral AS (The Fed) sebesar 2%, sehingga membatasi ruang bagi pelonggaran moneter.

Aksi jual massal (sell-off) melanda bursa New York setelah Trump meluapkan kekesalannya di media sosial mengenai lambatnya proses diplomasi.

"Iran terlalu lama bernegosiasi untuk sebuah kesepakatan yang sebenarnya akan sangat menguntungkan mereka. Kini mereka harus membayar harganya," tegas Trump.

Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average merosot lebih dari 900 poin atau drop 1,87%. Pelemahan ini diikuti oleh indeks S&P 500 yang terpangkas 1,62%, dan Nasdaq Composite yang berkurang 1,98%.

Kepanikan dari Washington merembet cepat ke zona Asia pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Mayoritas bursa saham regional Asia berakhir di zona merah seiring kekhawatiran pasar terhadap ancaman gangguan pasokan energi global akibat serangan baru AS ke wilayah Iran.

Ketegangan ini otomatis mendongkrak harga minyak mentah dunia, yang memicu kekhawatiran baru atas risiko inflasi global yang tinggi serta prospek suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher-for-longer).

Di Jepang, indeks Nikkei melorot 1,9% dan Topix berkurang 1,2%. Koreksi paling parah melanda Korea Selatan, di mana indeks Kospi terjerembab hingga 4,5% dan Kosdaq terpangkas 1,7%. Di bagian lain, indeks Taiex Taiwan jatuh 3,3% dan Hang Seng Hong Kong melemah tipis 0,6%. Sebaliknya, bursa ASX 200 Australia berhasil melawan arus global dengan menguat 0,6%.

Investor di Asia juga terpantau mengambil posisi defensif sembari menanti rilis data inflasi tahunan AS bulan Mei yang diperkirakan pasar berpotensi merangkak naik ke level 4,2%.

Meskipun pasar global dan regional dihantam sentimen negatif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin justru mampu mencatatkan performa anomali dengan ditutup melonjak 2,71% ke level 5.902,38.

Kendati menguat tajam, reli indeks ini masih dibayangi oleh tekanan jual investor asing yang cukup masif, di mana mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai sekitar Rp3,13 triliun.

Beberapa saham yang menjadi target utama net sell asing di antaranya adalah BBRI, TPIA, BBNI, ANTM, dan BUMI.

Pada hari ini, IHSG dibuka menguat melanjutkan reli yang telah berlangsung dalam dua hari terakhir.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.00 WIB, IHSG naik 0,06% ke level 5.905,78. Kemudian IHSG melanjutkan penguatan dengan naik 0,4%.

Total 274 saham menguat, 153 saham melemah, dan 532 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi pada awal perdagangan tercatat mencapai Rp327,3 miliar dengan volume perdagangan 398 juta saham dalam 53.740 kali transaksi.

Untuk pergerakan hari ini, Kamis (11/6/2026), menurut BNI sekuritas, IHSG diproyeksikan memiliki momentum secara teknikal untuk menguji kembali level psikologisnya.

Support IHSG: 5.750 – 5.840
Resistance IHSG: 6.000 – 6.050

Ide Perdagangan Saham (Trading Idea) Hari Ini

Berdasarkan analisis teknikal di atas, Retail Research Analyst Karina Rusfidyawati merilis beberapa saham pilihan yang berpotensi memberikan keuntungan jangka pendek dengan strategi beli spekulatif (Speculative Buy):

BBCA (Speculative Buy)

Area Beli: Rp5.600 – Rp5.650
Target Harga Terdekat: Rp5.725 – Rp5.850
Batas Cutloss: Di bawah Rp5.525

BULL (Speculative Buy)

Area Beli: Rp344 – Rp348
Target Harga Terdekat: Rp354 – Rp366
Batas Cutloss: Di bawah Rp338

TLKM (Speculative Buy)

Area Beli: Rp2.780 – Rp2.810
Target Harga Terdekat: Rp2.850 – Rp2.920
Batas Cutloss: Di bawah Rp2.750

MBMA (Speculative Buy)

Area Beli: Rp468 – Rp472
Target Harga Terdekat: Rp478 – Rp492
Batas Cutloss: Di bawah Rp462

BREN (Speculative Buy)

Area Beli: Rp4.200 – Rp4.220
Target Harga Terdekat: Rp4.280 – Rp4.370
Batas Cutloss: Di bawah Rp4.120

INET (Speculative Buy)

Area Beli: Rp194 – Rp196
Target Harga Terdekat: Rp198 – Rp206
Batas Cutloss: Di bawah Rp192

Disclaimer: Artikel berita ini disusun berdasarkan rilis resmi pergerakan bursa global dan analisis teknikal pasar modal domestik. Seluruh data angka dan rekomendasi saham bersifat informatif dan referensial semata. Keputusan untuk bertransaksi saham sepenuhnya merupakan hak dan tanggung jawab mandiri setiap investor.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #pasar #global #berdarah #akibat #ancaman #perang #trump #ihsg #malah #meroket

KOMENTAR