IHSG Melonjak Lebih dari 10 Persen dalam 2 Hari, Aksi Profit Taking Mengintai
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak lebih dari 10 persen hanya dalam dua hari atau periode 9-10 Juni 2026. Kenaikan itu dinilai harus disikapi secara hati-hati oleh investor ritel.
IHSG pada perdagangan Rabu (10/6/2026) berhasil mempertahankan tren penguatan hingga akhir perdagangan dan ditutup melonjak 2,71 persen ke level 5.902,376. Pada hari sebelumnya, indeks naik 7,57 persen atau naik 404 poin ke area 5.746,64.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebut secara teknikal, reli yang berlangsung sangat cepat biasanya akan diikuti oleh aksi ambil untung alias profit taking, terutama dari pelaku pasar jangka pendek yang memanfaatkan momentum rebound.
Hal tersebut terlihat dari masih terjadinya aksi jual bersih atau net sell investor asing sebesar Rp 2,9 triliun sepanjang perdagangan Rabu.
Baca juga: IHSG Ditutup Naik 2,71 Persen, Investor Asing Jual Bersih Rp 2,93 Triliun
Aksi jual terbesar investor asing terjadi pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan nilai Rp 571 miliar. Selanjutnya, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat net sell sebesar Rp 395 miliar.
Disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp 147 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 133 miliar, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp 125 miliar.
Di sisi lain, investor asing masih melakukan akumulasi pada sejumlah saham. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi incaran utama dengan net buy atau beli bersih Rp 24 miliar.
Kemudian, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp 22 miliar, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp 12 miliar, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) Rp 10 miliar, dan PT PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) Rp 10 miliar.
Menurutnya, kondisi itu menunjukkan bahwa meskipun indeks menguat tajam, investor global masih belum sepenuhnya kembali percaya terhadap prospek pasar Indonesia dalam jangka pendek.
“Dengan kata lain, penguatan yang terjadi saat ini masih lebih banyak ditopang oleh investor domestik dibandingkan oleh arus dana asing yang berkelanjutan,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam.
Selain faktor teknikal, sentimen eksternal juga masih menjadi sumber risiko utama bagi pergerakan pasar saham domestik. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi menjaga volatilitas harga energi dunia tetap tinggi.
Meskipun harga minyak belum menunjukkan lonjakan yang ekstrem, risiko gangguan distribusi melalui Selat Hormuz bisa memicu kenaikan harga energi global, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Pada saat yang sama, pasar global juga masih menunggu arah kebijakan bank sentral utama dunia serta data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk bagi langkah suku bunga Federal Reserve (The Fed) ke depan.
“Kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi membuat investor cenderung mengambil sikap lebih defensif dalam beberapa hari mendatang,” paparnya.
Dari sisi domestik, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax dinilai sempat memicu kekhawatiran pasar terhadap daya beli masyarakat dan tekanan inflasi.
Namun, keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM subsidi dan LPG bersubsidi dapat meredakan kekhawatiran tersebut sehingga sentimen pasar kembali membaik.
Meski demikian, Hendra mencatat dampak lanjutan dari suku bunga yang lebih tinggi perlu diperhatikan investor ritel. Kenaikan biaya dana berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit, meningkatkan risiko kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di beberapa sektor, serta menekan konsumsi masyarakat apabila berlangsung dalam periode yang cukup panjang.
Untuk perdagangan Kamis (11/6/2926) ia memperkirakan peluang terjadinya konsolidasi atau koreksi wajar relatif lebih besar dibandingkan peluang melanjutkan kenaikan tajam seperti yang terjadi dalam dua hari terakhir.
“Aksi ambil untung berpotensi muncul setelah reli yang berlangsung sangat cepat, terlebih ketika investor asing masih mencatatkan penjualan bersih dalam jumlah besar,” tukas dia.
Secara teknikal, area support IHSG diprediksi berada di 5.731, sementara resistance di 6.000. Apabila indeks gagal menembus dan bertahan di atas area tersebut, maka koreksi jangka pendek menuju area support menjadi skenario yang cukup realistis.
Namun, selama IHSG mampu bertahan di atas area 5.700, tren pemulihan jangka menengah masih tetap terjaga.
“Pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan lebih didominasi oleh fase konsolidasi yang sehat setelah reli kuat, sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya menuju level yang lebih tinggi,” lanjut Hendra.
Baca juga: IHSG Hari Ini Bakal Lanjut Menguat? Ritel Bisa Cermati Saham TLKM, BMRI, BBNI, hingga HRTA
Untuk diketahui, IHSG selama dua hari berturut-turut membawa indeks kembali mendekati level psikologis 6.000. Hal ini diyakini pasar mulai merespons sejumlah langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen memberikan sentimen positif terhadap rupiah yang sempat menguat hingga di bawah Rp 18.000 per dollar AS, sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di tengah tekanan eksternal.
Penguatan rupiah juga menjadi sinyal bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat mampu meredam tekanan jangka pendek terhadap pasar keuangan Indonesia, yang sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam akibat keluarnya dana asing dan meningkatnya ketidakpastian global.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #ihsg #melonjak #lebih #dari #persen #dalam #hari #aksi #profit #taking #mengintai