Pemerintah Kasih Kode Harga BBM RON 92 Bisa Naik, Apa Dampaknya?
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis RON 92. Peluang penyesuaian harga tersebut tengah menjadi pembahasan serius antara pemerintah dan para penyedia bahan bakar swasta pada Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, jika berdasarkan perhitungan teknis dan kondisi pasar saat ini RON 92 memerlukan penyesuaian harga, maka hal tersebut merupakan sebuah kewajaran dalam mekanisme bisnis energi nonsubsidi.
"Saya berkomunikasi terus dengan teman-teman swasta ya, dan saya pikir mereka juga mempunyai hati yang baik ya untuk melihat kondisi yang ada, tapi kalau pada akhirnya kemudian penyesuaiannya sudah bisa dilakukan, saya pikir nggak ada masalah," kata Bahlil pada Sabtu (2/5/2026).
Bahlil menjelaskan bahwa kebijakan harga BBM umum atau nonsubsidi telah diatur agar senantiasa mengikuti fluktuasi harga pasar global.
Hal ini merujuk pada regulasi yang diterbitkan oleh Kementerian ESDM pada beberapa tahun lalu yang memisahkan skema harga BBM subsidi dengan BBM komersial.
Sejauh ini, harga BBM RON 92 tercatat relatif stabil dan belum mengalami kenaikan sejak Maret 2026. Kondisi ini berbanding terbalik dengan jenis BBM nonsubsidi lainnya, terutama varian diesel, yang telah mengalami lonjakan harga cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Harga BBM Pertamina dan Swasta
Hingga saat ini, pantauan di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan harga yang mencolok antara jenis RON 92 dengan varian bahan bakar nonsubsidi lainnya. Di gerai SPBU VIVO, misalnya, produk Revvo 92 masih dibanderol di angka Rp12.390 per liter.
Padahal, bahan bakar jenis Diesel Primus di jaringan yang sama sudah melonjak drastis dari Rp14.610 per liter menjadi Rp30.890 per liter.
Tren serupa terjadi di SPBU BP. Harga BP 92 masih bertahan di level Rp12.390 per liter dan varian Ultimate di angka Rp12.930 per liter.
Namun, untuk varian Ultimate Diesel, harganya sudah dipatok sama dengan harga diesel kompetitor yakni di level Rp30.890 per liter dari sebelumnya Rp25.560 per liter.
Di sisi lain, Pertamina sebagai operator pelat merah terpantau masih mempertahankan harga Pertamax di level Rp12.300 per liter.
Meski demikian, produk nonsubsidi Pertamina lainnya sudah lebih dulu "terbang". Pertamax Turbo kini berada di angka Rp19.400 per liter, Pertamax Green Rp12.800 per liter, serta lini produk Dexlite dan Pertamina Dex yang masing-masing mencapai Rp23.600 dan Rp23.900 per liter.
Dampak Ekonomi dan Efek Domino
Rencana kenaikan harga RON 92 ini memicu kekhawatiran terkait munculnya efek domino pada perekonomian masyarakat. Berdasarkan kajian dalam Jurnal JIKB, penyesuaian harga pada segmen bahan bakar ini berpotensi menekan daya beli masyarakat secara riil.
Meskipun target konsumen RON 92 mayoritas adalah kelas menengah ke atas, kenaikan ini diprediksi akan menyumbang angka inflasi melalui peningkatan biaya logistik dan operasional usaha.
Beberapa poin krusial yang patut diantisipasi akibat kenaikan harga ini antara lain:
- Lonjakan Biaya Distribusi: Sektor industri yang mengandalkan transportasi akan menghadapi pembengkakan biaya produksi, yang ujungnya berpotensi menaikkan harga barang kebutuhan pokok di pasar.
- Pergeseran Konsumsi: Ada risiko besar terjadinya migrasi konsumen dari BBM nonsubsidi (seperti Pertamax) ke BBM subsidi (Pertalite). Jika hal ini terjadi secara masif, beban kompensasi dan subsidi yang harus ditanggung negara justru akan semakin membengkak.
- Penurunan Daya Beli: Masyarakat kelas menengah akan cenderung mengerem konsumsi di sektor lain untuk menutupi kenaikan biaya transportasi harian.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah biasanya menyiapkan bantalan sosial seperti BLT Plus guna melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak.
Namun, solusi tersebut hanya sementara. Stabilitas harga barang kebutuhan di pasar tetap menjadi kunci utama agar inflasi tidak bergerak liar pasca-penyesuaian harga energi ini dilakukan.