Ini Alasan UEA Keluar dari OPEC Mulai 1 Mei Mendatang
- Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan aliansi OPEC+ mulai 1 Mei 2026.
Keputusan itu diambil karena UEA ingin lebih leluasa menentukan strategi produksi minyak sesuai kepentingan nasional dan rencana energi jangka panjangnya.
Menteri Energi UEA Suhail Mohamed al-Mazrouei mengatakan, pemerintah ingin memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menentukan tingkat produksi minyak di masa kini maupun masa depan.
"Ini adalah keputusan kebijakan, yang telah dilakukan setelah mempertimbangkan dengan cermat kebijakan saat ini dan masa depan yang terkait dengan tingkat produksi," ujar Al-Mazrouei kepada Reuters, dikutip Selasa (28/4/2026).
Baca juga: Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Pasar Minyak Dunia Hadapi Risiko Baru
Ketegangan soal kuota produksi sebenarnya sudah lama membayangi hubungan UEA dengan OPEC.
UEA beberapa kali menilai formula pembagian kuota produksi di OPEC tidak menguntungkan negara tersebut, terutama karena Abu Dhabi telah menginvestasikan dana besar untuk meningkatkan kapasitas produksi minyaknya.
Pada 2021, UEA bahkan sempat berselisih dengan Arab Saudi terkait kebijakan pemangkasan produksi minyak OPEC.
Kini, di tengah ketidakpastian pasokan energi global dan konflik kawasan Timur Tengah, UEA memilih jalur independen di luar OPEC.
Langkah itu dinilai memberi ruang lebih besar bagi Abu Dhabi untuk memaksimalkan investasi di sektor minyak, gas, dan energi bersih tanpa terikat kebijakan kolektif kartel minyak.
Selain ingin lebih fleksibel dalam produksi minyak, keputusan keluar dari OPEC juga mencerminkan perubahan strategi energi UEA.
Negara Teluk tersebut dalam beberapa tahun terakhir aktif memperluas kapasitas produksi minyak, sekaligus mengembangkan sektor gas dan energi bersih untuk menjaga daya saing jangka panjang.
Karena itu, berada di luar OPEC dianggap dapat membantu UEA menyesuaikan produksi lebih cepat sesuai kondisi pasar global.
Keputusan UEA keluar dari OPEC juga dinilai memiliki dimensi politik.
Al-Mazrouei mengungkapkan bahwa keputusan tersebut tidak dibahas lebih dulu dengan Arab Saudi, yang selama ini menjadi pemimpin de facto OPEC.
Hal itu memunculkan spekulasi bahwa negara-negara produsen minyak di Timur Tengah mulai lebih mengutamakan kepentingan nasional dibanding koordinasi kolektif melalui OPEC.
Keluarnya UEA pun memicu kekhawatiran terhadap soliditas OPEC dan OPEC+, terutama karena UEA merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dalam organisasi tersebut.
Pasar minyak langsung bereaksi setelah pengumuman itu.
Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 111,60 dollar AS per barrel, sedangkan minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menembus 100 dollar AS per barrel.
Analis menilai, jika UEA meningkatkan produksi secara independen, tambahan pasokan bisa membantu menahan kenaikan harga minyak dunia.
Namun di sisi lain, melemahnya koordinasi OPEC berpotensi meningkatkan volatilitas pasar energi global, di mana biaya energi global berpotensi tetap mahal.
Untuk saat ini, pasar pun masih menilai keputusan tersebut lebih sebagai sinyal geopolitik besar daripada perubahan pasokan jangka pendek.
Baca juga: OPEC: Produksi Minyak Timur Tengah Anjlok 23-61 Persen, Butuh Berbulan-bulan untuk Pulih