Cicilan KPR BTN Tak Terpengaruh Pelemahan Rupiah, Mengapa?
- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) memastikan pelemahan nilai tukar rupiah belum memengaruhi cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) nasabah, termasuk KPR dengan bunga mengambang atau floating.
Pada perdagangan hari ini, Rabu (15/4/2026) nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp 17.143 per dollar AS.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, penyaluran KPR dan sumber dana perseroan hampir seluruhnya dalam mata uang rupiah, bukan valuta asing (valas) seperti dollar Amerika Serikat (AS) sehingga fluktuasi nilai tukar tidak berdampak ke perhitungan cicilan KPR.
Baca juga: Rupiah Melemah, CPO Menguat: Keuntungan Ganda Pengusaha Sawit RI
Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Mata uang paling lemah di Asia 2025.
"Sementara enggak (berpengaruh ke cicilan KPR BTN). Karena kita kan rupiah. Mau dollar AS berapa kita nggak ada urusan," ujarnya saat ditemui di Menara I BTN, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Nixon melanjutkan, KPR BTN justru lebih sensitif terhadap pergerakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) ketimbang pergerakan mata uang.
Namun seperti diketahui, sampai dengan saat ini BI rate masih bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025.
Oleh karenanya, saat ini cicilan KPR BTN masih belum terdampak.
Baca juga: Rupiah Melemah dan Inflasi Mengintai, Apa yang Harus Diwaspadai Masyarakat?
Kendati demikian, dia tidak menampik bahwa ada potensi pelemahan rupiah akan memberikan dampak tidak langsung ke cicilan KPR BTN.
Apabila pelemahan rupiah ini direspons BI dengan menaikkan BI rate.
Kenaikan BI rate akan memicu perbankan nasional menaikkan suku bunga kredit sehingga kemudian akan memengaruhi cicilan KPR terutama yang bunganya floating.
Ilustrasi KPR.
"Currency akan berdampak ke suku bunga bisa terjadi enggak? Bisa. Tapi kapannya, nobody knows. Jadi BTN lebih interest rate sensitive, rather than forex rate sensitive karena kita rupiah," jelasnya.
Baca juga: Rupiah Merosot ke Rp 17.143 Per Dollar AS Usai IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi
Secara terpisah, pengamat perbankan yang juga Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan, menilai perubahan besaran cicilan KPR tidak secara langsung dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah, melainkan lebih ditentukan oleh suku bunga acuan.
"Kenaikan cicilan bergantung pada kenaikan atau fluktuasi suku bunga, bila dampak dari kenaikan kurs dollar adalah bunga kredit juga ikut naik maka cicilan kredit juga akan naik," ujar Trioksa kepada Kompas.com, Rabu.
Trioksa menjelaskan, dampak dari pelemahan rupiah baru akan terasa terhadap cicilan KPR apabila kondisi tersebut mendorong kenaikan suku bunga kredit.
Dalam situasi seperti itu, lonjakan bunga KPR akan berimbas pada meningkatnya beban angsuran yang harus dibayar debitur.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.100, Cicilan KPR Bisa Ikut Naik?
Lebih lanjut, ketika nilai tukar rupiah berada dalam tekanan, otoritas moneter seperti BI umumnya merespons dengan memperketat kebijakan, salah satunya melalui kenaikan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas makroekonomi, khususnya nilai tukar.
Kebijakan tersebut kemudian berdampak pada meningkatnya biaya dana (cost of fund) perbankan, yakni biaya yang harus dikeluarkan bank untuk menghimpun dana dari masyarakat, seperti melalui deposito dan tabungan.
"Jadi faktor utama fluktuasi bunga kredit adalah biaya dana bank. Bila bank efisien dan biaya dana murah tentu akan lebih fleksibel dalam menetapkan bunga kredit," ucap Trioksa.