China Ubah Strategi Energi, Impor Ditekan dan Pasokan Dialihkan
Ilustrasi minyak bumi. (Freepik)
17:16
14 April 2026

China Ubah Strategi Energi, Impor Ditekan dan Pasokan Dialihkan

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi global mulai mengubah pola impor minyak dan gas China.

Negara dengan status importir energi terbesar dunia itu tercatat mengurangi pembelian dari pasar global, sekaligus mengalihkan sumber pasokan untuk menjaga stabilitas energi domestik.

Sejumlah laporan terbaru menunjukkan, penurunan impor ini bukan semata akibat melemahnya permintaan, tetapi juga respons strategis terhadap harga yang melonjak dan risiko gangguan pasokan, terutama dari kawasan Teluk.

Baca juga: Bahlil Dampingin Prabowo ke Rusia, Jaga Pasokan Minyak Domestik

Ilustrasi minyak dan gas. SHUTTERSTOCK/DED PIXTO Ilustrasi minyak dan gas.

Impor menyusut saat harga melonjak

Lonjakan harga minyak global menjadi faktor utama yang menekan impor China.

Dikutip dari The Guardian, Selasa (14/4/2026), dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak dunia sempat menembus level 100 dollar AS per barrel, dipicu konflik dan gangguan distribusi di sekitar Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman energi global.

Kondisi tersebut mendorong importir, termasuk China, untuk menahan pembelian.

Dalam laporan Oilprice, disebutkan bahwa kenaikan harga yang tajam membuat pembeli China mengurangi volume impor minyak dan gas, sekaligus memanfaatkan cadangan yang ada.

Baca juga: Guru Besar Unair Beberkan Strategi Realistis Jaga APBN Saat Harga Minyak Tinggi

Dalam hal minyak mentah, China mengimpor 2,8 persen lebih sedikit pada Maret 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total 49,98 juta ton.

Sejak awal tahun, impor minyak mentah China telah meningkat secara signifikan sebesar 8,9 persen, berkat upaya penimbunan yang terus dilakukan Beijing yang dimulai pada tahun 2024.

Ilustrasi kapal tanker. SHUTTERSTOCK/BOB63 Ilustrasi kapal tanker.

Secara historis, China memang cenderung menekan impor ketika harga energi melonjak.

Menurut Reuters, China telah menunjukkan di masa lalu bahwa mereka cenderung mengurangi impor ketika harga minyak naik terlalu tinggi.

Baca juga: OPEC: Produksi Minyak Timur Tengah Anjlok 23-61 Persen, Butuh Berbulan-bulan untuk Pulih

Penurunan ini juga tercermin dalam data terbaru. Impor gas alam, khususnya LNG, diperkirakan turun tajam akibat lonjakan harga di pasar spot Asia.

Bahkan, impor LNG China pada Maret 2026 diproyeksikan menjadi yang terendah sejak 2018.

Impor gas alam turun 11 persen bulan lalu, menurut Bloomberg yang mengutip data bea cukai resmi.'

Dengan total 8,183 juta ton pada Maret 2026, impor gas China sepanjang tahun ini turun 4 persen dibandingkan tahun 2025. Impor gas alam cair, menurut data awal, mungkin anjlok 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada bulan Maret menjadi 3,74 juta ton.

Baca juga: Harga Minyak 100 Dollar AS, Bos PLN: Ini Jadi Wake Up Call

Dampak konflik di Timur Tengah

Selain faktor harga, gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah turut mempercepat penurunan impor. Kawasan tersebut selama ini menjadi pemasok utama energi bagi China.

Namun, konflik yang melibatkan Iran dan ketegangan di Selat Hormuz telah menghambat distribusi minyak dan gas dari negara-negara Teluk. Dampaknya, aliran energi ke Asia, termasuk China, mengalami penurunan signifikan.

Data menunjukkan, impor energi China dari Timur Tengah mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Bahkan, pangsa minyak dari kawasan tersebut sempat turun ke level terendah dalam beberapa tahun.

Baca juga: Dampak AS Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak ke 100 Dollar AS, Krisis Energi Bayangi Asia

Ilustrasi kapal tanker pengangkut LNG.WIKIMEDIA COMMONS/JOACHIMKOHLERBREMEN Ilustrasi kapal tanker pengangkut LNG.

Untuk gas, dampaknya lebih terasa. Pasokan LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab terganggu akibat konflik, menyebabkan harga melonjak dan mendorong pembeli Asia mengurangi pembelian.

Dalam laporan Energy Connects disebutkan bahwa impor minyak dan gas China menyusut seiring “Gulf turmoil”, yang mengganggu rantai pasok energi global dan meningkatkan biaya impor.

Beralih ke negara-negara alternatif

Menghadapi ketidakpastian tersebut, China mulai mengalihkan sumber pasokan energi ke wilayah lain. Salah satu strategi yang menonjol adalah peningkatan kerja sama dengan negara-negara Asia Tengah.

Dalam laporan Oilprice lainnya, China disebut semakin bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut untuk mengurangi risiko dari Timur Tengah.

Baca juga: Lonjakan Harga Minyak Tekan APBN 2026, Pemerintah Perlu Jaga Subsidi dan Kurs

Jalur pipa darat dari Asia Tengah dinilai lebih aman dibandingkan rute laut yang rentan gangguan geopolitik.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa China mulai beralih dari minyak mentah Timur Tengah dan mencari volume yang lebih besar dari produsen Asia Tengah, dan lebih khusus lagi, Kazakhstan.

Sementara itu, volume minyak dari Arab Saudi diperkirakan akan mengalami penurunan tajam.

Pengiriman minyak dari kerajaan tersebut ke China pada Mei 2026 mungkin hanya setengah dari jumlah yang akan diimpor negara itu bulan ini, menurut pedagang anonim yang berbicara kepada Bloomberg awal pekan ini.

Baca juga: Trump Ancam Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus 100 Dollar AS

Total impor pada April 2026 diperkirakan mencapai 40 juta barrel.

Selain Asia Tengah, China juga meningkatkan impor dari Rusia dan negara lain di luar kawasan Teluk. Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi pasokan energi guna menjaga ketahanan energi nasional.

Ilustrasi kapal tanker. SHUTTERSTOCK/SVEN HANSCHE Ilustrasi kapal tanker.

Diversifikasi ini bukan hal baru. China dalam beberapa tahun terakhir memang memperluas sumber impor energi untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah.

Peran cadangan strategis

Penurunan impor juga dimungkinkan karena China memiliki cadangan energi yang cukup besar.

Baca juga: Perundingan Iran-AS Gagal, Harga Minyak dan Emas Diprediksi Bergejolak Pekan Depan

Cadangan minyak strategis negara tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1,4 miliar barrel, cukup untuk menutup kebutuhan selama beberapa bulan jika terjadi gangguan pasokan.

Ketersediaan cadangan ini memberi ruang bagi pemerintah dan perusahaan energi untuk menahan pembelian saat harga tinggi, sekaligus menghindari tekanan biaya impor.

Selain itu, China juga meningkatkan produksi domestik serta memaksimalkan pasokan gas melalui jaringan pipa dari negara tetangga. Kombinasi ini membantu mengurangi ketergantungan pada impor LNG yang mahal.

Penyesuaian permintaan dan industri

Penurunan impor energi juga dipengaruhi oleh dinamika permintaan domestik. Aktivitas kilang di China dilaporkan mengalami penurunan, seiring ketidakpastian pasokan dan harga.

Baca juga: Pasar Minyak Dunia Dibayangi Kepanikan, Perebutan Pasokan Makin Sengit

Reuters mewartakan, tingkat utilisasi kilang sempat turun di bawah 70 persen, mencerminkan kehati-hatian industri dalam mengolah minyak mentah di tengah volatilitas pasar.

Di sisi lain, pemerintah China juga sempat membatasi ekspor bahan bakar untuk menjaga pasokan dalam negeri.

Kebijakan ini berdampak pada peningkatan stok domestik sekaligus menahan kebutuhan impor tambahan.

Permintaan gas juga menunjukkan tren serupa. Dengan harga LNG yang melonjak, sebagian kebutuhan energi dialihkan ke sumber lain, termasuk produksi domestik dan pasokan pipa.

Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.PIXABAY/TED ERSKI Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.

Baca juga: Minyak Mahal, Ekspor Mobil Listrik dan Hybrid China Naik 140 Persen

Strategi jangka panjang China

Perubahan pola impor ini mencerminkan strategi jangka panjang China dalam menghadapi ketidakpastian pasar energi global.

Selain diversifikasi sumber, China juga terus mendorong efisiensi energi dan pengembangan sumber energi alternatif.

Ketergantungan tinggi pada impor, yang mencapai lebih dari 70 persen konsumsi minyak, membuat keamanan pasokan menjadi prioritas utama kebijakan energi negara tersebut.

Dalam konteks ini, langkah mengurangi impor saat harga tinggi dan memperluas jaringan pasokan dinilai sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah tekanan global.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Serangan ke Arab Saudi Ganggu Pasokan

Di tengah gejolak geopolitik dan volatilitas harga energi, penyesuaian strategi impor menjadi salah satu instrumen penting bagi China untuk mempertahankan ketahanan energi sekaligus mengelola risiko eksternal.

Tag:  #china #ubah #strategi #energi #impor #ditekan #pasokan #dialihkan

KOMENTAR