Mengintip Peran Starlink di Balik Ambisi IPO SpaceX
- Pembahasan mengenai rencana penawaran umum perdana saham atau IPO SpaceX hampir selalu mengarah pada satu hal utama, yakni Starlink.
Layanan internet berbasis satelit ini berkembang pesat, dari sekadar proyek rekayasa menjadi mesin pendapatan utama yang menopang valuasi perusahaan swasta paling bernilai di dunia.
IPO SpaceX diperkirakan paling cepat terjadi pada musim panas tahun ini, dengan estimasi valuasi mencapai 1,75 triliun dollar AS atau sekitar Rp 29.750 triliun (asumsi kurs Rp 17.000 per dollar AS).
Baca juga: Elon Musk Minta Bank Besar Langganan Grok AI untuk Ikut IPO SpaceX
Starlink, tulang punggung bisnis SpaceX
Dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (12/4/2026), meski laporan terbaru menyebut SpaceX mengalami kerugian sekitar 5 miliar dollar AS tahun lalu, angka tersebut sebagian besar disebabkan investasi besar pada xAI.
Di luar itu, bisnis inti SpaceX, termasuk peluncuran roket dan Starlink, justru mencatatkan kinerja kuat dengan EBITDA sekitar 6 miliar dollar AS.
Analisis terhadap model bisnis dan strategi ekspansi Starlink menjadi faktor kunci dalam menilai prospek IPO SpaceX.
Apa itu Starlink?
Starlink merupakan layanan internet broadband global yang disalurkan langsung dari luar angkasa.
Hingga saat ini, layanan ini telah menjangkau lebih dari 9 juta pelanggan di berbagai segmen, mulai dari rumah tangga, bisnis, hingga pemerintah.
Teknologinya mengandalkan ribuan satelit di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO) yang berada di ketinggian sekitar 340 hingga 750 mil dari permukaan Bumi.
Baca juga: SpaceX Siap IPO Raksasa, Bisa Jadi yang Terbesar Sepanjang Sejarah
Berbeda dengan satelit geostasioner tradisional, jarak yang lebih dekat ini membuat latensi lebih rendah, sekitar 25 milidetik, mendekati koneksi broadband kabel.
Skala operasi yang masif dan layanan beragam
Konstelasi Starlink saat ini mencakup lebih dari 9.600 satelit aktif, atau sekitar dua pertiga dari total satelit aktif di dunia.
SpaceX bahkan meluncurkan sekitar 70 satelit baru setiap pekan, angka yang mencerminkan produksi industri, bukan proyek kedirgantaraan konvensional.
Di sisi perangkat, perusahaan juga menargetkan produksi hingga 15.000 unit perangkat Starlink per hari, dengan strategi memperluas manufaktur internal.
Skala besar ini menciptakan efisiensi biaya yang signifikan, sekaligus meningkatkan daya tawar dalam rantai pasok.
Baca juga: Investor Berebut Saham SpaceX Pra-IPO, Risiko Penipuan Mengintai
Portofolio Starlink kini tidak hanya mencakup internet rumah tangga, tetapi juga meluas ke beberapa sektor.
Mulai dari konektivitas komersial (rumah, bisnis, maritim, penerbangan), starshield atau layanan khusus pemerintah untuk keamanan dan komunikasi, serta direct-to-cell yakni layanan internet langsung ke ponsel tanpa modifikasi.
Untuk memperluas pasar, Starlink juga menjalin kerja sama dengan operator seperti T-Mobile dan US Mobile.
Salah satu paket terbaru bahkan menawarkan layanan Starlink mulai dari 47 dollar AS per bulan.
Ancaman dan peluang di industri telekomunikasi
Layanan direct-to-cell (DTC) menjadi terobosan penting karena memungkinkan ponsel biasa terhubung langsung ke satelit.
Saat ini, layanan tersebut telah menjangkau lebih dari 6 juta pelanggan bulanan dan digunakan oleh sekitar 12 juta orang setidaknya sekali, bahkan sebelum peluncuran komersial penuh.
Alih-alih menggantikan operator seluler, Starlink memilih bermitra untuk memperluas jangkauan layanan, menciptakan potensi pasar baru yang sangat besar.
Roket SpaceX Falcon 9 meluncurkan 28 satelit Starlink ke orbit dari Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg di California pada 25 Oktober 2025.
Baca juga: SpaceX Ajukan IPO secara Rahasia, Target Valuasi Rp 29.610 Triliun
Kinerja keuangan jadi daya tarik investor
Karena masih berstatus perusahaan privat, kinerja SpaceX banyak dianalisis melalui data eksternal.
Pada 2025, Starlink diperkirakan menghasilkan pendapatan 10,6 miliar dollar AS, atau sekitar 67 persen dari total pendapatan SpaceX sebesar 15,8 miliar dollar AS.
EBITDA Starlink mencapai 5,8 miliar dollar AS dengan margin sekitar 54 persen, angka yang lebih mendekati perusahaan perangkat lunak dibandingkan bisnis perangkat keras.
Pertumbuhan pelanggan juga menunjukkan tren kuat. Hingga akhir 2025, Starlink telah beroperasi di lebih dari 155 negara dan berhasil menggandakan jumlah pelanggan selama dua tahun berturut-turut.
Mengapa IPO SpaceX sangat dinanti?
Kombinasi pendapatan berulang dari langganan, margin tinggi, ekspansi lintas sektor, serta efisiensi biaya dari kemampuan peluncuran roket sendiri membuat model bisnis SpaceX sangat menarik bagi investor.
Pada praktiknya, IPO SpaceX akan sangat dipengaruhi oleh performa Starlink.
Artinya, penawaran saham ini bukan sekadar investasi di perusahaan antariksa, tetapi juga peluang masuk ke bisnis internet satelit terbesar dan dengan pertumbuhan tercepat di dunia.