BTN Gandeng KAI Bangun Hunian di Stasiun, Target 5 Tower
- PT Bank Tabungan Negara (BTN) mulai menggarap hunian di kawasan stasiun bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Proyek ini ditargetkan membangun sedikitnya lima tower pada tahap awal.
Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyebut kerja sama ini menjadi langkah awal pengembangan hunian terintegrasi transportasi publik.
“Ini yang men-trigger MoU dengan PT KAI,” ujar Nixon dalam konferensi pers di Bandung, Kamis (9/4/2026).
Baca juga: BTN Cetak 863 Pengembang Baru Lewat Program Mini MBA
Lokasi proyek mencakup sejumlah stasiun di Jakarta. Pengembangan direncanakan di Stasiun Senen, Manggarai, dan Tanah Abang. Ekspansi juga disiapkan ke Bandung, Semarang, dan Surabaya.
“Nanti kita coba minimal 5 tower dulu,” kata Nixon.
BTN melihat kawasan stasiun sebagai titik strategis untuk pengembangan hunian. Akses langsung ke transportasi dinilai menjadi faktor penentu minat pasar.
Direktur Consumer Banking BTN Hirwandi Gafar menyebut hunian yang jauh dari transportasi cenderung sepi peminat.
“Kalau lahan itu jauh dari transportasi, dipastikan apartemen atau rusunnya itu sepi. Tapi kalau sudah dekat stasiun KAI, pasti masyarakat akan lebih senang,” ujar Hirwandi.
Pengembangan ini juga diarahkan untuk menjawab keterbatasan lahan di kota besar. Pertumbuhan penduduk tidak diikuti penambahan lahan, sehingga ekspansi rumah tapak semakin sulit.
“Jakarta ini enggak nambah lahannya, tapi penduduk nambah. Sehingga perumahan di Jakarta dan kota besar lain memang sudah harus vertical housing,” kata Nixon.
Baca juga: BTN (BBTN) Transformasi Layanan, Perkuat Digitalisasi dan Operasional Kredit
Konsep hunian terintegrasi ini dinilai mampu menekan biaya hidup. Akses transportasi yang dekat membuat mobilitas lebih efisien dan waktu tempuh lebih singkat.
BTN juga menilai pengembangan vertikal membantu menjaga lahan produktif. Ekspansi rumah tapak berisiko mengurangi lahan pertanian dan meningkatkan potensi banjir.
“Kalau kita maksa rumah tapak terus, lahan produktif dan sawah habis,” kata Nixon.
Pemerintah mulai mengarahkan kebijakan ke hunian vertikal. Perlindungan lahan baku sawah membuat ruang pengembangan rumah tapak semakin terbatas.
BTN menilai pengembangan hunian di kawasan stasiun perlu diikuti edukasi pasar. Tantangan masih muncul, terutama terkait ukuran unit dan penerimaan masyarakat.
“Problemnya vertical housing di Indonesia itu tipe studionya terlalu kecil,” ujar Nixon.
Melalui proyek ini, BTN menargetkan hunian vertikal menjadi pilihan utama di kawasan perkotaan dengan pendekatan yang terintegrasi.