3 Raksasa Pupuk ASEAN Bentuk Aliansi di Tengah Risiko Pasokan Global
Tiga produsen pupuk besar Asia Tenggara membentuk aliansi regional saat rantai pasok global tertekan. Langkah ini menunjukkan upaya industri mengamankan pasokan di tengah risiko geopolitik.
PT Pupuk Indonesia (Persero), Petronas Chemicals Group Berhad, dan Brunei Fertilizer Industries mendeklarasikan Southeast Asia Fertilizer Association (SEAFA) dalam forum Argus Fertilizer Asia Conference.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan pembentukan asosiasi didorong tekanan yang makin kompleks pada sektor pangan dan energi.
“Pembentukan SEAFA berangkat dari pemahaman sederhana, tantangan dalam lanskap pertanian dan ketahanan pangan regional semakin kompleks. Menghadapi tantangan tersebut membutuhkan informasi yang lebih baik, kesadaran yang lebih tinggi serta rasa tanggung jawab bersama dari kita semua,” ujar Rahmad, Sabtu (4/4/2026).
Baca juga: Penutupan Selat Hormuz Bikin Harga Urea Global Melonjak, Dirut Pupuk Jamin RI Tetap Aman
Ia menilai ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, berdampak langsung pada industri pupuk melalui volatilitas energi dan distribusi bahan baku.
“Seiring dinamika global yang terus berkembang, ditandai oleh rantai pasok yang volatil dan pergeseran kebutuhan energi yang berdampak pada sektor pertanian, penting bagi kita untuk terus bergerak adaptif,” kata dia.
Aliansi ini menargetkan penguatan koordinasi pasokan pupuk di kawasan. Fokus awal mencakup stabilitas produksi, efisiensi distribusi, dan akses teknologi industri.
Indonesia melihat forum ini sebagai instrumen untuk memperkuat posisi di rantai pasok regional. Kolaborasi membuka peluang peningkatan kapasitas produksi dan pengembangan teknologi, termasuk praktik rendah karbon dan digitalisasi distribusi.
Baca juga: Harga Urea Global Naik, Pupuk Indonesia Jaga HET Rp 1.800 per Kg
Dalam struktur awal, Pupuk Indonesia menjadi chairman pertama. Petronas Chemicals Group menjadi co-chairman. Sekretariat ditempatkan di Brunei Darussalam. Jabatan ketua akan bergilir setiap tahun.
SEAFA juga disiapkan sebagai kanal bersama untuk menghadapi isu global, termasuk ketahanan pangan dan perubahan iklim. Ke depan, asosiasi ini terbuka bagi produsen pupuk lain di ASEAN.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menilai kerja sama lintas negara menjadi kebutuhan strategis, bukan pilihan.
“Kita ingin relasi ini kita bangun dengan baik, bukan hanya kebutuhan sesaat. Pupuk ini bukan hanya urusan industri pupuk, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan. Sehingga, kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, kita harus kolaborasi antar negara,” ujar dia.
Pembentukan SEAFA menandai pergeseran pendekatan industri pupuk di kawasan. Koordinasi regional mulai diposisikan sebagai alat mitigasi risiko pasokan, bukan sekadar forum kerja sama.
Tag: #raksasa #pupuk #asean #bentuk #aliansi #tengah #risiko #pasokan #global