Ada Perang, Kementan Kebut Hilirisasi untuk Biodiesel dan Etanol
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah mempercepat hilirisasi sektor pertanian. Langkah ini diarahkan untuk mendukung produksi biodiesel dan bioetanol.
Kebijakan tersebut ditempuh di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Biofuel diposisikan sebagai pengganti bahan bakar fosil guna mendorong kemandirian energi.
Amran menyebut arahan percepatan datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
“(Arahan presiden) untuk sektor pertanian hilirisasi biofuel di saat kondisi geopolitik yang memanas, kita butuh langkah cepat,” kata Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Hadapi El Nino Godzilla, Amran Sebut Stok Beras Cukup 15 Bulan
Pemerintah menilai sektor pangan sudah relatif kuat. Fokus kemudian diarahkan pada swasembada energi melalui pengembangan biodiesel dan bioetanol.
Program biodiesel telah berjalan melalui campuran 40 persen minyak sawit dan 60 persen solar fosil atau B40. Skema ini disebut telah menekan impor solar.
Pemerintah berencana meningkatkan campuran tersebut menjadi B50.
“Janji Bapak Presiden bahwa kita menyetop impor solar digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu 5,3 juta ton,” ujar Amran.
Untuk bensin, pemerintah menyiapkan campuran etanol sebesar 20 persen atau E20. Etanol diproduksi dari bahan baku dalam negeri seperti jagung, ubi kayu, dan tebu.
“Apa itu E20? Etanol dan campuran bensin. Dari mana? Jagung, ubi kayu, dan tebu. Semua bisa tumbuh di Indonesia,” tutur Amran.
Pasokan bahan baku dinilai mencukupi. Salah satu sumber berasal dari molase atau tetes tebu yang selama ini diekspor.
“Bahan baku kita yang kita ekspor itu ada 1 juta ton. Itu molase, tetes. Ini bisa dijadikan etanol,” ujar Amran.
Baca juga: Menuju B50, Produksi Biodiesel Nasional Masih Kurang 2 Juta KL
Pemerintah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Sinergi dengan Badan Usaha Milik Negara dinilai penting untuk mempercepat implementasi.
“Artinya ke depan bagaimana kita mandiri energi, mandiri pangan. Ini kita lakukan bersama-sama, kita bergerak bersama-sama,” ucap Amran.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut sektor pertanian memiliki peran strategis dalam transisi energi nasional. Sektor ini akan menjadi sumber utama energi berbasis nabati.
“Swasembada pangan sudah kita raih, dan insyaallah kita akan bergeser. Salah satunya adalah kemandirian energi, di mana pertanian menyumbang dari sisi bioenerginya,” kata Sudaryono.
Konflik di Timur Tengah turut mendorong percepatan kebijakan ini. Pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz mengganggu distribusi energi global dan memicu kenaikan harga minyak.
Tag: #perang #kementan #kebut #hilirisasi #untuk #biodiesel #etanol