Biaya Hidup Terus Meningkat, Tabungan Jadi Bantalan Kelas Menengah
- Kenaikan biaya hidup yang lebih tinggi dari kenaikan upah membuat masyarakat kelas menengah mengandalkan tabungan sebagai bantalan untuk menjaga tingkat konsumsi.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, kenaikan gaji pekerja di Indonesia lebih tinggi dari kenaikan inflasi nasional, yakni 177 persen dan 138 persen selama 2014-2025.
Namun tekanan biaya hidup di kota sering datang dari komponen yang lebih menggerus pendapatan masyarakat. Pada November 2025, inflasi tercatat sebesar 2,72 persen secara tahunan tapi beberapa kelompok pengeluaran utama yang dominan dalam belanja masyarakat kota mengalami kenaikan lebih tinggi.
Dia membeberkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 4,25 persen, sementara kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga meningkat 1,57 persen. Bahkan komponen perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak lebih tinggi yaitu 12,49 persen.
"Ini menunjukkan sebagian rumah tangga menghadapi kenaikan biaya pada pos tertentu jauh di atas inflasi umum," ujarnya kepada Kompas.com, dikutip Minggu (4/1/2025).
Menurutnya, kombinasi tersebut membuat kelas menengah kota sering merasa ruang belanja menyempit, terutama ketika kenaikan pendapatan tidak stabil antartahun, sementara biaya kebutuhan pokok dan layanan perkotaan bergerak naik.
Dari perspektif perbankan, Josua melihat adanya perubahan pola belanja dan tabungan masyarakat perkotaan dalam 2-3 tahun terakhir.
Perubahan tersebut tercermin pada dua hal, yakni upaya menjaga konsumsi dengan menekan tabungan, serta pola tabungan yang menjadi lebih fluktuatif dan berhati-hati pada segmen tertentu.
Pada November 2025, komposisi penggunaan pendapatan masyarakat relatif stabil, dengan porsi untuk konsumsi 74,6 persen, porsi untuk cicilan 11 persen, dan porsi untuk tabungan 14,4 persen.
Namun pada periode yang sama, terjadi pergeseran antar kelompok pendapatan dimana porsi tabungan meningkat pada kelompok pengeluaran Rp 3,1-4 juta. Sementara, kelompok dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta mengalami penurunan porsi tabungan, mengindikasikan tekanan biaya hidup yang lebih besar pada segmen menengah atas perkotaan.
Kemudian tekanan juga terlihat pada penyaluran kredit konsumtif yang tumbuh melambat. Pada Oktober 2025 tumbuh 7,03 persen secara tahunan, lebih rendah dari Desember 2024 yang tumbuh 10,61 persen.
"Sehingga kenaikannya tidak bisa dibaca sebagai ledakan daya beli, melainkan lebih sebagai pertumbuhan yang masih terjadi di tengah kehati-hatian," ucapnya.
Josua menambahkan, perbankan juga mencatat bahwa kredit rumah tangga melemah sejak 2024 disertai kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL), terutama terkait kredit pemilikan rumah (KPR) tipe kecil dan pembiayaan kendaraan bermotor.
Di sisi lain, ada sinyal permintaan kredit belum sepenuhnya kuat dan bank lebih selektif yang terlihat dari fasilitas kredit yang belum dicairkan (undisbursed loan) pada Oktober 2025 masih sebesar Rp 2.450,7 triliun atau 22,97 persen dari plafon kredit.
"Porsi pendapatan untuk cicilan masih relatif stabil, sehingga secara rata-rata risiko masih terkendali. Namun kenaikan kredit bermasalah pada kredit rumah tangga dan fakta bahwa pembiayaan alternatif untuk segmen menengah bawah meningkat signifikan menunjukkan sebagian rumah tangga mulai lebih bergantung pada utang untuk menjaga konsumsi, yang pada akhirnya bisa mengurangi belanja masa depan karena cicilan memakan pendapatan," tuturnya.
Tag: #biaya #hidup #terus #meningkat #tabungan #jadi #bantalan #kelas #menengah