Pariwisata Era AI: Tak Cukup Modal Viral, Harus Dipercaya Publik
Pemanfaatan AI (artificial intelligence atau kecerdasan buatan) semakin dilirik sebagai sarana promosi pariwisata Indonesia pada era digital.
Namun, di tengah derasnya arus informasi di internet dan media sosial, popularitas atau viralitas saja dinilai tidak cukup. Keakuratan informasi dan tingkat kepercayaan publik disebut jadi faktor penting untuk membangun citra destinasi serta menarik minat wisatawan.
Baca juga: Tantangan Baru Industri Hotel, Mudah Ditemukan Pencarian AI
"Di tengah arus informasi yang banyak, para traveler mencari validasi, mencari yang benar," kata Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra dalam acara Ngoprek: Merebut Perhatian Wisatawan di Era AI, di Balairung Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Ia melanjutkan, salah satu sumber informasi yang menjadi rujukan wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara, yaitu situs web milik pemerintah.
- Maskapai Penerbangan Ini Bakal Pangkas 4.000 Pekerjaan, Diganti AI
- Sandiaga: AI Bantu Pariwisata RI Unggul dari Thailand dan Malaysia
MaiA, AI untuk pariwisata
Respons terhadap perkembangan dunia AI di industri pariwisata
Pemanfaatan AI semakin dilirik sebagai sarana promosi pariwisata Indonesia pada era digital. Apa saja tantangan yang ada?
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini mengatakan, saat ini Kementerian Pariwisata menggunakan MaiA sebagai AI untuk promosi pariwisata Indonesia.
"MaiA ini adalah jawaban kita, atau respon kita terhadap perkembangan dunia AI saat ini di sektor atau industri pariwisata," kata Made.
Ia melanjutkan, melalui MaiA, wisatawan dapat mengekslor destinasi, pengalaman, atau daya tarik wisata dengan lebih mudah, ditambah mendapat fleksibilitas terkait jawaban dari pertanyaan yang ada.
- Mahasiswa dari 6 Negara Gagas AI untuk Pariwisata di Bangka Belitung
- UAE Tambah 4 Jenis Visa Kunjungan Baru, Salah Satunya Visa untuk Spesialis AI
MaiA dirancang untuk membantu wisatawan di setiap tahap perjalanan, dari fase membayangkan (dreaming), merencanakan (planning), memesan (booking), merasakan pengalaman berwisata (experiencing) hingga berbagi pengalaman (sharing).
"Dalam tujuh bulan sejak peluncuran pada November 2025, kami bisa mengetahui bahwa ada sekitar 60 persen pengguna berasal dari pasar domestik dan 40 persen dari mancanegara, dengan dominasi wisatawan dari Tiongkok, Singapura, dan Jerman,” kata Made.
Dengan MaiA, pemerintah dapat memahami perilaku wisatawan terkini, termasuk preferensi destinasi, aktivitas, dan preferensi pengalaman yang diinginkan wisatawan.
"Back end-nya, juga bisa dipertanggungjawabkan, sehingga semua data yang masuk itu tidak ada yang halu, tidak ada yang halu, yang masuk (ke data AI) semua bisa dipertanggungjawabkan," kata Made.
Baca juga: Turis AS Selamat dari Panasnya Kamar Hotel di Jepang Berkat AI
Publik butuh kepercayaan
Pemanfaatan AI semakin dilirik sebagai sarana promosi pariwisata Indonesia pada era digital. Apa saja tantangan yang ada?
Hadirnya AI saat ini tentu dapat mendorong promosi destinasi wisata, serta mendukung pelaku wisata untuk menarik perhatian wisatawan.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kemudahan informasi ini juga sejalan dengan mudahnya penyebaran informasi negatif.
Maka dari itu, kata Made, penting untuk mempertahankan citra dalam industri pariwisata.
"Hospitality adalah dunia kepercayaan, dunia citra, citra ini memang harus terus diasah, diperbaiki," kata Made.
Guna mempertahankan citra yang dibangun, pelaku wisata perlu membuktikan citra tersebut.
Dengan kata lain, hadirnya AI dapat membantu merebut perhatian wisatawan. Namun, mempertahankan perhatian wisatawan harus dibuktikan dengan kepercayaan yang dibentuk.
Tag: #pariwisata #cukup #modal #viral #harus #dipercaya #publik