Menikmati Keindahan Matahari Terbit di Lolai, Saat Toraja Serasa Negeri di Atas Awan
Pengunjung memadati sebuah pelataran di To'tombi di dataran tinggi Lolai, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Mereka berkumpul menyaksikan gumpalan kabut tebal serupa awan yang menutup lembah setiap pagi di kawasan itu. Lolai dengan pemandangan kabut kini menjadi magnet baru wisata Toraja dan dikenal dengan sebutan 'Negeri di Atas Awan'.(KOMPAS/RENY SRI AYU)
07:44
24 Mei 2026

Menikmati Keindahan Matahari Terbit di Lolai, Saat Toraja Serasa Negeri di Atas Awan

Jika ada orang bilang Toraja adalah surga wisata budaya, itu tak salah. Kita mengenal Kete Kesu dan Londa, dua tempat wisata yang sudah lama menjadi daya tarik Toraja. 

Kete Kesu merupakan desa adat dengan rumah tongkonan sedangkan Londa merupakan kuburan tradisional di tebing batu kapur dengan gua alami yang dijadikan tempat pemakaman. 

Peti jenazah diletakkan di dalam gua atau digantung di tebing, dan di depan gua terdapat deretan tau-tau (patung kayu) yang mewakili orang yang meninggal.

Namun, Toraja tidak hanya tentang kematian dan kuburan, walaupun pesta kematian merupakan hajatan terbesar masyarakat Toraja yang biasanya menjadi event wisata yang ditunggu-tunggu wisatawan. Toraja tidak hanya itu, Kawan.

Baca juga: 7 Hal Seru yang Cuma Bisa Kamu Temukan di Tana Toraja, Negeri di Atas Awan

Toraja bagi saya adalah salah satu serpihan surga yang dikirim Allah ke bumi. Di Toraja, alam seolah dilukis sehingga gunung-gunung, perbukitan, lereng, lembah, menjadi pemandangan yang menyejukkan mata. Bunga-bunga bermekaran dan berwarna lebih cerah ketimbang di tempat lain. 

Salah satu tempat indah yang layak dikunjungi di Toraja, tepatnya Toraja Utara, adalah Lolai.

Mau panen matahari (dokpri)Kompasiana Mau panen matahari (dokpri)Lolai dikenal juga dengan nama Negeri di Atas Awan. Terdapat spot-spot di pinggir tebing-tebing perbukitan, di mana di lembahnya merupakan tempat berkumpul awan-awan. Lokasi dikreasikan sedemikian rupa sehingga ada spot foto di mana kita seolah-olah berada di atas awan. Sebab, awan lebih rendah dari kita, Gais.

Saya dan teman-teman berangkat dari Toraja. Perjalanan ke Lolai yang berada di kabupaten sebelah (Toraja Utara), memakan waktu sekitar satu jam. Kami berangkat pukul 4 sebelum subuh. Alasannya karena yang mau dilihat ini adalah sunrise, tentu kami harus sudah berada di tempat saat matahari akan terbit. Shalat subuh nanti dilaksanakan di Lolai saja.

Kendaraan kami pun melaju meninggalkan Toraja menuju Lolai membelah pagi buta. Sesekali mata saya pejamkan karena masih ada kantuk yang tersisa.

Baca juga: Tongkonan Berusia 300 Tahun Dirobohkan, Rumah Adat Toraja yang Penuh Makna

Kami sampai di Lolai dan salat dulu di Tongkonan. Ini satu momen yang berharga menurut saya. Tongkonan identik dengan rumah budaya Suku Toraja yang mayoritas nasrani. Saya merasakan perasaan yang indescribable saat shalat, dan menyempatkan muhasabah singkat setelahnya. 

Salat di dalam tongkonan, dengan udara subuh yang dingin, tangan basah karena air wudhu yang mirip air es. Angin mengembus pelan dan langit yang masih biru gelap di atasmu. Saya ingin berada di tempat itu lebih lama untuk tidak melakukan apa-apa.

Salat di tongkonan, bangunan adat Toraja (dokpri) Kompasiana Salat di tongkonan, bangunan adat Toraja (dokpri) 

Hey, sekarang orang jarang sekali duduk diam tidak melakukan apa-apa. Hidup terlalu terdistraksi dengan algoritma media sosial. Toraja, khususnya Lolai, menurut saya adalah tempat yang tepat untuk sejenak kita tinggalkan riuh dunia maya. Hanya diam dan menikmati pemandangan dan udara yang sejuk segar. I feel full of energy and happiness when I was there.

Tapi saya tak bisa berlama-lama di tongkonan. Setelah itu kami segera menuju spot foto di mana orang-orang ramai menunggu sunrise. Sebuah tempat semacam anjungan yang dibangun khusus untuk menikmati sunrise dan lautan awan.

Baca juga: Wings Air Kembali Terbang Makassar-Toraja PP, Ini Jadwalnya

Suasana yang tadinya gelap perlahan mulai berangsur terang, karena matahari mulai keluar merangkak dari peraduannya.

Tidak banyak yang bisa saya jelaskan dengan kata-kata karena pemandangan di Lolai terlalu indah untuk dijelaskan dengan diksi biasa. Saking indahnya, di Lolai pasti seorang pujangga dapat mencipta bermeter-meter puisi panjangnya. Sayangnya saya bukan pujangga, hanya seseorang yang suka mengolah kata-kata.

Foto dengan lautan awan (dokpri)Kompasiana Foto dengan lautan awan (dokpri)Fasilitas yang bisa kamu dapatkan di Lolai adalah penginapan. Banyak penginapan/homestay yang disewakan di sekitar Lolai. Selain itu juga terdapat camping ground dengan tenda-tenda yang bisa disewa. Toilet juga tersedia dalam jumlah yang lumayan banyak, airnya melimpah.

Di sekitar Lolai juga banyak warung-warung kecil tempat melepas kepenatan atau sekadar minum teh panas, sambil menikmati udara Lolai yang sejuk. Kami sempat minum teh di salah satu warung ini usai puas berfoto-foto.

Tiket masuk ke Lolai ini hanyalah Rp10.000 per orang. Murah meriah. Namun itu juga tergantung di titik mana kita berwisata.

Baca juga: Gumuk Pasir Sumalu Toraja: Harga Tiket, Lokasi, dan Jam Buka

Jadi di Lolai ada tiga tujuan wisata dengan objek yang sama yaitu lautan awan. Ketiga tujuan tersebut yaitu:

1. Lolai To' Tombi: Spot paling populer dengan fasilitas penginapan, gazebo, dan anjungan pandang.

2. Tongkonan Lempe: Ikonik karena rumah adat Toraja yang tampak "mengapung" di atas awan.

3. Puncak Pongtorra: Alternatif dengan spot foto unik (perahu bambu, sayap kupu-kupu, glamping).

Saya dan teman-teman kali ini berkunjung di Lolai To' Tombi. Ini spot yang pertama dibangun di Lolai, sebelum dua yang lain.

Foto buat bukti sudah sampai di sini (dokpri)Kompasiana Foto buat bukti sudah sampai di sini (dokpri)

Yang perlu diperhatikan jika ingin ke Lolai, pastikan kendaraan dalam kondisi prima karena jalan menuju Lolai penuh tanjakan dan tikungan tajam.

Selain itu, harga tiket bisa berubah sewaktu-waktu, terutama di spot wisata yang berbeda. Tentu saja karena berkunjung ke Lolai membutuhkan timing yang tepat (karena memburu sunrise) maka kita harus memastikan Lolai yang mana yang kita kunjungi.

Kita hanya dapat berkunjung di satu tempat karena tidak mungkin kita berada di dua tempat di saat sunrise terlihat. Kalaupun berpindah ke spot yang lain, momennya sudah bergeser ke after sunrise.

Baca juga: Rante Kalimbuang Bori Stonehenge-nya Indonesia di Toraja Utara

Cuaca di Lolai bisa berubah dalam waktu yang singkat. Qadarullah kami mendapatkan sunrise yang cantik, dan lautan awan yang penuh. Saat kami istirahat di sebuah kedai di luar gerbang To' Tombi, kami melihat perubahan di mana cuaca tiba-tiba meredup dan kabut memenuhi sekeliling, awan-awan lebur bersama kabut. Itu terjadi sekitar jam delapan pagi. 

So the greatest moment menikmati indahnya Lolai adalah 05.30 - 07.30. Dan jika malamnya hujan, you will get the most incredible clouds. Tentu jika hujan itu tidak bertahan sampai pagi. 

Seorang kawan pernah ke Lolai tapi cuaca mendung dan tidak terlihat sunrise maupun awan karena udara dipenuhi kabut tipis. So, how lucky we were to have such a beautiful view of Lolai, at just the right time.

Tiga tongkonan dan tiga emak (dokpri)Kompasiana Tiga tongkonan dan tiga emak (dokpri)

Beautiful scenery doesn't stay forever, so I hope you catch it at the perfect moment too when you're in Lolai.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Lolai Negeri di Atas Awan, Serpihan Surga di Bumi Toraja Utara"

Tag:  #menikmati #keindahan #matahari #terbit #lolai #saat #toraja #serasa #negeri #atas #awan

KOMENTAR