Rumah Terasa Sempit saat Dibangun, Kok Jadi Lebih Luas setelah Selesai?
Pekerja menyelesaikan pekerjaan konstruksi pada pembangunan Sekolah Rakyat Jawa Tengah 1 di Candiyasan, Kertek, Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat (15/5/2026). Pelaksana proyek PT WIjaya Karya melaksanakan percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Wonosobo dengan menambah jumlah tenaga kerja dari 400 menjadi 1.167 orang dan alat berat dari 3 unit menjadi 12 unit, hingga awal minggu ketiga Mei 2026 perkembangan proyek telah mencapai 40,67 persen.(
15:09
9 Juni 2026

Rumah Terasa Sempit saat Dibangun, Kok Jadi Lebih Luas setelah Selesai?

- Banyak orang merasa ukuran rumah tampak lebih kecil saat pembangunan masih pada tahap pondasi.

Namun, setelah dinding berdiri dan bangunan selesai, rumah yang sama justru terasa lebih luas dari perkiraan awal. Mengapa demikian?

Menurut Ahli Konstruksi Davy Sukamta kondisi tersebut berkaitan dengan persepsi manusia dalam melihat skala ruang.

"Persepsi skala ruang. Kalau belum ada dinding kita mengacu ke sekeliling, yang luas," kata Davy saat dihubungi Kompas.com, Selasa (08/06/2026).

Ia menjelaskan, saat bangunan masih berupa pondasi, batas ruang belum terbentuk secara jelas. Akibatnya, pandangan seseorang cenderung membandingkan area rumah dengan ruang terbuka di sekitarnya yang lebih luas.

Sebaliknya, ketika dinding sudah berdiri, persepsi ruang berubah. Pandangan tidak lagi mengacu pada lingkungan luar, melainkan pada elemen-elemen yang berada di dalam bangunan.

Baca juga: Tanah Bersertifikat Bisa Disita Bank? Ini Penjelasannya

"Kalau sudah ada dinding kita terkurung dan pandangan mengacu ke benda yang ada di depan ruang," ujarnya.

Hal serupa juga berlaku pada penggunaan furnitur. Apabila furnitur simpel dengan skala tidak besar, ruang bakal terkesan luas.

"Kalau furnitur besar-besar berat, ruang terkesan sempit," lanjut Davy.

Apa Itu Persepsi Ruang?

Sementara dilansir dari laman resmi Binus University, persepsi ruang merupakan cara indra manusia menangkap dan menafsirkan berbagai elemen dalam ruang, seperti ukuran, cahaya, warna, hingga tata letak.

Proses ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga melibatkan interpretasi psikologis yang dipengaruhi pengalaman, memori, dan konteks pengamatan.

Dalam kajian arsitektur dan desain interior, persepsi ruang dinilai berperan penting terhadap kenyamanan psikologis pengguna ruangan.

Karena itu, desain ruang tidak hanya mempertimbangkan fungsi, tetapi juga bagaimana ruang tersebut dirasakan oleh penghuninya.

Baca juga: Siapa Pemilik Holland Bakery yang Bangunanya Menyerupai Kincir Angin?

Selain visual, manusia juga menangkap ruang melalui unsur lain seperti suara, aroma, dan kenyamanan termal.

Cahaya dan Warna

Persepsi ruang tidak hanya dipengaruhi ukuran fisik ruangan, tetapi juga oleh warna dan pencahayaan.

Dalam desain interior, kombinasi warna dan pencahayaan dapat memengaruhi suasana emosional pengguna ruang.

Warna tertentu yang dipadukan dengan pencahayaan yang tepat dapat menciptakan kesan hangat, nyaman, atau bahkan membuat ruang terasa lebih hidup.

Konsep ini juga banyak diterapkan pada ruang komersial, termasuk restoran dan kafe, yang memanfaatkan warna serta pencahayaan untuk membentuk pengalaman ruang bagi pengunjung dan meningkatkan selera makan.

Baca juga: Eks Menteri PU: ASN Harus Loyal ke Profesi, Bukan ke Pimpinan

Tag:  #rumah #terasa #sempit #saat #dibangun #jadi #lebih #luas #setelah #selesai

KOMENTAR