Kemarin Masih “Dikhawatirkan”,  AI Kini Sudah Dipakai Hacker buat Meretas
Ilustrasi online hacker.(SHUTTERSTOCK/JANEWS)
15:36
27 Mei 2026

Kemarin Masih “Dikhawatirkan”, AI Kini Sudah Dipakai Hacker buat Meretas

- Kemunculan sejumlah program Artificial Intelligence (AI) canggih yang bisa menjalankan simulasi sendiri, seperti Claude dan Mythos, membuat kekhawatiran pada keamanan siber. AI dinilai bisa disalahgunakan hacker untuk melakukan peretasan.

Sayangnya, temuan baru menunjukkan jika kekhawatiran itu sekarang mulai terjadi. Hacker dilaporkan sudah menggunakan AI untuk menemukan dan menyerang celah di perangkat lunak tertentu.

Baca juga: Setelah Dipecat, Duo Kembar Mantan Hacker Ini Malah Hapus 96 Database AS

Fenomena itu ditemukan oleh tim peneliti dari Google Threat Intelligence Group (GTIG). Tim ini mendeteksi terdapat eksploitasi zero-day atau penyusupan ke celah keamanan yang belum diketahui pengembang, yang diduga dibuat dengan bantuan AI generatif.

“Untuk pertama kalinya, GTIG mengidentifikasi pelaku kejahatan siber yang menggunakan eksploitasi zero-day yang kami yakini dikembangkan dengan AI,” tulis Google dalam laporan resminya.

Eksploitasi zero-day dengan AI

GTIG menjelaskan, eksploitasi tersebut menargetkan sebuah tool administrasi sistem berbasis web open-source populer yang namanya tidak diungkap.

Lewat celah yang dibobol pakai AI ini, peretas dapat melewati sistem autentikasi dua faktor (2FA) untuk masuk ke sistem korban.

Dengan begitu, perangkat pengguna bisa diambil alih oleh hacker dan data-data di dalamnya bisa dicuri.

Meski bisa dibobol pakai AI, Google memastikan bahwa serangan ini berhasil dihentikan sebelum memasuki tahap eksploitasi massal.

Pasalnya, Google mengeklaim pihaknya telah memberi tahu pengembang perangkat lunak terkait agar segera melakukan mitigasi dan menutup celah keamanan tersebut.

Bukan pakai AI Gemini

Google cukup yakin bahwa serangan ini, yang terdiri dari rangkaian kode eksploitasi berbasis Python, dibuat dengan bantuan large language model (LLM). LLM bisa dibilang menjadi salah satu "otak" dari suatu produk AI.

Baca juga: OpenAI Dibobol Hacker, Ini yang Harus Dilakukan Pengguna ChatGPT

Indikasinya terlihat dari struktur kode yang sangat rapi, penuh docstring edukatif, serta penggunaan format Python yang dinilai khas hasil generasi AI.

Peneliti juga menemukan adanya skor CVSS (kerentanan) palsu hasil “halusinasi” AI di dalam kode tersebut.

Selain pola penulisan kode, jenis kerentanan yang ditemukan juga dianggap memperkuat dugaan penggunaan AI.

Sebab, celah yang dieksploitasi berupa bug logika semantik tingkat tinggi yang dinilai lebih mudah dikenali AI dibanding metode tradisional seperti fuzzing (mengetes program) atau static analysis (mengecek kode program).

Lantas, apa AI yang dipakai oleh para pelaku kejahatan siber ini? Google tak mengungkapnya secara pasti.

Namun yang jelas, mereka yakin betul bahwa model AI miliknya, yaitu Gemini tak dipakai untuk membuat serangan berbasis AI seperti ini.

Dipakai kelompok hacker dari berbagai negara

Terkait serangan pakai AI, Google juga mengungkap bahwa kelompok hacker yang terkait dengan China dan Korea Utara mulai memakai AI untuk membantu pencarian kerentanan dan pengembangan eksploitasi siber.

Beberapa kelompok yang disebut antara lain APT27, APT45, UNC2814, UNC5673, dan UNC6201.

Aktor siber yang terkait Rusia juga dilaporkan menggunakan kode hasil generasi AI untuk menyamarkan malware populer seperti "CANFAIL" dan "LONGSTREAM".

Di samping untuk eksploitasi keamanan, Google menyebut AI juga mulai dipakai dalam operasi propaganda dan rekayasa sosial.

Google mencontohkan operasi Rusia berkode “Overload” yang menggunakan teknologi kloning suara AI untuk menyamar sebagai jurnalis dalam video palsu bertema anti-Ukraina.

Baca juga: AI Bobol OS Teraman Kurang dari 10 Jam, Tim Hacker Elit Butuh Berminggu-minggu

Google juga menyoroti malware Android bernama "PromptSpy" yang memanfaatkan API Gemini untuk membantu interaksi otomatis dengan perangkat korban.

Berbagai kasus ini menunjukkan bahwa para pelaku kejatahan siber kini mulai mengandalkan AI untuk mencari kelemahan keamanan untuk memperlancar operasi mereka, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari BleepingComputer.

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

Tag:  #kemarin #masih #dikhawatirkan #kini #sudah #dipakai #hacker #buat #meretas

KOMENTAR