Florentino Perez Tuntut UEFA Hapus Gelar Barcelona Periode 2001–2018
Langkah tegas langsung diambil oleh Florentino Perez sesaat setelah dirinya kembali mengamankan kursi kepresidenan raksasa Liga Spanyol (LaLiga), Real Madrid.
Florentino Perez secara resmi mendesak UEFA untuk menjatuhkan sanksi terberat berupa pencabutan seluruh gelar juara Barcelona yang diraih pada rentang waktu 2001 hingga 2018, sebagai buntut dari skandal dugaan korupsi olahraga.
Manuver berani dari Florentino Perez ini mencuat ke publik setelah ia sukses memenangkan pemilu presiden klub pada hari Minggu lalu.
Dalam jajak pendapat anggota klub tersebut, ia berhasil menyingkirkan penantangnya, Enrique Riquelme, dengan perolehan suara telak 65-35.
Kemenangan ini memberikannya keleluasaan untuk mempercepat pengiriman dokumen penyelidikan terkait kasus Negreira, sebuah investigasi mendalam atas indikasi pembayaran ilegal kepada mantan petinggi wasit Spanyol.
Baca juga: PR Florentino Perez Usai Terpilih Lagi Jadi Presiden Real Madrid
Sang presiden klub sebelumnya telah mengutarakan kekecewaannya secara terbuka terkait lambatnya penanganan masalah ini oleh otoritas terkait.
“Korupsi sistemik dalam kasus Negreira.agaimana kita bisa melupakannya begitu saja?” kata Perez dikutip dari SI, Selasa (9//6/2026).
“Kami sedang menyiapkan berkas setebal 500 halaman yang akan saya kirimkan ke UEFA setelah kompetisi berakhir. Saya sudah berbicara dengan mereka."
"Tidak ada preseden untuk ini dalam sejarah sepak bola dunia. Ini adalah kasus korupsi terbesar yang pernah ada.”
Laporan terbaru dari media asal Spanyol, AS, menyebutkan bahwa berkas tebal tersebut kini telah diserahkan.
Kubu ibu kota Spanyol diklaim tidak sekadar meminta agar rivalnya dilarang tampil di kompetisi level Eropa, tetapi juga menuntut secara spesifik agar seluruh trofi yang dimenangkan pada periode tersebut dihapus dari catatan resmi, sehingga Blaugrana tidak dapat lagi membanggakan prestasinya.
Akar Masalah Skandal Wasit
Baca juga: Florentino Perez Terpilih Lagi Jadi Presiden Real Madrid, Kans Pulangkan Mourinho Terbuka
Skandal yang meledak dan menghebohkan publik pada tahun 2023 ini menyoroti temuan aliran dana senilai 8,4 juta euro (sekitar Rp 176 miliar) dari manajemen Blaugrana kepada entitas bisnis milik Jose Maria Enriquez Negreira.
Para pemain Barcelona merayakan keberhasilan jadi juara Liga Spanyol 2025-2026 setelah pertandingan Liga Spanyol antara FC Barcelona dan Real Madrid CF di Stadion Camp Nou di Barcelona pada 10 Mei 2026.
Sosok ini bukanlah orang sembarangan, melainkan mantan wasit La Liga yang pada periode tersebut juga menjabat sebagai wakil presiden Komite Teknis Wasit Spanyol (CTA).
Meskipun dugaan suap kepada pejabat publik sempat digugurkan oleh pengadilan pada 2024, lantaran Negreira tidak memenuhi kriteria sebagai pejabat publik negara, proses penyidikan masih terus berlanjut di bawah delik korupsi dalam ranah olahraga.
Di sisi lain, kubu Catalan secara konsisten menolak segala tudingan pembelian wasit dan berdalih bahwa dana yang dibayarkan murni sebagai biaya jasa konsultasi perwasitan dan pemantauan pemain muda.
Pada Desember lalu, kubu Los Blancos dilaporkan telah menyiapkan langkah hukum untuk menuntut ganti rugi jutaan euro atas kerugian yang ditimbulkan.
Pihak manajemen Blaugrana pun merespons dengan mengancam akan mengambil tindakan hukum balasan atas tuduhan yang dilontarkan.
Respons Badan Sepak Bola Eropa
Hingga saat ini, kelanjutan nasib pencabutan gelar tersebut masih menjadi tanda tanya besar.
Otoritas sepak bola tertinggi Eropa itu belum menutup kasus ini secara definitif dan menyatakan masih mengkaji seluruh alat bukti yang ada. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, pada tahun 2023 bahkan sempat memberikan pandangannya mengenai perkara ini.
“Menurut pendapat saya, salah satu kasus paling serius yang pernah saya lihat dalam sepak bola.”
Baca juga: Florentino Perez Konfirmasi Kedatangan Dumfries dan Konate Jika Terpilih Kembali
Secara teknis, sanksi pencabutan empat trofi Liga Champions yang diraih antara 2001-2018 sangat mungkin dijatuhkan jika klub tersebut terbukti bersalah di pengadilan, meskipun UEFA tidak berwenang mengintervensi pencabutan gelar domestik La Liga.
Namun, sejarah mencatat bahwa belum pernah ada preseden pencabutan gelar juara setelah partai final usai di kompetisi antarklub Eropa.
Sebagai perbandingan, pada kasus pengaturan skor Marseille (1993) maupun skandal Calciopoli Juventus, sanksi pencabutan gelar dan degradasi hanya berlaku di liga domestik masing-masing, sementara status trofi level Eropa mereka tetap diakui oleh konfederasi.
Tag: #florentino #perez #tuntut #uefa #hapus #gelar #barcelona #periode #20012018