Rekam Jejak Michael Bambang Hartono di Bridge, Perunggu Asian Games Jadi Saksi
Kabar duka datang dari cabang olahraga Bridge usai salah satu atlet kebanggaanya, Michael Bambang Hartono tutup usia pada Kamis (19/3/2026) pukul 13.15 waktu Singapura.
Michael Bambang Hartono, sosok konglomerat yang juga dikenal sebagai filantropis, meninggalkan jejak kontribusi besar bagi dunia olahraga Indonesia.
Bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, ia dikenal sebagai pemilik Grup Djarum yang memiliki komitmen kuat terhadap pembinaan atlet di Tanah Air.
Tak hanya itu, Michael juga aktif menekuni olahraga bridge dan pernah tercatat sebagai bagian dari atlet nasional di cabang tersebut.
Baca juga: Michael Bambang Hartono Meninggal Dunia, Como 1907 Sampaikan Belasungkawa Mendalam
Dalam olahraga berbasis strategi kartu ini, ia mengoleksi berbagai prestasi bergengsi, baik di level nasional maupun internasional.
Rekan setimnya di Tim Bridge Indonesia, Bert Toar Polii, mengungkap sisi lain Michael selama berkecimpung di dunia bridge.
Menurut Bert, kecintaan Michael terhadap bridge telah tumbuh sejak usia enam tahun. Dari kecintaan itu lahir Djarum Bridge Club, yang menjadi wadah pembinaan sekaligus tulang punggung bagi banyak pemain tim nasional.
Baca juga: Jejak Warisan Michael Hartono: Dari Emas Olimpiade hingga Medali Asian Games
Dari lingkungan tersebut pula muncul Djarum Cup, turnamen internasional yang turut mengangkat nama Indonesia di kancah bridge dunia, sekaligus menjadi penopang perkembangan organisasi bridge nasional.
”Sejak itu, saya langsung jatuh cinta dengan olahraga ini,” kata Bambang seperti ditulis di harian Kompas edisi 15 Agustus 2018 dikutip dari Kompas.id.
”Bridge bisa membuat kita memetakan kekuatan dan kelemahan lawan. Kita jadi belajar untuk mengambil keputusan yang tepat dalam waktu yang relatif singkat,”
Prestasi di Asian Games 2018
Michael Bambang Hartono memiliki nama besar di olahraga Bridge. Selain sebagai pembina, Michael juga beberapa kali terdaftar sebagai kontingen Indonesia di ajang internasional.
Sosoknya pernah menjadi sorotan saat menjadi bagian dari tim Bridge Indonesia yang tampil di Asian Games 2018.
Kala itu, Michael yang berusia 78 tahun tercatat sebagai atlet tertua Indonesia dalam sejarah dan berhasil mempersembahkan medali perunggu.
Michael bersanding dengan atlet bridge nasional lain seperti macam Bert Toar Polii, Rury Andhani, dan lainnya.
Baca juga: Como 1907 Ucapkan Duka Cita Atas Wafatnya Michael Bambang Hartono
Pada saat itu, Tim Bridge Indonesia sukses lolos ke semifinal setelah menempati peringkat ketiga dalam babak kualifikasi meski harus mengakui keunggulan China dan meraih medali perunggu nomor supermixed team.
”Asian Games 2018 mengubah segalanya. Ia menjadi wajah. Ia menjadi cerita. Ia menjadi simbol. Bukan karena ia ingin. Tetapi karena bridge membutuhkannya. Dan dengan segala kerendahan hati yang ia miliki, menerimanya. Diam-diam, tanpa keluhan,” ucap Bert dikutip dari Kompas.id.
"Momen-momen sederhana itu, kini terasa jauh lebih besar dari apa pun. Kami bukan sekadar partner bridge. Kami adalah dua orang yang belajar memahami satu sama lain tanpa banyak kata. Dalam satu bidding. Dalam satu kartu yang dilemparkan. Dalam satu tatapan singkat yang berarti segalanya," ucapnya.
Baca juga: Michael Bambang Hartono Wafat, Klub Serie A Berduka dan Beri Hormat
Sementara di dalam negeri, Michael memiliki medali perunggu beregu putra di PON Ke-15 di Surabaya, Jawa Timur, pada 2000 dan perunggu beregu putra di PON Ke-18 di Pekanbaru, Riau, pada 2012.
Di level Asia, Bambang pernah meraih emas beregu senior dalam Kejuaraan Asia pada 2009 dan 2011, serta perak beregu senior dalam Kejuaraan Asia pada 2017.
Michael juga memiliki prestasi di Kejuaraan Dunia Bridge edisi 2008, 2009, dan 2010 dengan meraih medali perunggu.
Pengusaha nasional sekaligus pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia pada Kamis (19/3/2026) di Singapura pukul 13.15 waktu setempat. Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh manajemen PT Djarum.
Sumbang Bonus Untuk Pembinaan Bridge
Prestasi Michael Hartono di Asian Games 2018 membuatnya mendapat bonus dari pemerintah senilai Rp250 juta.
Sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, jumlah tersebut tentu tidak ada apa-apanya dengan kekayaanya yang mencapai 15,5 miliar dolla AS atau setara Rp297 triliun versi Forbes per 19 Maret 2026.
Michael memilih untuk tidak menggunakan bonus tersebut untuk kepentingan pribadi dan menyatakan jika uang tersebut akan dikembalikan untuk pembinaan olahraga bridge di Indonesia.
Baca juga: Kisah Michael Bambang Hartono, Bos BCA yang Pernah Jadi Nasabah BRI
“Uangnya saya akan kembalikan ke bridge untuk pembinaan. Seluruhnya,” ujarnya saat itu.
Komitmen Michael di dunia olahraga tak terbantahkan. Tak hanya dikenal di cabang bridge, ia juga berperan signifikan dalam pembinaan bulu tangkis nasional hingga mampu bersaing dan berprestasi di panggung internasional.
Bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, Michael mengembangkan PB Djarum yang bermarkas di Kudus, Jawa Tengah, menjadi pusat pembinaan atlet yang melahirkan talenta kelas dunia.
Baca juga: Bos Djarum Michael Bambang Hartono Akan Disemayamkan di Jakarta dan Kudus
Di bawah arahannya, PB Djarum bertransformasi lebih dari sekadar klub, melainkan institusi pembinaan yang berjalan secara konsisten dan terstruktur.
Dari tangan dingin pembinaan tersebut, lahir sejumlah atlet papan atas, di antaranya Liliyana Natsir yang mempersembahkan medali emas Olimpiade, serta Kevin Sanjaya Sukamuljo yang dikenal sebagai salah satu pemain ganda terbaik dunia.
Tag: #rekam #jejak #michael #bambang #hartono #bridge #perunggu #asian #games #jadi #saksi