Gerakan dan Pergerakan
Demo mahasiswa di depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat pada Senin (26/8/2024). (Shela Octavia)
11:42
9 Juni 2026

Gerakan dan Pergerakan

BANYAK dari kita yang menyamakan antara ”gerakan” dengan ”pergerakan”. Padahal keduanya adalah dua hal yang fundamental berbeda.

Saat ini, kita sedang menyaksikan kematian pergerakan yang sesungguhnya di tangan kesibukan digital.

Kini, protes publik terasa cukup diselesaikan dengan tagar, dan akuntabilitas pemerintah dianggap tuntas hanya melalui cuitan yang viral.

Akibatnya, kita tidak lagi sedang melawan kekuasaan, melainkan sedang terobsesi dengan pantulan diri sendiri di cermin media sosial.

Inilah jebakan ”gerakan” yang dangkal, yaitu sebuah aktivitas yang melelahkan, namun nihil progres dan kehilangan arah.

Sewaktu masih berkuliah dan belajar dalam ruang-ruang diskusi di Ciputat, saya sering mendengar peribahasa klasik dari sahabat-sahabat saya, yaitu al-harakah fiiha al-barakah.

Ungkapan ini mengajarkan bahwa di dalam setiap pergerakan yang tulus, selalu ada keberkahan.

Namun, keberkahan itu bukanlah sesuatu yang lahir dari sekadar kehebohan saja, ia adalah buah dari ketekunan, kejujuran arah, dan pengabdian pada nilai.

Baca juga: Antara Vitinha, Marselino Ferdinan, dan Cermin Retak Ekosistem Sepak Bola Indonesia

Koneksi filosofis ini, bahwa keberkahan lahir dari ketekunan dan arah yang jujur, semakin relevan jika kita melihat kembali bagaimana pergerakan besar di dunia bermula.

Dalam buku Dasar-Dasar Ilmu Hukum karya Zainal Arifin Mochtar dan Eddy Hiariej (2024), kita diingatkan untuk tidak pernah meremehkan perbincangan sesederhana apa pun.

Jejak Revolusi Perancis, salah satu peristiwa paling mengagumkan dalam sejarah manusia, justru bermula dari diskusi santai di warung kopi.

Di sanalah rakyat memperdebatkan gagasan besar Montesquieu tentang pemisahan kekuasaan dan Rousseau mengenai kedaulatan rakyat untuk menggugat absolutisme Raja Louis XVI.

Meski bagi penguasa saat itu diskusi tersebut hanyalah obrolan sekelompok yang sedang frustrasi, dari ruang informal itulah kesadaran hukum masyarakat sipil lahir dan mampu meruntuhkan monarki.

Inilah bukti bahwa pergerakan yang berakar pada nilai dan gagasan memiliki daya ledak yang jauh lebih besar daripada sekadar kehebohan di ruang digital.

Memulihkan Arah Perjuangan Kita 

Berangkat dari pemahaman itu, hari ini kita mendapati banyak pergerakan yang kehilangan jiwanya.

Kita merasa cukup dengan bersuara lantang di ruang digital, padahal di sana sering kali tidak ada ketekunan, apalagi keberkahan.

Jika al-harakah yang kita lakukan hanya demi validasi sesaat, maka ia hanyalah aktivitas fisik tanpa ruh.

Realitas pergerakan kita kini semakin rumit saat menyaksikan perpindahan para tokoh yang dahulu ikonik dalam menggerakkan massa di jalanan, seperti Said Iqbal atau Jumhur Hidayat, yang kini justru berada di dalam struktur pemerintahan.

Pergeseran ini menjadi cermin sekaligus ujian bagi kita, apakah posisi di dalam struktur pemerintahan adalah jalan untuk mewujudkan perubahan, atau justru menjadi perangkap yang menjinakkan daya kritis mereka?

Kejadian ini adalah peringatan keras bahwa tanpa visi yang kokoh dan kemandirian riset, kekuasaan tak jarang lebih mahir menjinakkan aktivis daripada aktivis dalam menjinakkan kekuasaan.

Tanpa keteguhan prinsip, kursi pemerintahan kerap hanya menjadi ajang untuk bertahan, alih-alih menjadi ruang untuk mendobrak kesewenangan, sebuah perangkap yang justru melumpuhkan esensi perjuangan itu sendiri.

Risiko nyata dari aktivisme yang kehilangan ruh ini juga tampak pada cermin pahit peristiwa yang pernah terjadi di Nepal pada September 2025, yang terjadi persis setelah gelombang demonstrasi besar di Indonesia pada Agustus 2025.

Di Nepal, kemarahan publik yang meledak hebat gagal bertransformasi menjadi kerja-kerja substansial.

Akibatnya, yang didapatkan masyarakat Nepal bukanlah perubahan sistem, melainkan kevakuman kekuasaan, instabilitas politik, darurat militer yang berkepanjangan, hingga ancaman kembalinya sistem monarki.

Baca juga: Mentalitas Mohon Izin

Peristiwa ini adalah pengingat bagi kita, ketika pergerakan hanya berfokus pada kemarahan tanpa visi transisi yang jelas, kehebohan tersebut justru membuka celah bagi kekacauan yang merugikan rakyatnya sendiri.

Belajar dari kejadian tersebut, kita seharusnya tidak hanya melihat masalah, tapi merasakan dangkalnya aktivisme kita saat ini.

Kita sering terjebak dalam gerakan yang hanya ramai di media sosial, padahal untuk melawan kekuasaan, menjadi viral saja tidaklah cukup.

Pergerakan yang nyata justru lahir dari mereka yang sabar menempuh jalur hukum, rajin membedah data, dan tekun mengawal naskah undang-undang hingga tuntas.

Kritik terhadap aktivisme digital ini bukanlah upaya meremehkan partisipasi publik, melainkan ajakan untuk keluar dari jebakan aktivisme pencitraan.

Di titik inilah, kita patut mengapresiasi kelompok masyarakat sipil yang masih konsisten mengawal isu publik dengan verifikasi data dan advokasi melalui pengadilan.

Mereka memahami bahwa berhadapan dengan kekuasaan tidak bisa hanya bermodalkan sentimen, melainkan harus menggunakan data yang tak terbantahkan.

Merawat Niat, Mengawal Substansi

Inilah esensi al-harakah yang sebenarnya, yaitu kerja membosankan yang dilakukan terus-menerus untuk mencegah kekuasaan menjadi absolut.

Sebab, pergerakan yang tulus tidak menuntut kemenangan instan di hari esok, melainkan menanam benih perubahan yang mungkin baru akan dipanen oleh generasi setelah kita.

Ikhtiar memperbaiki sistem ini memang terkadang melelahkan dan hasilnya pun tidak selalu instan.

Jika masyarakat sipil berhenti mengawal, proses pembuatan kebijakan akan kehilangan akal sehatnya.

Tanpa pergerakan yang konsisten, kita membiarkan kebijakan publik dirancang tanpa logika keadilan, yang hanya akan memperlebar jurang antara janji konstitusi dan kenyataan hidup kita.

Bahkan ketika pemerintah merespons kritik dengan narasi "menghambat pembangunan," kita harus tetap teguh menjadi pengingat yang komprehensif agar pembangunan tidak melupakan prinsip kemanusiaan.

Baca juga: Harga yang Harus Dibayar Saat Oposisi Semakin Hilang

Membedakan ”gerakan” dari ”pergerakan” terletak pada keberanian bergelut dengan kerumitan.

Alih-alih sekadar menghujat, kita harus bertransformasi menjadi ”auditor publik” berbasis data, mulai dari membedah anggaran pendidikan, transparansi pangan, hingga efektivitas pelayanan publik.

Inilah bentuk pergerakan yang memerlukan riset mendalam, yang membedakan argumen substansial dari sekadar kebisingan.

Tugas kita adalah membentuk energi yang meledak-ledak menjadi kekuatan penggerak yang terstruktur.

Sejarah tidak ditulis oleh mereka yang hanya bergerak di tempat dengan suara lantang, melainkan oleh mereka yang memiliki arah, visi konkret, dan keberanian menempuh jalan yang berliku.

Jika kita mengaku bagian dari masyarakat sipil, berhentilah menjadi pengikut tren dan mulailah menjadi spesialis.

Dalam tradisi akademik di negara mana pun, kita dituntut menguasai satu bidang hingga ke akar, prinsip yang sama seharusnya berlaku dalam aktivisme.

Pilihlah satu isu untuk didalami, kawal satu kasus hingga tuntas, dan pastikan keterlibatan kita didorong oleh tanggung jawab atas substansi.

Sebab, tanpa riset mendalam dan solusi fundamental, kita bukanlah pergerakan, kita hanyalah kerumunan yang akan bubar begitu arus berbalik.

Tag:  #gerakan #pergerakan

KOMENTAR