Pesantren Dikepung Kekerasan Seksual, KUPI: SOP dan Bu Nyai Jadi Solusi Utama
Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menyoroti maraknya kasus kekerasan seksual yang terus terungkap di lembaga pendidikan, mulai dari pesantren hingga perguruan tinggi.
Kondisi ini dinilai menjadi alarm serius karena terjadi di ruang yang semestinya menjadi benteng pembentukan moral dan karakter.
Ketua Umum KUPI, Badriyah Fayumi, mengatakan rentetan kasus yang muncul belakangan menunjukkan bahwa kekerasan masih menjadi persoalan besar di dunia pendidikan.
“Hari ini, setiap hari, hati kita dibuat pilu dan malu karena kekerasan seksual di lembaga pendidikan terbongkar satu demi satu, baik di pesantren maupun di perguruan tinggi,” kata Badriyah usai acara Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia di Masjid Cut Nyak Dien, Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Menurut dia, persoalan tersebut tidak berdiri sendiri. Selain kekerasan seksual, berbagai bentuk kekerasan lain juga muncul di lingkungan pendidikan, termasuk kekerasan yang melibatkan peserta didik maupun tenaga pendidik.
"Jadi, kekerasan memang luar biasa mengepung kita di semua lini, termasuk di lembaga yang mestinya menjadi benteng moral,” ujarnya.
Di tengah maraknya kasus tersebut, Badriyah mengungkap temuan penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) tahun 2025 yang menunjukkan adanya faktor penting dalam pencegahan kekerasan seksual di pesantren.
Penelitian itu menemukan pesantren yang memiliki peran aktif ulama perempuan atau bu nyai cenderung memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap ancaman kekerasan seksual.
“Penelitian PPIM menemukan fakta bahwa pesantren yang banyak atau ulama perempuannya berperan memiliki resiliensi atau ketahanan yang jauh lebih tinggi terhadap ancaman kekerasan seksual dibandingkan dengan yang bunyai atau ulama perempuannya kurang berperan,” tuturnya.
Badriyah menilai hasil penelitian tersebut membuktikan keterlibatan ulama perempuan memiliki kontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman.
“Artinya apa? Para ulama perempuan KUPI dan jaringan KUPI di ruang khidmat masing-masing telah berkontribusi secara nyata dalam pencegahan itu,” katanya.
Kiai Ashari dari pondok pesantren di Pati ditangkap karena kasus pencabulan terhadap puluhan santri [Hasil generate chatGPT dari bidik layar asli]Ia bahkan menyebut sejumlah kasus kekerasan seksual yang belakangan mencuat umumnya tidak terjadi di pesantren yang memiliki keterlibatan aktif jaringan ulama perempuan KUPI.
“Biasanya yang muncul itu tidak ada ulama perempuan KUPI-nya, nama-nama yang muncul itu. Tapi ini menjadi tantangan kita semua. Mudah-mudahan gerakan kita menjadi semakin masif dan bisa menjangkau semakin banyak lagi lembaga pendidikan,” lanjut Badriyah.
Untuk memperluas upaya pencegahan, KUPI mendorong pesantren yang telah memiliki standar operasional prosedur (SOP) penanganan dan pencegahan kekerasan seksual agar membagikan praktik baik tersebut kepada lembaga pendidikan lain.
“Saya mohon beberapa pesantren yang sudah punya SOP dan diterapkan, mungkin nanti bisa sharing sehingga bisa langsung di-copy paste di pesantren masing-masing,” ucapnya.
Menurut Badriyah, gerakan pencegahan harus diperkuat secara konkret dan menjangkau lebih banyak lembaga pendidikan agar kasus serupa tidak terus berulang.
“Gerakan pencegahan ini konkret dan masif, dikawal orang-orang yang memang lahir batin menginginkan Indonesia tanpa kekerasan,” tandasnya.
Tag: #pesantren #dikepung #kekerasan #seksual #kupi #nyai #jadi #solusi #utama