Warga Iran Marah, Sebenarnya Masih Perang atau Damai?
- Warga Teheran terbangun pada Senin (8/6/2026) pagi dengan perasaan cemas dan lelah karena prospek perang skala penuh yang akan kembali terjadi.
Ini menyusul serangan balasan antara Iran dan Israel yang menandai ancaman terbesar terhadap gencatan senjata yang rapuh.
"Kami tidak tahu apakah akan terjadi perang atau apakah kesepakatan damai akan bertahan lama," kata Maryam, seorang akuntan berusia 41 tahun di Lapangan Valiasr, pusat Kota Teheran, dikutip dari AFP, Senin.
Baca juga: Helikopter Apache AS Jatuh Dekat Selat Hormuz, Pertama sejak Perang Iran
Dia menggambarkan adanya rasa ketidakpastian dan kebingungan yang meluas setelah serangan Israel terhadap Teheran pada Minggu (7/6/2026) yang merupakan tanggapan terhadap serangan Iran terhadap Israel.
"Tidak ada yang jelas. Orang-orang tidak tahu harus berbuat apa, mereka marah. Pada akhirnya, perlu diputuskan, apakah kita sedang berperang atau berdamai?" ujarnya, sesaat sebelum Iran mengumumkan akan menghentikan serangannya terhadap Israel.
Menurut seorang pejabat militer Israel, sejak Minggu malam, Iran telah meluncurkan sekitar 30 rudal ke Israel sebagai tanggapan atas serangan mematikan di Beirut.
Baca juga: Trump Klaim Iran-Israel Kini Sepakat untuk Saling Diam Seminggu
Sementara itu, Israel mengeklaim telah menyerang dan menghancurkan sistem pertahanan Iran.
Peristiwa itu menandai peningkatan ketegangan paling tajam sejak gencatan pada 8 April, di tengah upaya yang tidak pasti untuk mengakhiri pertempuran secara permanen.
Di lapangan, terasa jelas rasa frustrasi saat warga Iran bergulat dengan kemungkinan terjadinya kembali pertempuran.
"Hari ini banyak sekali suara gaduh di Teheran, terutama di selatan. Tubuh saya gemetar selama satu jam," tutur Mahtab, seorang penata rambut berusia 62 tahun.
"Jika keadaan terus seperti ini, kami akan meninggalkan Teheran lagi," sambungnya.
Baca juga: Bukan Sekadar Balas Dendam, Serangan Rudal Iran ke Israel Ungkap Ambisi Teheran
Tak lagi punya harapan
Seorang insinyur kimia berusia 31 tahun dari Isfahan, Mahsa mengaku telah sepenuhnya berubah akibat perang di Iran.
"Saya telah berubah sepenuhnya dalam 100 hari ini, diri saya yang dulu, saya hanya membawa nama saya," jelas dia.
"Saya sudah tidak punya harapan lagi untuk apa pun, baik secara politik, ekonomi, bahkan bantuan internasional sekalipun," tambahnya.
Di Teheran, seorang seniman berusia 36 tahun bernama Maryam menuturkan, dia tidak bisa tidur setelah serangan semalam.
"Semuanya menuju kehancuran dan malapetaka. Aku berdoa semoga Tuhan datang menolong kita," ratapnya.
Baca juga: Trump Sesumbar Menang Lawan Iran, Harga Minyak Diklaim Bakal Anjlok
Kota seketika menjadi "mati"
Baliho tentang Selat Hormuz bertuliskan Selamanya di Tangan Iran dipasang di depan patung Arash Sang Pemanah di Lapangan Vanak, Teheran, saat difoto pada 25 Mei 2026.
Lalu lintas yang biasanya ramai di ibu kota menjadi sepi pada Senin pagi, karena sebagian orang berlindung di rumah mereka.
Kehidupan di ibu kota tampak berfluktuasi antara ketakutan dan keadaan normal.
Teras-teras kafe penuh sesak di bawah terik matahari, sementara di tempat lain skuter-skuter berbaris di pom bensin untuk mengisi bahan bakar, karena khawatir akan kekurangan pasokan.
Meskipun demikian, warga Iran tampaknya sepakat merasa kelelahan akibat pertempuran tersebut.
Baca juga: Isi Telepon Terungkap, Trump Kesulitan Kendalikan Netanyahu dalam Perang Iran
"Ekonomi lumpuh, masyarakat menderita stres pasca-trauma, moral berada di titik terendah," kata Farhad (35), seorang koki.
"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok," tambahnya.
Seorang teknisi IT, Amir (24) mencatat, dia semula takut akan perang.
"Tetapi kami orang Iran dikenal karena fleksibilitas kami dan kami beradaptasi. Hal yang sama akan terjadi di perang berikutnya, karena tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya," ujarnya.
Tag: #warga #iran #marah #sebenarnya #masih #perang #atau #damai