Bukan Sekadar Balas Dendam, Serangan Rudal Iran ke Israel Ungkap Ambisi Teheran
Warga Iran berfoto bersama replika rudal Kheibar dalam kampanye mendukung Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei di Teheran, 4 Juni 2026.(AFP)
12:36
9 Juni 2026

Bukan Sekadar Balas Dendam, Serangan Rudal Iran ke Israel Ungkap Ambisi Teheran

- Rentetan serangan rudal balistik yang dilancarkan Iran ke wilayah Israel dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar aksi balas dendam. 

Di balik hujan rudal itu tersimpan pesan yang lebih besar: Iran ingin menunjukkan dirinya sebagai kekuatan dominan di kawasan Timur Tengah, sekaligus menempatkan Washington dalam posisi bertahan.

Serangan ini juga menjadi sinyal bahwa Tehran masih memiliki kemampuan serangan yang signifikan, meski telah dihantam serangan udara yang intensif dari Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Baca juga: Trump Sesumbar Menang Lawan Iran, Harga Minyak Diklaim Bakal Anjlok

Para pemimpin di Teheran tampaknya berharap serangan rudal ini, ditambah keinginan Presiden AS Donald Trump untuk menjaga peluang kesepakatan damai, akan menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar mengurangi serangan terhadap Hizbullah di Lebanon.

Hizbullah sendiri merupakan kelompok milisi yang selama ini menjadi sekutu Iran, sebagaimana dilansir Wall Street Journal.

Situasi memanas setelah Israel melancarkan serangan udara ke Beirut di tengah gencatan senjata.

Iran merespons dengan serangkaian serangan rudal ke Israel yang tidak menimbulkan banyak kerusakan. 

Baca juga: Isi Telepon Terungkap, Trump Kesulitan Kendalikan Netanyahu dalam Perang Iran

Israel kemudian membalas dengan menghantam kilang petrokimia penting milik Iran serta sistem pertahanan udaranya. 

Ini merupakan jual beli serangan langsung pertama antara kedua rival bebuyutan tersebut sejak Trump mengumumkan penghentian kampanye pengeboman AS dan Israel terhadap Iran pada April lalu.

Pada Senin (8/6/2026), Iran menyatakan telah menghentikan serangannya, namun memperingatkan bahwa serangan bisa dilanjutkan dan meluas jika Israel terus menyerang, termasuk di Lebanon selatan. 

Israel pun mengakhiri serangannya terhadap Iran, tetapi menegaskan akan terus beroperasi melawan Hizbullah.

"Israel dan Iran harus segera berhenti 'menembak'," tulis Trump di media sosialnya pada Senin.

Baca juga: Nekat Serang Iran, Netanyahu Pertaruhkan Hubungan Dekat dengan Trump

Iran makin percaya diri

Di satu sisi, Iran semakin percaya diri setelah berhasil bertahan dari lebih dari sebulan serangan udara gabungan AS dan Israel. 

Mereka bahkan berhasil membangun sejenis daya gentar dengan membuktikan kemampuannya menimbulkan kerugian bagi ekonomi global melalui blokade Selat Hormuz dan serangan terhadap negara-negara tetangga di Teluk yang relatif rentan.

Di satu sisi, Gedung Putih enggan untuk kembali menyalakan perang, meski Trump berulang kali ditantang dalam gencatan senjata dua bulannya.

Hal tersebut turut mendongkrak keyakinan Tehran bahwa mereka bisa bersikap lebih tegas tanpa memicu serangan balasan yang merusak.

Baca juga: Strategi Netanyahu Berantakan, Perang Iran Justru Jadi Bumerang bagi Israel

"Keputusan Iran menunjukkan mereka percaya memiliki posisi lebih kuat, dengan Trump yang enggan memperbarui pertempuran," kata Ofer Guterman, peneliti senior di Institute for National Security Studies yang berbasis di Tel Aviv. 

"Hal itu memungkinkan mereka memproyeksikan kekuatan, dan bukan dengan cara yang sepele," tambahnya.

Namun Iran tetap dalam posisi rentan. 

Ekonominya porak-poranda, tidak memiliki kendali atas wilayah udaranya sendiri, dan kemampuannya untuk menimbulkan kerusakan strategis yang bisa menghentikan serangan Israel yang bertekad tetap terbatas.

Baca juga: Netanyahu Ditelepon Trump, Israel Langsung Setop Serangan ke Iran

Ribuan rudal masih tersimpan

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Jenderal Mohammad Baqeri dan Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Iran, Amir Ali Hajizadeh menunjukkan pangkalan militer yang dikenal sebagai kota rudal Iran.IRNA Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Jenderal Mohammad Baqeri dan Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Iran, Amir Ali Hajizadeh menunjukkan pangkalan militer yang dikenal sebagai kota rudal Iran.

Meski begitu, kesediaan rezim untuk terus bereskalasi berhasil membalikkan sebagian keuntungan yang telah diraih AS dan Israel dalam perang 12 hari pada Juni 2025.

Iran juga telah membuktikan dalam serangkaian bentrokan beberapa pekan terakhir bahwa mereka masih memiliki lebih dari cukup rudal untuk terus bertarung. 

Badan-badan intelijen AS pada April menilai bahwa Iran keluar dari fase awal perang 40 hari dengan ribuan rudal balistik yang masih utuh.

Para petinggi Teheran kini dengan percaya diri memamerkan kemampuan mereka menggunakan kekuatan militer untuk mengancam kepentingan AS dan Israel, sekaligus membentuk jalur diplomatik.

"Bangsa Iran telah membuktikan dalam perjuangannya melawan AS dan rezim Zionis bahwa era ancaman tanpa konsekuensi terhadap Iran telah berakhir," tegas Mohammad-Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran, pekan lalu.

Baca juga: Usai Hentikan Perang dengan Israel, Iran Kembali ke Meja Perundingan

Tag:  #bukan #sekadar #balas #dendam #serangan #rudal #iran #israel #ungkap #ambisi #teheran

KOMENTAR