Nestapa Idul Adha di Gaza, Tak Ada Hewan Kurban, Harga Domba Capai Rp 124 Juta
Seorang pria berjalan di tengah reruntuhan bangunan yang hancur diserang Israel di permukiman Zahra, Nuseirat, tengah Jalur Gaza, pada 6 Februari 2026.(AFP/EYAD BABA)
16:06
27 Mei 2026

Nestapa Idul Adha di Gaza, Tak Ada Hewan Kurban, Harga Domba Capai Rp 124 Juta

- Mazen al-Jerjawi biasanya menghabiskan waktu menjelang Idul Adha untuk menjual ratusan domba dan kambing yang dipeliharanya.

Namun, pria yang dulunya dikenal sebagai salah satu peternak terkemuka di Gaza itu kini hanya menjalankan sebuah restoran kecil, mengandalkan daging beku yang diizinkan masuk ke Gaza di bawah pembatasan ketat Israel.

"Pada waktu seperti ini setiap tahunnya, saya biasanya menjual sekitar 200 ekor domba dan sapi. Sekarang, saya tidak punya satu pun," kata Jerjawi, dikutip dari Middle East Eye, Senin (24/5/2026).

"Tidak ada hewan hidup yang diizinkan masuk ke Gaza sama sekali. Israel memperlakukan penduduk Gaza seolah-olah mereka tinggal di sini sementara dan yang diperbolehkan hanyalah menjaga agar segala sesuatunya tetap berjalan pada tingkat minimal," sambungnya.

Baca juga: Israel Klaim Bunuh Pemimpin Baru Brigade Al Qassam, Hanya Menjabat Sepekan

Sektor peternakan Gaza musnah

Sebelum perang, Gaza mengimpor antara 40.000 hingga 60.000 domba dan anak sapi setiap tahun menjelang Idul Adha untuk memenuhi permintaan kurban.

Namun, untuk tahun ketiga berturut-turut, warga Palestina di Gaza tidak akan dapat merayakan salah satu tradisi utama hari raya tersebut karena genosida dan blokade Israel terus menghancurkan wilayah tersebut.

Kamar Dagang dan Industri Gaza mencatat, lebih dari 90 persen sektor peternakan telah hancur total akibat serangan udara, kerusakan infrastruktur, serta kelangkaan pakan.

Akibatnya, harga melonjak drastis. Sebelum perang, seekor domba biasanya berharga antara 500-600 dollar AS (Rp 8,9 juta-Rp 10,6 juta). 

Baca juga: Aktivis GSF Dicegat dan Diculik, Perancis Mau Gugat Israel

Saat ini, beberapa ekor domba yang tersisa dapat dijual hingga 7.000 dollar AS atau sekitar Rp 124 juta.

"Saya berhenti menjual domba karena ternak yang tersisa di Gaza menjadi sangat langka," ujarnya.

Menurutnya, warga Palestina di luar negeri masih menghubunginya, berharap dapat membeli hewan kurban untuk Idul Adha atas nama kerabat mereka di Gaza, tetapi dia sering mendesak mereka untuk mempertimbangkan kembali.

"Saya memberi tahu mereka bahwa lebih baik membeli 50 kilogram daging beku daripada menghabiskan semua uang itu untuk seekor domba," jelas dia. 

"Uang 20.000 shekel (Rp 124 juta) untuk seekor domba bahkan bisa membantu membiayai pernikahan sepasang suami istri," lanjutnya.

Baca juga: Pengakuan Aktivis Flotilla Gaza yang Ditangkap Israel, Ada yang sampai Patah Tulang

80 persen domba di Gaza mati

Ilustrasi Domba TexelShutterstock Ilustrasi Domba Texel

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), hingga November lalu, setidaknya 80 persen domba dan 70 persen kambing di Gaza telah mati selama perang.

Gaza dulunya merupakan salah satu sumber daging segar dan produk susu yang dapat diandalkan. Tetapi, sektor peternakan kini hampir musnah, memperburuk kerawanan pangan bagi sekitar dua juta penduduk.

Kerusakan telah meluas jauh melampaui hewan-hewan itu sendiri. Peternakan, lumbung, gudang pakan, dan klinik hewan telah berulang kali rusak atau hancur, sementara kekurangan pakan dan pasokan penting telah mendorong sektor ini menuju kehancuran.

"Kami melakukan segala yang kami bisa untuk menjaga agar hewan-hewan itu tetap hidup, bahkan memberi mereka makan pasta dan apa pun yang bisa kami temukan," katanya.

Baca juga: Aktivis Flotilla Gaza Dipaksa Israel Berlutut dengan Tangan Diikat, Menlu RI Buka Suara

"Namun, banyak domba saya mati setelah rumah di dekatnya dibom. Hal ini juga dialami oleh sebagian besar peternak; kami kehilangan ternak kami karena serangan tersebut," tambahnya.

Dia menjelaskan, pengungsian paksa menyebabkan keluarga yang melarikan diri dari pengeboman tidak mampu merawat hewan ternak mereka dan sering kali mereka terpaksa menyembelih atau menjualnya dengan harga berapa pun.

"Dengan setiap perintah evakuasi, jumlah ternak di Gaza menurun drastis. Ketika saya mengungsi, saya harus menyembelih hewan ternak saya atau menjualnya dengan cepat agar tidak tertinggal di bawah bombardir," tuturnya. 

"Semua hewan ternak yang pernah saya miliki akhirnya dijual dengan cara ini. Saya menjualnya dengan harga berapa pun yang bisa saya dapatkan hanya untuk membeli tepung dan kebutuhan pokok, yang harganya sudah sangat mahal," tambahnya.

Baca juga: 10 Kapal Global Sumud Flotilla Lolos dan Berlayar ke Gaza, 41 Ditahan Israel

Tidak ada Idul Adha

Ilustrasi kambing. Shutterstock/untungsubagyo Ilustrasi kambing.

Menurut Kementerian Pertanian Gaza, jumlah domba dan kambing di wilayah tersebut telah menurun dari sekitar 60.000 ekor sebelum perang menjadi hanya 3.000 ekor saat ini. Anak sapi dan sapi dewasa hampir sepenuhnya menghilang.

"Sebagian besar domba dan kambing yang masih hidup berada di tangan para penggembala nomaden dan tidak tersedia untuk dijual selama musim Idul Adha," kata Juru Bicara Kementerian Pertanian, Raafat Assaliya.

Dia menambahkan, krisis peternakan diperparah oleh ketidakmampuan untuk mengoperasikan sumur air, sehingga sektor tersebut tidak memiliki cara nyata untuk pulih dan prospek kebangkitannya sangat kecil.

"Hal ini telah mencegah ribuan keluarga untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban Idul Adha, dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya," ungkapnya.

Baca juga: Kemlu RI Buka Suara soal Penculikan 9 WNI oleh Tentara Israel Saat Menuju Gaza

Bagi banyak warga Palestina di Gaza, hari raya itu sendiri hampir tidak dapat dikenali lagi.

"Rasanya seperti kita sudah tiga tahun tidak merayakan Idul Adha," kata Muhammed Aburiyala, seorang guru sekolah dari Kota Gaza yang biasa melakukan penyembelihan hewan kurban setiap tahunnya.

"Ritual itu sendiri dan perasaan berbagi dengan orang lain, telah lenyap. Tanpa kurban dan kemampuan untuk berbagi, tidak ada Idul Adha," tambahnya.

Dia mengatakan, hilangnya hewan ternak hanyalah sebagian dari krisis, karena banyak keluarga sekarang berjuang untuk mendapatkan makanan pokok.

Baca juga: Militer Israel Kembali Cegat Armada Global Sumud Flotilla yang Angkut 500 Aktivis ke Gaza

"Banyak yang hampir tidak mampu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan beberapa bahkan belum makan daging beku selama lebih dari setahun," jelas dia. 

Menurut penilaian Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) yang didukung PBB, sekitar 1,6 juta orang atau sekitar 77 persen dari populasi Gaza, menghadapi kerawanan pangan akut pada akhir November 2025.

Krisis ini diperparah oleh pembatasan Israel yang ketat terhadap bantuan kemanusiaan dan barang-barang komersial, di samping penutupan perbatasan berulang yang terus mengganggu rantai pasokan. 

Akibatnya, bahan makanan pokok sering kali menghilang dari pasar, sementara harga berfluktuasi tajam tergantung pada apa yang diizinkan masuk ke wilayah tersebut.

Tag:  #nestapa #idul #adha #gaza #hewan #kurban #harga #domba #capai #juta

KOMENTAR