Negosiasi Mandek Lagi, AS dan Iran Masih Berselisih soal Ini
Upaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran mulai melambat pada Senin (25/5/2026) setelah Amerika Serikat dan Iran berselisih terkait program nuklir Teheran serta pencabutan sanksi ekonomi.
Para mediator menyebut kedua pihak kini sama-sama mempertahankan posisi masing-masing dalam pembahasan draf kesepakatan.
Perlambatan negosiasi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump dan pejabat pemerintahannya optimis mencapai kesepakatan damai. Namun, Trump kemudian menegaskan dirinya tidak akan terburu-buru menyetujui perjanjian yang dianggap belum tepat.
Baca juga: Rencana Netanyahu Bisa Berantakan jika AS Damai dengan Iran, Ini Sebabnya
“Kesepakatan dengan Iran akan menjadi kesepakatan yang hebat dan bermakna, atau tidak akan ada kesepakatan sama sekali,” kata Trump di media sosial pada Senin pagi, sebagaimana dikutip Wall Street Journal.
AS dan Iran saling curiga
Kedua pihak saat ini tengah menyusun nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan pertempuran dan melonggarkan pembatasan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz selama 30 hari.
Kesepakatan itu juga akan membuka jalan bagi pembicaraan tahap kedua mengenai program nuklir Iran.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan, pencabutan sanksi akan bergantung pada perkembangan pembicaraan tersebut.
Menurut para mediator, Washington meminta komitmen yang lebih jelas dari Iran terkait program nuklirnya sejak awal.
Sebaliknya, negosiator Iran mendesak AS memberikan rincian konkret mengenai pencabutan sanksi dan pembekuan aset.
Pejabat AS khawatir Iran akan memperlambat pembahasan isu nuklir setelah memperoleh sebagian keringanan ekonomi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan, kemajuan telah dicapai dalam banyak isu, tetapi kesepakatan belum akan tercapai dalam waktu dekat.
Negosiator Iran terbang ke Qatar
Media pemerintah Iran melaporkan dua negosiator utama negara itu, Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, terbang ke Qatar untuk mencoba menyelesaikan sejumlah poin yang masih menjadi hambatan.
Tekanan untuk mencapai kesepakatan disebut datang dari kedua pihak. Trump ingin segera mengakhiri perang yang tidak populer di dalam negeri dan telah mendorong kenaikan harga bensin di AS.
Sementara itu, Iran membutuhkan keringanan ekonomi setelah perang dan blokade AS memperparah krisis ekonomi yang sudah memburuk sebelumnya.
Negara-negara Teluk secara umum mendukung upaya damai tersebut, meski mereka khawatir AS bisa menarik diri sebelum persoalan keamanan akibat serangan Iran di kawasan benar-benar diselesaikan.
Baca juga: Bukan Tarif Tol, Iran Sebut Pungutan di Selat Hormuz untuk Biaya Keamanan
Selat Hormuz jadi sorotan
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.
Para mediator mengatakan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mendesak agar nota kesepahaman memuat klausul jelas yang menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Iran sejauh ini setuju membebaskan biaya bagi kapal yang melintas di jalur strategis tersebut selama proses perundingan berlangsung.
Namun, Baghaei menegaskan, Iran tetap memiliki peran dalam pengelolaan Selat Hormuz dan membahas kemungkinan penerapan biaya transit serta layanan keamanan.
Israel juga disebut khawatir AS akan mencapai kesepakatan yang mengurangi tekanan ekonomi dan militer terhadap Teheran, tetapi justru membatasi ruang gerak Israel, terutama dalam menghadapi kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Seseorang yang mengetahui persoalan itu mengatakan, Israel terus menekan kontak-kontaknya di AS dan menggunakan media untuk mendorong terciptanya kesepakatan yang lebih keras terhadap Iran.
Ketidakpastian di Iran dan AS
Para mediator juga menyoroti ketidakjelasan mengenai siapa yang sebenarnya mengambil keputusan di Iran. Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei belum terlihat atau terdengar lagi sejak ditunjuk pada Maret lalu.
Menurut para mediator, mereka masih berupaya mengetahui pandangan Khamenei terkait berbagai isu dalam draf perjanjian.
Di sisi lain, Iran juga menilai pemerintah AS mengalami perpecahan internal.
“Karena pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan di Amerika dilanda semacam ketidakstabilan institusional, kami menyaksikan perubahan posisi yang sering terjadi,” kata Baghaei seperti dikutip media pemerintah Iran.
Trump ingin iran gabung Abraham Accords
Trump kemudian menyatakan, dirinya ingin Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turkiye, Mesir, dan Yordania bergabung dalam Abraham Accords, kesepakatan diplomatik yang pada masa jabatan pertamanya membuat Uni Emirat Arab dan Bahrain menjalin hubungan dengan Israel.
Trump mengatakan, dirinya juga akan merasa terhormat apabila Iran ikut bergabung setelah menandatangani kesepakatan damai yang saat ini sedang dibahas.
“Ini akan menjadi kesepakatan paling penting yang pernah ditandatangani negara-negara besar namun selalu berkonflik,” kata Trump di media sosial.
“Tidak ada yang di masa lalu atau masa depan yang akan melampauinya.”
Mesir dan Yordania sebenarnya sudah memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Sementara Arab Saudi sebelumnya hampir bergabung dengan Abraham Accords sebelum perang Gaza pecah, tetapi kini menuntut Israel lebih dulu berkomitmen pada pembentukan negara Palestina.
Hubungan Turkiye dan Qatar dengan Israel juga disebut semakin tegang dalam beberapa waktu terakhir.
Trump mengakui beberapa negara memiliki alasan untuk tidak bergabung, tetapi ia tetap mendesak negara lain, terutama Arab Saudi dan Qatar, untuk ikut serta.
“Jika mereka tidak melakukannya, mereka seharusnya tidak menjadi bagian dari kesepakatan ini karena itu menunjukkan niat yang buruk,” ujar Trump.
Baca juga: Trump Kejar Damai dengan Iran, Tanda Tak Percaya Netanyahu Lagi?
Tag: #negosiasi #mandek #lagi #iran #masih #berselisih #soal