AS-Iran Saling Tuduh Langgar Gencatan Senjata, Negosiasi Damai Terancam Gagal
Seorang pria berdiri membawa bendera Iran di persimpangan Valiasr Square di Teheran, Senin (6/4/2026). Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Respons Negara-negara soal Gencatan Senjata Iran-AS: Sambut Positif dan Desak Perdamaian Abadi(AFP/ATTA KENARE)
13:06
10 April 2026

AS-Iran Saling Tuduh Langgar Gencatan Senjata, Negosiasi Damai Terancam Gagal

Amerika Serikat (AS) dan Iran saling menuding pelanggaran gencatan senjata setelah kedua negara sepakat untuk menghentikan sementara peperangan yang terjadi sejak akhir Februari.

Iran menuduh AS mencederai perjanjian dengan membiarkan Israel menyerang Lebanon, sementara Teheran juga menghadapi tuduhan serupa karena dilaporkan mengenakan biaya pada kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.

Di tengah situasi ini, upaya diplomasi terus berjalan dengan rencana perundingan lanjutan di Pakistan pada Jumat.

Baca juga: Jelang Negosiasi di Pakistan, Trump Yakin Iran Mau Penuhi Tuntutan AS

Serangan Israel di Lebanon

Kondisi bangunan yang hancur diserang Israel di Kota Tirus, Lebanon, Sabtu (4/4/2026). Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Rabu (8/4/2026) menyampaikan bahwa gencatan senjata Iran-Amerika Serikat juga mencakup di Lebanon, yang menjadi sasaran serangan Israel.AFP/KAWNAT HAJU Kondisi bangunan yang hancur diserang Israel di Kota Tirus, Lebanon, Sabtu (4/4/2026). Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Rabu (8/4/2026) menyampaikan bahwa gencatan senjata Iran-Amerika Serikat juga mencakup di Lebanon, yang menjadi sasaran serangan Israel.

Dilansir BBC, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menegaskan bahwa serangan udara Israel di Lebanon pada Rabu (8/4/2026) merupakan pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Menurutnya, Lebanon termasuk dalam cakupan kesepakatan dua minggu itu, meskipun hal ini dibantah oleh AS dan Israel.

Khatibzadeh juga mendesak Washington untuk menentukan sikap. “AS harus memilih antara perang dan gencatan senjata,” ujarnya.

Serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 303 orang, yang disebut menargetkan pusat komando dan situs militer Hizbullah.

Sementara itu, kelompok Hizbullah menyatakan tetap mematuhi gencatan senjata, namun mengaku meluncurkan serangan balasan karena “pelanggaran oleh Israel.”

Perundingan Israel-Lebanon

Menanggapi hal tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah menginstruksikan kabinetnya untuk membuka perundingan langsung dengan Lebanon secepatnya.

Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan, “Satu-satunya solusi atas situasi yang dialami Lebanon adalah mencapai gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, diikuti dengan negosiasi langsung di antara mereka.”

Kantor Netanyahu menyebut bahwa perundingan akan berfokus pada pelucutan senjata Hizbullah serta pembentukan hubungan damai antara kedua negara.

Namun di lapangan, militer Israel kembali mengeluarkan perintah evakuasi baru bagi warga di selatan Beirut, menandakan situasi masih jauh dari stabil.

Baca juga: Trump Geram Iran Pungut Tarif Tol di Selat Hormuz, Sebut Tak Sesuai Kesepakatan

Selat Hormuz jadi “senjata” Iran

Selain konflik di Lebanon, ketegangan juga meningkat terkait akses kapal di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menuduh Iran melanggar kesepakatan dengan tidak membuka jalur minyak secara normal.

Ia juga memperingatkan Iran agar tidak mengenakan biaya pada kapal yang melintas.

“Ada laporan bahwa Iran mengenakan biaya pada tanker yang melewati Selat Hormuz — mereka sebaiknya tidak melakukannya, dan jika iya, mereka harus segera menghentikannya!” tulis Trump di Truth Social.

Data pelayaran menunjukkan hanya sekitar 10 kapal yang melintas sejak gencatan senjata berlaku, jauh dari kondisi normal di jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia.

Iran sendiri membantah tuduhan tersebut. Khatibzadeh menegaskan, negaranya akan mematuhi hukum internasional dan menginginkan Selat Hormuz tetap “damai”.

Ia menambahkan bahwa Iran siap menjamin keamanan pelayaran jika “agresi AS dihentikan”.

Perundingan di Pakistan terancam

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa konflik yang terus berlangsung di Lebanon dapat merusak rencana perundingan antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan.

Khatibzadeh mengaku skeptis terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan permanen dengan Washington. Ia menuding AS menggunakan negosiasi sebagai kedok untuk aksi militer.

“Kami akan memantau dengan cermat apa yang terjadi mulai sekarang,” ujarnya terkait kelanjutan perundingan.

Meski demikian, ia tetap menyatakan harapan. “Sebagai seorang diplomat, saya sangat berharap pada akhirnya kita bisa mencapai pemahaman dan menyelesaikan ini demi kepentingan nasional dan regional.”

Di sisi lain, Trump tetap menunjukkan optimisme bahwa kesepakatan damai bisa tercapai, meski memperingatkan konsekuensi berat jika Iran menolak.

Baca juga: Netanyahu Akan Diadili Pekan Ini, Sempat Tertunda Imbas Perang Iran

Tag:  #iran #saling #tuduh #langgar #gencatan #senjata #negosiasi #damai #terancam #gagal

KOMENTAR