Pakar Ingatkan Pentingnya Cegah Paparan BPA di Galon Guna Ulang sejak Perencanaan Kehamilan
Perencanaan kehamilan perlu dilakukan secara matang, termasuk dengan memperhatikan paparan zat kimia yang berpotensi mengganggu hormon.
Salah satu zat yang perlu menjadi perhatian adalah Bisphenol A (BPA) yang bisa berasal dari kemasan plastik, seperti galon guna ulang serta kemasan makanan dan minuman yang digunakan berulang.
Pakar obstetri dan ginekologi Prof Dr dr Budi Wiweko, MD, SpOG, mengatakan bahwa pencegahan risiko kesehatan anak, termasuk pubertas dini, sebaiknya dimulai sejak sebelum kehamilan.
Hal tersebut disampaikan Prof Budi yang akrab disapa Prof Iko, pada siniar bertajuk “Akibat Puber Terlalu Cepat” yang ditayangkan di kanal Youtube Raditya Dika.
“Perencanaan kehamilan itu harus direncanakan. Enggak zamannya lagi hamil itu kebetulan, harus direncanakan,” katanya.
Paparan zat pengganggu hormon perlu dihindari
Prof Iko menjelaskan, paparan zat pengganggu hormon perlu dihindari sebelum dan selama kehamilan, terutama pada fase awal.
BPA, katanya, menjadi salah satu zat yang perlu mendapat perhatian pada masa tersebut.
“Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu,” ujarnya.
Baca juga: Risiko BPA, KKI Wanti-wanti Galon Guna Ulang Ada Masa Pakainya
Menurut Prof Iko, isu paparan BPA dari galon tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan konsumsi anak setelah lahir, tetapi juga kesiapan keluarga sejak sebelum anak lahir.
Oleh karena itu, keluarga perlu memperhatikan sumber paparan zat kimia dari kemasan makanan dan minuman yang digunakan sehari-hari.
Di Indonesia, BPA dalam kemasan pangan juga telah diatur melalui batas migrasi yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.
BPOM RI menetapkan batas migrasi maksimal BPA sebesar 0,6 bagian per juta atau mg/kg dalam kemasan pangan.
Persiapan perlu dimulai sebelum hamil
Pada kesempatan tersebut, Prof Iko juga menjelaskan program Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) bernama “Selamatkan Perempuan Indonesia”.
Ia mengatakan, kesehatan perempuan perlu dibangun dari hulu hingga hilir, termasuk sejak masa perencanaan kehamilan.
“Selamatkan perempuan Indonesia mulai dari hulu sampai ke hilir, mulai dari perencanaan kehamilan,” ucapnya.
Baca juga: Masih Beredar Luas, Galon Guna Ulang Tua Bisa Lepaskan Zat Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan
Ia menambahkan, persiapan kesehatan anak tidak cukup dimulai ketika bayi lahir.
“Seribu hari pertama kehidupan saya kurang setuju, harusnya mulai seratus hari sebelum hamil itu sudah disiapkan, termasuk (menghindari) BPA dan endocrine disrupting chemical atau zat kimia pengganggu hormon lainnya,” katanya.
Dengan persiapan sejak sebelum hamil, paparan zat kimia yang berpotensi mengganggu hormon diharapkan dapat lebih diantisipasi sejak awal.
Berkaitan dengan risiko kesehatan reproduksi anak
Prof Iko mengatakan, paparan zat pengganggu hormon pada masa awal kehamilan perlu menjadi perhatian karena berkaitan dengan risiko kesehatan reproduksi anak di kemudian hari.
Ia menjelaskan, ibu hamil yang terpapar zat pengganggu hormon pada tiga bulan pertama perlu mewaspadai sejumlah gangguan kesehatan yang dapat muncul pada anak.
Beberapa masalah yang disebutkan antara lain kista endometriosis, kista coklat, polycystic ovary syndrome (PCOS), hingga kanker.
Baca juga: Sebanyak 40 Persen Galon Guna Ulang Tua Masih Dipakai, KKI: Risiko BPA Mengintai Setiap Hari
Dalam konteks pubertas dini, pencegahan juga dinilai tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga kesiapan orangtua dalam memahami kebutuhan dasar anak.
Psikolog Ratih Zulhaqqi mengatakan, pubertas dini perlu dilihat sebagai persoalan yang berkaitan dengan fase sebelum seseorang menjadi orangtua.
“Pubertas dini sebenarnya bukan permasalahan pada saat mereka pubertas aja, justru dari sebelum-sebelumnya, ketika mereka mau jadi orangtua,” ujarnya.
Pola asuh dan konsumsi anak juga perlu diperhatikan
Ratih mengatakan, orangtua perlu memahami kebutuhan dasar anak, bukan hanya urusan pendidikan atau sekolah.
Ia turut menekankan pentingnya memperhatikan jam tidur, jam makan, serta makanan dan minuman yang dikonsumsi anak.
“Jam tidur, jam makan, dan apa yang dikonsumsi,” kata Ratih.
Baca juga: Bahaya BPA: Pria Jadi Lebih Feminin, Perempuan Lebih Maskulin
Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari paparan zat seperti BPA.
Oleh karena itu, imbuhnya, pencegahan pubertas dini dinilai perlu ditempatkan sebagai upaya keluarga yang berkelanjutan.
Upaya tersebut dapat dimulai sejak rencana kehamilan, masa kehamilan, hingga pola asuh anak setelah lahir.
Orangtua dapat memperhatikan berbagai sumber paparan dari kemasan makanan dan minuman, termasuk galon guna ulang.
Tag: #pakar #ingatkan #pentingnya #cegah #paparan #galon #guna #ulang #sejak #perencanaan #kehamilan