Batam Disiapkan Jadi Motor Industri Perawatan Pesawat
Ketua Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) Andi Fahrurrozi saat ditemui pada kegiatan Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 yang berlangsung di Batam, Selasa (9/6/2026) siang.(KOMPAS.COM/PARTAHI FERNANDO WILBERT SIRAIT )
18:52
9 Juni 2026

Batam Disiapkan Jadi Motor Industri Perawatan Pesawat

 Pemerintah Indonesia membidik posisi sebagai pusat layanan maintenance, repair, and overhaul (MRO) di kawasan Asia.

MRO merupakan layanan perawatan, perbaikan, dan pemeriksaan pesawat.

Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan daya saing sektor penerbangan nasional.

Pemerintah menunjuk Kota Batam, Kepulauan Riau, sebagai salah satu motor pengembangan industri MRO.

Batam dinilai memiliki posisi strategis karena berada di jalur perdagangan internasional.

Baca juga: Garuda Daya Pratama Kirim Engineer ke Proyek MRO Korea

Sekretaris Deputi Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur Rustam Efendi mengatakan, pengembangan sektor penerbangan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan bandara atau penambahan armada pesawat.

Menurut Rustam, industri MRO menjadi faktor penting dalam menentukan efisiensi dan keberlanjutan bisnis penerbangan nasional.

"Kalau ingin sektor penerbangan kita kompetitif, tidak cukup hanya bicara avtur atau kapasitas bandara. MRO menjadi salah satu komponen penting yang menentukan efisiensi dan keberlanjutan industri penerbangan," jelasnya dalam Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 di Batam, Selasa (9/6/2026).

Rustam mengatakan, pemerintah mulai mengubah paradigma pembangunan infrastruktur.

Pembangunan tidak lagi hanya berfokus pada fasilitas fisik.

Pemerintah juga mendorong konektivitas yang terintegrasi antara bandara, pelabuhan, kawasan industri, dan pusat logistik.

Baca juga: Layanan MRO PLN Jadi Magnet Proyek Global, Ini Daftarnya

Selain Batam, pemerintah memprioritaskan sejumlah daerah sebagai simpul konektivitas nasional.

Daerah tersebut meliputi Jakarta, Surabaya, dan Makassar.

"Jadi yang dibangun bukan hanya bandara, tetapi juga sistem pendukung yang terintegrasi dengan kawasan industri dan logistik," ujarnya.

Melalui penguatan konektivitas, pemerintah ingin mempercepat distribusi suku cadang dan komponen pesawat.

Langkah ini juga ditujukan untuk memangkas waktu tunggu logistik dan meningkatkan efisiensi operasional industri MRO dalam negeri.

Selain infrastruktur, pemerintah menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia juga penting untuk mendukung pertumbuhan industri penerbangan nasional.

Rustam mengatakan, Indonesia masih membutuhkan lebih banyak teknisi dan insinyur penerbangan.

Kebutuhan itu meningkat seiring pertumbuhan armada dan naiknya permintaan layanan perawatan pesawat.

"Indonesia masih membutuhkan lebih banyak teknisi dan insinyur penerbangan untuk mengimbangi pertumbuhan armada dan kebutuhan layanan perawatan pesawat yang terus meningkat," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) Andi Fahrurrozi menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama industri MRO di Asia.

Namun, industri MRO nasional masih menghadapi sejumlah tantangan.

Menurut Andi, industri MRO nasional saat ini sudah menguasai sekitar 90 persen pekerjaan perawatan struktur pesawat atau airframe.

Tantangan terbesar masih berada pada perawatan komponen dan mesin pesawat.

Dua sektor tersebut membutuhkan investasi besar.

"Kendala kita ada di komponen dan engine. Untuk engine, sekitar 70 persen masih dikerjakan di luar negeri," ujarnya.

Keterbatasan kapasitas tersebut membuat hampir separuh pasar perawatan pesawat Indonesia masih dinikmati perusahaan luar negeri.

IAMSA mencatat sekitar 46 persen pasar MRO nasional masih mengalir ke luar negeri.

Pasar tersebut terutama berasal dari pekerjaan perawatan mesin dan komponen pesawat.

Karena itu, industri berharap pemerintah segera menyelesaikan sejumlah kebijakan strategis untuk meningkatkan daya saing MRO nasional.

Salah satunya penyederhanaan regulasi impor suku cadang pesawat.

Andi mengatakan, pembahasan mengenai fasilitas dan penyederhanaan aturan impor komponen penerbangan telah berlangsung dalam dua tahun terakhir.

Saat ini, pembahasan tersebut menunggu penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

"Keberhasilan bergantung pada kekuatan ekosistem. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, regulator, maskapai, penyedia MRO, OEM, pemasok, institusi pendidikan, dan investor," jelasnya.

Tag:  #batam #disiapkan #jadi #motor #industri #perawatan #pesawat

KOMENTAR