Lulusan Baru Sulit Dapat Kerja, Masa Tunggu Capai 20 Bulan
Sejumlah pencari kerja mengantre di salah satu stan perusahaan pada Ciamis Job Fair 2026 di Islamic Centre Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (4/6/2026). Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Ciamis bekerja sama dengan 20 perusahaan BUMN, BUMD, dan swasta membuka 5.319 lowongan pekerjaan guna memperluas kesempatan kerja serta menekan angka pengangguran. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/tom.(ADENG BUSTOMI)
17:20
9 Juni 2026

Lulusan Baru Sulit Dapat Kerja, Masa Tunggu Capai 20 Bulan

Kondisi pasar kerja Indonesia menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) terus menurun dan jumlah penduduk bekerja terus bertambah.

Namun, di balik tren positif tersebut, kelompok usia muda masih menghadapi tantangan besar untuk memperoleh pekerjaan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan TPT Indonesia pada Februari 2026 mencapai 4,68 persen, turun dibandingkan 4,76 persen pada Februari 2025.

Baca juga: Jaring Pengaman Pekerja Dimulai dari Kepesertaan Jaminan Sosial

Jumlah penduduk bekerja juga meningkat menjadi 147,67 juta orang atau bertambah sekitar 1,9 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, kelompok usia muda masih menjadi penyumbang pengangguran terbesar. BPS mencatat TPT kelompok usia 15 sampai 24 tahun mencapai 16,36 persen pada Februari 2026.

Artinya, sekitar satu dari enam angkatan kerja muda masih belum mendapatkan pekerjaan.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 25 sampai 59 tahun yang memiliki tingkat pengangguran 2,93 persen.

Baca juga: Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung

Tingginya pengangguran di kalangan muda itu sejalan dengan temuan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengenai lamanya masa transisi dari pendidikan menuju dunia kerja.

Kajian LPEM FEB UI yang menggunakan data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan rata-rata durasi pencarian kerja setelah menyelesaikan pendidikan terakhir mencapai 19,8 bulan atau hampir 20 bulan.

Dengan kata lain, banyak lulusan baru membutuhkan waktu sekitar satu tahun delapan bulan untuk memperoleh pekerjaan pertama mereka.

Ilustrasi pekerjaan. Freepik/Pressfoto Ilustrasi pekerjaan.

LPEM FEB UI menyebut durasi pencarian kerja merupakan indikator penting untuk melihat efisiensi pasar tenaga kerja karena mencerminkan proses pencocokan antara pencari kerja dan lowongan yang tersedia.

Baca juga: Pengangguran Sarjana Masih Tinggi, Dunia Kerja dan Kampus Tak Sinkron

Semakin lama seseorang membutuhkan waktu untuk memperoleh pekerjaan, semakin besar indikasi adanya hambatan dalam proses tersebut.

Dalam konteks Indonesia, proses transisi kerja masih dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi regional, kualitas modal manusia, hingga akses terhadap informasi dan peluang kerja.

Selain itu, perkembangan teknologi, transformasi ekonomi, dan meningkatnya kebutuhan keterampilan baru turut membentuk dinamika masuknya tenaga kerja muda ke pasar kerja.

Mayoritas bekerja setelah menyelesaikan pendidikan

Kajian LPEM FEB UI menunjukkan jalur utama masuk ke pasar kerja di Indonesia masih terjadi setelah seseorang menyelesaikan pendidikan formal.

Baca juga: Krisis Lapangan Kerja di Era Kecerdasan Buatan

Sebanyak 71 persen pekerja memperoleh pekerjaan setelah lulus pendidikan terakhir. Sementara 16 persen telah bekerja sebelum lulus dan 13 persen belum bekerja pada tahun 2025.

Temuan tersebut menunjukkan pendidikan formal masih menjadi pintu utama menuju dunia kerja bagi sebagian besar tenaga kerja Indonesia.

Komposisi tenaga kerja juga didominasi generasi yang relatif baru memasuki pasar kerja. Kelompok yang mulai bekerja pada periode 2010-2025 mencapai 56 persen dari total pekerja, disusul generasi 2001-2010 sebesar 21 persen, generasi 1990-2000 sebesar 15 persen, dan generasi sebelum 1990 sebesar 8 persen.

Dominasi generasi baru tersebut menunjukkan kondisi pasar kerja saat ini sangat dipengaruhi pengalaman kelompok muda dalam melakukan transisi dari pendidikan ke pekerjaan.

Baca juga: HKTI Sebut MBG Tingkatkan Kesejahteraan Petani dan Ciptakan Lapangan Kerja

Pencari kerja yang melakukan registrasi dalam acara Jakarta Job Fair 2026 di GOR Senen, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).KOMPAS.com/Disya Shaliha Pencari kerja yang melakukan registrasi dalam acara Jakarta Job Fair 2026 di GOR Senen, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).

Pendidikan tinggi tak selalu mempercepat masuk dunia kerja

Secara teori, pendidikan yang lebih tinggi seharusnya meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan. Namun, temuan LPEM FEB UI menunjukkan kondisi di lapangan tidak selalu demikian.

Kajian tersebut menyebut lulusan pendidikan tinggi di Indonesia justru sering mengalami durasi pencarian kerja yang lebih panjang dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah.

Salah satu penyebabnya adalah kelompok berpendidikan menengah ke bawah memiliki pilihan pekerjaan yang lebih luas pada sektor-sektor yang tidak mensyaratkan kualifikasi tinggi.

Selama bersedia menerima pekerjaan yang tersedia, mereka relatif lebih mudah terserap ke pasar kerja, terutama pada pekerjaan kerah biru atau blue collar.

INACA: Industri Penerbangan Topang 6 Juta Lapangan Kerja di Indonesia

Sebaliknya, lulusan perguruan tinggi menghadapi tantangan berupa ketidaksesuaian antara jurusan pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Selain itu, mereka umumnya memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap jenis pekerjaan maupun tingkat upah yang diharapkan.

Fenomena tersebut juga tercermin dalam data pengangguran menurut tingkat pendidikan. BPS mencatat TPT lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3 mencapai 6,13 persen pada Februari 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan TPT lulusan SD ke bawah yang sebesar 2,32 persen.

Sementara itu, tingkat pengangguran tertinggi masih terjadi pada lulusan SMK yang mencapai 7,74 persen.

LPEM FEB UI mencatat lulusan sarjana hingga doktoral pada generasi pekerja 1990-2000 memiliki durasi pencarian kerja sekitar 18,28 bulan, lebih lama dibandingkan lulusan diploma yang membutuhkan waktu sekitar 15,25 bulan.

Baca juga: Kemenko Perekonomian: Perumusan Regulasi Baru Perlu Jaga Penerimaan Negara dan Tenaga Kerja

Ilustrasi sarjana.Freepik/upklyak Ilustrasi sarjana.

Bahkan, pada kelompok diploma, masa pencarian kerja meningkat menjadi 18,29 bulan pada generasi pekerja 2011-2025.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jenjang pendidikan belum sepenuhnya diikuti keterhubungan yang kuat antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Pengalaman kerja jadi kendala utama

Bagi banyak pencari kerja muda, tantangan terbesar bukan hanya pendidikan, tetapi juga minimnya pengalaman kerja.

LPEM FEB UI menyebut individu yang memiliki pengalaman kerja sebelumnya, mengikuti pelatihan, atau mempunyai keterampilan teknis tertentu cenderung lebih cepat memperoleh pekerjaan dibandingkan mereka yang belum memiliki pengalaman.

Baca juga: Pengusaha Soroti Dampak Rokok Kemasan Polos ke Investasi dan Tenaga Kerja

Sebaliknya, lulusan baru sering menghadapi hambatan karena belum memiliki pengalaman yang dibutuhkan perusahaan. Ketiadaan pengalaman kerja ini menjadi salah satu faktor utama yang memperpanjang masa pencarian kerja kelompok muda.

Tantangan tersebut turut menjelaskan mengapa kelompok usia muda masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi meskipun kondisi pasar kerja nasional membaik.

Mismatch jurusan dan pekerjaan masih terjadi

Masalah lain yang masih membayangi pasar kerja Indonesia adalah ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang diperoleh.

Kajian LPEM FEB UI menemukan pekerja yang bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan jurusan pendidikan terakhir memiliki durasi pencarian kerja rata-rata 17,07 bulan, sedikit lebih lama dibandingkan mereka yang memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidang studinya.

Baca juga: AMMAN Jadi Tempat Kerja Favorit, Apa yang Dinilai Karyawan?

Perbedaan tersebut terlihat cukup besar pada generasi pekerja 1990-2000 dan 2001-2010. Namun pada generasi yang lebih muda, selisih masa tunggu antara pekerjaan yang sesuai dan tidak sesuai jurusan cenderung semakin kecil.

Ilustrasi melamar kerja, melamar pekerjaan.SHUTTERSTOCK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi melamar kerja, melamar pekerjaan.

Meski demikian, temuan tersebut tetap menunjukkan proses pencocokan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri belum berjalan sepenuhnya optimal.

Ketimpangan wilayah memperpanjang masa tunggu kerja

Selain pendidikan dan pengalaman kerja, lokasi tempat tinggal juga memengaruhi cepat atau lambatnya seseorang memperoleh pekerjaan.

LPEM FEB UI menemukan pencari kerja di wilayah non-Jawa membutuhkan waktu transisi kerja yang lebih lama dibandingkan mereka yang berada di Jawa.

Baca juga: Pertamina Drilling-Halliburton Perkuat Kerja Sama Jasa, Bidik Peluang Proyek Migas di Timur Tengah

Hal tersebut menunjukkan proses pencocokan antara pencari kerja dan lowongan pekerjaan di luar Jawa masih relatif kurang efisien.

Keterbatasan lapangan kerja formal, akses informasi pasar kerja yang lebih rendah, serta konsentrasi aktivitas ekonomi yang belum sebesar Jawa menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

Perbedaan serupa juga terlihat antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Pencari kerja di desa cenderung mengalami masa pencarian kerja yang lebih panjang dibandingkan mereka yang tinggal di kota.

Terbatasnya diversifikasi lapangan kerja, dominasi sektor informal dan pertanian, serta rendahnya akses terhadap informasi menjadi sejumlah faktor penyebabnya.

Baca juga: Wamenaker Ungkap Tantangan Besar Generasi Muda Saat Masuk Dunia Kerja

Sebaliknya, wilayah perkotaan memiliki pasar kerja yang lebih dinamis dan terhubung dengan berbagai sektor ekonomi modern sehingga mampu mempercepat proses pencarian kerja.

Kajian tersebut menunjukkan kelompok non-Jawa perdesaan secara konsisten memiliki durasi transisi kerja paling panjang, sedangkan kelompok Jawa perkotaan mencatat masa transisi kerja paling pendek.

Ekspektasi upah turut memengaruhi

Ilustrasi upah minimum provinsi atau UMP / upah minimum kota atau kabupaten atau UMK 2026.SHUTTERSTOCK/DEVMOGRAPH Ilustrasi upah minimum provinsi atau UMP / upah minimum kota atau kabupaten atau UMK 2026.

LPEM FEB UI juga menyoroti faktor ekspektasi upah atau reservation wage sebagai salah satu penentu durasi pencarian kerja.

Individu yang memiliki ekspektasi upah lebih tinggi cenderung lebih selektif dalam menerima pekerjaan sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan yang dianggap sesuai.

Baca juga: Bonus Demografi di Tengah Krisis Lapangan Kerja Berkualitas

Sebaliknya, mereka yang menghadapi tekanan ekonomi lebih besar cenderung menerima pekerjaan lebih cepat meskipun tidak selalu sesuai dengan preferensi atau kualifikasi yang dimiliki.

Secara keseluruhan, temuan tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi pencari kerja muda tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga menyangkut proses pencocokan antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan pasar.

Di tengah menurunnya tingkat pengangguran nasional, masa tunggu kerja yang masih mencapai hampir 20 bulan dan tingginya pengangguran usia muda menunjukkan bahwa transisi dari pendidikan menuju pekerjaan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pasar tenaga kerja Indonesia.

Tag:  #lulusan #baru #sulit #dapat #kerja #masa #tunggu #capai #bulan

KOMENTAR