Bursa Asia Mayoritas Naik, Investor Kembali Borong Saham Teknologi
-Mayoritas bursa saham Asia menguat pada perdagangan Selasa (9/6/2026).
Penguatan dipimpin saham teknologi setelah Wall Street pulih dari aksi jual tajam pada akhir pekan lalu.
Harga minyak juga kembali turun setelah sempat melonjak pada Senin (8/6/2026).
Kenaikan harga minyak sebelumnya terjadi karena pertempuran antara Israel dan Iran kembali memanas.
Kondisi itu memunculkan kekhawatiran perang skala penuh di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: IHSG Ambles Lebih Dalam dari Bursa Asia, Apa Biang Keroknya?
Indeks Nikkei 225 di Tokyo naik 1,9 persen ke level 65.273,83.
Saham produsen peralatan chip komputer Tokyo Electron melonjak 9,9 persen.
Sejumlah saham teknologi lain juga masuk kelompok penguatan terbesar.
Korea Composite Stock Price Index atau KOSPI Korea Selatan melonjak 7,7 persen ke level 8.063,52.
Kenaikan tersebut terjadi setelah indeks itu anjlok lebih dari 8 persen pada Senin.
Saham SK Hynix melonjak 15,8 persen.
Pada Senin, perusahaan tersebut mengumumkan rencana kerja sama dengan Nvidia untuk membangun pusat data.
Saham Samsung Electronics juga naik 8,8 persen.
Baca juga: Penyebab IHSG Ambruk Saat Bursa Asia Hijau: Sentimen BUMN Ekspor dan Suku Bunga BI
Indeks Taiex Taiwan menguat 2,8 persen.
Kenaikan ditopang saham teknologi, termasuk raksasa chip Taiwan Semiconductor Manufacturing Company atau TSMC.
Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong turun tipis 0,1 persen ke level 24.631,52.
Indeks Komposit Shanghai naik 0,7 persen ke level 3.988,46.
Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,1 persen ke level 8.615,60.
Wall Street pulih
Penguatan saham Asia mengikuti pergerakan Wall Street pada Senin.
Indeks S&P 500 naik 0,3 persen setelah anjlok 2,6 persen pada Jumat.
Penurunan Jumat menjadi pelemahan terburuk indeks tersebut sejak Oktober.
S&P 500 ditutup naik 21,99 poin ke level 7.405,73.
Dow Jones Industrial Average turun 80,77 poin ke level 50.786,01.
Sementara itu, Nasdaq Composite naik 220,23 poin ke level 25.929,66.
Saham perusahaan chip, memori, dan produk terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence, AI, menjadi penopang utama.
Saham-saham tersebut sebelumnya tertekan karena kekhawatiran valuasinya sudah naik terlalu tinggi.
Saham Micron Technology naik 9,9 persen setelah merosot 13,3 persen pada Jumat.
Penurunan Jumat membuat Micron menjadi salah satu saham dengan pelemahan terbesar di S&P 500.
Meski sempat turun tajam, saham Micron masih naik lebih dari tiga kali lipat sepanjang 2026.
Saham Marvell Technology naik 9,6 persen pada perdagangan pertama setelah S&P Dow Jones Indices menyatakan perusahaan semikonduktor itu akan masuk indeks S&P 500.
Saham Marvell juga sudah naik lebih dari tiga kali lipat sepanjang tahun ini.
Pekan lalu, saham tersebut sempat melonjak 32,5 persen dalam satu hari.
Kenaikan itu menjadi lonjakan harian terbaik sejak saham Marvell mulai diperdagangkan pada 2000.
Lonjakan terjadi setelah Chief Executive Officer Nvidia Jensen Huang menyatakan dalam konferensi di Taiwan, Marvell bisa menjadi "perusahaan triliun dolar berikutnya."
Sebagian pengkritik menilai komentar tersebut sebagai tanda reli saham AI sudah bergerak terlalu cepat.
Salah satu indeks saham semikonduktor yang banyak dipantau melonjak hampir 85 persen sepanjang tahun ini hingga Kamis.
Harga minyak kembali turun
Harga minyak turun pada Selasa pagi setelah naik sehari sebelumnya.
Harga minyak mentah Brent, acuan internasional, turun 1,16 dollar AS menjadi 93,09 dollar AS per barel.
Dengan kurs Rp 18.035 per dollar AS, nilai itu setara sekitar Rp 1,68 juta per barel.
Harga Brent sempat mencapai 98 dollar AS per barel pada perdagangan malam sebelumnya.
Nilai tersebut setara sekitar Rp 1,77 juta per barel.
Harga minyak mentah acuan Amerika Serikat turun 1,42 dollar AS menjadi 89,88 dollar AS per barel.
Nilai itu setara sekitar Rp 1,62 juta per barel.
Harga minyak yang tinggi akibat perang dengan Iran telah menambah tekanan inflasi.
Dampaknya tidak hanya terasa pada tagihan rumah tangga, tetapi juga pada imbal hasil obligasi.
Imbal hasil obligasi global yang tinggi belakangan ini memunculkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi.
Kondisi itu juga dapat menekan harga saham dan berbagai aset investasi lain.
Pada perdagangan mata uang, dollar AS turun tipis menjadi 160,15 yen Jepang dari sebelumnya 160,17 yen.
Euro naik menjadi 1,1547 dollar AS dari sebelumnya 1,1532 dollar AS.
Dengan kurs Rp 18.035 per dollar AS, nilai euro tersebut setara sekitar Rp 20.824.
Tag: #bursa #asia #mayoritas #naik #investor #kembali #borong #saham #teknologi