Survei PwC: Optimisme CEO Asia Pasifik Anjlok Jadi 21 Persen
Ilustrasi CEO, pimpinan perusahaan. (SHUTTERSTOCK/GORODENKOFF)
12:48
9 Juni 2026

Survei PwC: Optimisme CEO Asia Pasifik Anjlok Jadi 21 Persen

- Tingkat optimisme para pemimpin perusahaan di kawasan Asia Pasifik terhadap prospek bisnis dalam satu tahun ke depan terus menurun.

Ketidakpastian global yang masih tinggi membuat pelaku usaha harus menghadapi tantangan bisnis yang semakin kompleks memasuki semester II-2026.

Tekanan tersebut turut tecermin dari menurunnya tingkat keyakinan para CEO terhadap prospek pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan hasil PwC Global CEO Survey 2020-2026, hanya 21 persen CEO di kawasan Asia Pasifik yang optimistis terhadap pertumbuhan bisnis dalam 12 bulan mendatang.

Baca juga: CEO Starbucks Korsel Dipecat usai Promosi Picu Kemarahan Publik

“Kalau dilihat dari laporan PwC Global CEO Survey 2020-2026, menunjukkan hanya 21 persen CEO di Asia Pasifik yang merasa yakin terhadap prospek pertumbuhan 12 bulan ke depan, turun dari 34 persen di tahun lalu,” ujarCEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi dalam Grab Business Forum 2026 bertema The Next Chapter, Scale Smarter, Execute Faster, Selasa (9/6/2026).

Neneng mengatakan, dunia usaha saat ini bergerak dalam lanskap yang berubah sangat cepat.

Menurut dia, perusahaan tidak lagi hanya menghadapi satu jenis risiko, melainkan berbagai tekanan yang datang secara bersamaan dari faktor ekonomi, geopolitik, hingga perkembangan teknologi.

Meski optimisme menurun, ia menilai perusahaan tetap harus mencari peluang untuk bertumbuh.

Namun, strategi pertumbuhan yang selama ini digunakan tidak lagi cukup untuk menghadapi perubahan yang semakin cepat.

“Apapun yang terjadi, kita tetap harus bertumbuh. Nah, di Grab, kami percaya bahwa peluang pertumbuhan masih sangat terbuka. Namun, ruang untuk tumbuh itu dengan cara yang lama semakin sempit,” katanya.

Karena itu, Neneng menekankan pentingnya disiplin dalam menentukan prioritas bisnis dan mempercepat eksekusi agar setiap langkah yang diambil mampu memberikan dampak nyata terhadap kinerja perusahaan.

“Nah, dalam situasi seperti ini, pemimpin perusahaan tentunya perlu berpikir lebih tajam dan lebih disiplin tentunya tentang bagaimana cara kita bertumbuh,” ujarnya.

Ia menambahkan, peluang pertumbuhan masih tersedia bagi perusahaan yang mampu beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan pasar dan memanfaatkan teknologi secara efektif.

Peluang tersebut perlu dikejar dengan cara yang lebih disiplin. "Bagaimana kita memilih prioritas dengan lebih tajam, mengeksekusi dengan lebih cepat, dan memastikan bahwa setiap inisiatif itu benar-benar berdampak,” tegas Neneng.

Neneng mengatakan, dunia usaha memasuki semester II-2026 dalam situasi yang semakin kompleks dan berubah sangat cepat.

Menurut dia, tantangan yang dihadapi pelaku usaha kini tidak lagi berasal dari satu faktor, melainkan datang dari berbagai arah secara bersamaan.

Ia menjelaskan ketidakpastian geopolitik global, fluktuasi harga energi, tekanan pada rantai pasok, percepatan integrasi teknologi dan kecerdasan buatan (AI), hingga perubahan perilaku konsumen yang semakin selektif telah memengaruhi cara perusahaan mengambil keputusan bisnis.

Di tengah kondisi tersebut, Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik melambat menjadi 4,2 persen pada tahun ini dari 5 persen pada tahun sebelumnya.

Menurut Neneng, perlambatan tersebut menunjukkan bahwa dunia usaha tengah menghadapi dinamika ekonomi yang semakin luas dan sulit diprediksi.

Kondisi itu juga memberikan dampak yang nyata bagi para pemimpin bisnis dalam menentukan strategi dan arah pertumbuhan perusahaan.

Baca juga: John Ternus CEO Apple Baru: Tantangan AI dan Warisan Tim Cook

Tag:  #survei #optimisme #asia #pasifik #anjlok #jadi #persen

KOMENTAR