IHSG Naik 4,82 Persen, Rupiah dan Sentimen Minerba Jadi Katalis
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak signifikan pada penutupan sesi pertama perdagangan, Selasa (9/6/2026). Indeks menguat 257,60 poin atau 4,82 persen ke level 5.599,741.
Penguatan tersebut menjadi salah satu kenaikan harian terbesar dalam beberapa waktu terakhir setelah IHSG sebelumnya mengalami koreksi yang cukup dalam.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka 5.344,688 dan sempat bergerak fluktuatif pada awal perdagangan.
Baca juga: IHSG Rebound, Saham BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI Kompak Menguat
Namun, tekanan beli yang semakin dominan pada sejumlah saham mendorong indeks melesat hingga menyentuh angka tertinggi di 5.627,575.
Sementara itu, posisi terendah tercatat 5.318,145.
Reli penguatan berlangsung hampir sepanjang sesi pertama dengan pola kenaikan yang konsisten.
Setelah bergerak di kisaran 5.400 pada awal perdagangan, IHSG terus menanjak, menembus posisi 5.500 dan mendekati area 5.600, sebelum akhirnya ditutup sedikit di bawah posisi tertingginya.
Baca juga: IHSG Dibuka Menguat 0,75 Persen ke 5.381, Rupiah Masih Tertekan
Kenaikan indeks juga didukung oleh dominasi saham yang bergerak di zona hijau.
Sebanyak 603 saham menguat, jauh melampaui 118 saham yang melemah, sementara 92 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas transaksi turut melonjak seiring meningkatnya minat beli investor.
Volume perdagangan mencapai 24,71 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,47 juta kali.
Baca juga: IHSG Hari Ini Berpeluang Rebound, Analis: Cermati Saham ASII, JPFA, hingga TUNS
Ilustrasi pasar saham.
Sementara itu, nilai transaksi mencapai Rp 13,79 triliun.
Adapun kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia meningkat menjadi Rp 9.845,39 triliun.
Katalis Penguatan IHSG Sesi Pertama
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengatakan terdapat sejumlah sentimen positif yang datang secara bersamaan pada Selasa (9/6/2026), sehingga mendorong pasar bergerak lebih optimistis.
Faktor pertama, penguatan tipis nilai tukar rupiah yang mulai terlihat pada pembukaan perdagangan pagi tadi.
Baca juga: Pengusaha: Indonesia Tak Akan Resesi, Investasi Mengalir Meski Rupiah-IHSG Tertekan
Saat ini rupiah terapresiasi 40 poin ke level Rp 18.147 per dollar Amerika Serikat (AS).
“Ada beberapa sentimen positif yang datang bersamaan hari ini yang sukses bikin market bernapas lega. Pertama, pergerakan rupiah yang terpantau menguat tipis pada pembukaan perdagangan pagi tadi. Ini langsung memberikan ketenangan psikologis awal ke pasar,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com.
Selain itu, sentimen positif juga datang dari sektor energi dan pertambangan.
Rangkaian sinyal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terutama terkait sektor mineral dan batu bara (minerba), menjadi perhatian pelaku pasar.
Baca juga: IHSG Anjlok 4,52 Persen ke 5.342: Saham TLKM, ISAT, dan HRTA Rontok
Keputusan pemerintah untuk membatalkan skema gross split serta adanya potensi relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) minerba menjadi angin segar yang telah lama dinantikan investor.
“Kedua adalah rangkaian sinyal positif dari Kementerian ESDM terkait sektor minerba. Keputusan pemerintah untuk membatalkan skema gross split serta adanya potensi relaksasi RKAB minerba menjadi angin segar yang sangat dinanti pelaku pasar,” paparnya.
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG hari ini. Pembukaan IHSG.
Ia memastikan penguatan IHSG pada perdagangan hari ini lebih banyak ditopang oleh faktor domestik dibandingkan sentimen global.
Sentimen positif seputar kepastian regulasi di sektor komoditas dan stabilitas nilai tukar dalam negeri jauh lebih kuat dalam menggerakkan psikologis investor lokal maupun asing hari ini, mengesampingkan riak-riak kecil yang ada di pasar global.
Baca juga: Saham TLKM Anjlok 14,13 Persen, Dekati ARB, Jadi Pemberat IHSG
“Untuk pergerakan hari ini, panggung utamanya jelas lebih banyak didominasi oleh faktor domestik,” pungkas dia.
Azharys menambahkan, rebound yang terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar turut memberikan kontribusi signifikan terhadap lonjakan IHSG.
Saham-saham seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM memiliki bobot kapitalisasi pasar yang sangat besar sehingga pergerakannya sangat menentukan arah indeks.
“Perannya jelas sangat besar dan krusial. Kita tahu sendiri bahwa saham-saham seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM adalah penguasa market cap terbesar di bursa kita. Bobot mereka terhadap pergerakan IHSG sangat dominan. Jadi, begitu ada aksi beli kembali atau rebound pada saham-saham heavyweight ini, efek dongkraknya ke indeks langsung terasa instan dan signifikan,” jelasnya.
Baca juga: Rupiah Jatuh ke Rp 18.200 dan IHSG Ambles 4,3 Persen, Ada Apa dengan Pasar Indonesia?
Terkait fenomena “Sell Indonesia” yang sempat menjadi perhatian pasar dalam beberapa waktu terakhir, Azharys menilai narasi tersebut mulai mereda.
Sebagian besar kekhawatiran yang berkembang sebelumnya dipengaruhi oleh beredarnya kembali sejumlah artikel lama yang memicu sentimen negatif di pasar.
Sementara itu, kondisi aktual menunjukkan tekanan arus keluar dana asing atau capital outflow mulai berangsur berkurang.
“Kalau kita perhatikan, narasi ‘Sell Indonesia’ yang sempat ramai belakangan ini sebenarnya lebih banyak dipicu oleh sirkulasi ulang artikel-artikel lama di media. Realitasnya di lapangan saat ini, tekanan outflow justru perlahan-lahan mulai mereda,” katanya.
Baca juga: Saham Telkom Rontok 13 Persen, Jadi Pemberat IHSG
Azharys juga melihat sejumlah indikator yang menunjukkan bahwa penguatan IHSG kali ini bukan sekadar technical rebound biasa.
Salah satunya adalah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang telah mencapai kisaran 7,3 persen.
Selain itu, rencana kenaikan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai dapat meningkatkan daya tarik aset domestik di mata investor.
“Kenaikan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun ke level 7,3 persen, ditambah adanya rencana kenaikan yield SRBI, membuat aset domestik kembali menarik untuk dilirik investor,” katanya.
Tag: #ihsg #naik #persen #rupiah #sentimen #minerba #jadi #katalis