DSSA Efektif Didepak dari FTSE Russel Per 22 Juni, Investor Ritel Diminta ''Wait and See''
Ilustrasi saham. (PIXABAY)
13:04
24 Mei 2026

DSSA Efektif Didepak dari FTSE Russel Per 22 Juni, Investor Ritel Diminta ''Wait and See''

- Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten energi dan infrastruktur milik Grup Sinar Mas, dipastikan keluar dari kelompok indeks FTSE Large Cap mulai 22 Juni 2026 setelah FTSE Russell merilis hasil tinjauan kuartalan Mei 2026.

Keputusan tersebut dinilai dapat menambah tekanan terhadap pergerakan saham DSSA dalam jangka pendek.

FTSE Russell menyebut mayoritas saham DSSA dikuasai segelintir pemegang saham atau masuk kategori high shareholding concentration (HSC). Kondisi ini membuat saham dinilai kurang likuid dan rentan mengalami volatilitas tinggi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan keluarnya saham dari indeks biasanya memicu penyesuaian portofolio investor institusi pasif yang mengikuti acuan indeks global.

“Efek outflow dana index sih. Kalau outflow sih pasti ada emiten yang keluar seperti BREN, CTRA, DSSA, HEAL, NCKL. Tentunya ini mengalami tekanan jual wajar,” ujar Nafan kepada Kompas.com.

Tekanan terhadap DSSA juga muncul setelah sebelumnya saham tersebut terdepak dari indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode 4 Mei hingga 31 Juli 2026.

Baca juga: FTSE Russell Coret DSSA hingga HILL, Standar Saham RI Kian Ketat

Risiko Likuiditas dan Volatilitas Meningkat

Selain keluar dari FTSE dan LQ45, DSSA juga masuk daftar saham yang berpotensi dikeluarkan dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) akibat status HSC.

MSCI dalam evaluasi terbarunya masih mempertahankan pembatasan terhadap saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi karena dinilai berisiko terhadap likuiditas dan aksesibilitas investasi.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai tekanan terhadap saham DSSA masih akan dominan selama isu indeks global belum selesai. Menurut dia, hilangnya permintaan dari dana pasif membuat arah harga saham cenderung volatil dan melemah.

“Tekanannya masih dominan. Selama risiko keluar dari MSCI dan indeks BEI belum selesai, arah harga cenderung volatile cenderung turun karena hilangnya demand dari dana pasif,” ujar Reydi.

Baca juga: DSSA Diprediksi Didepak dari FTSE Russell, Potensi Tekanan Jual Asing Melonjak

Ia menjelaskan status HSC membuat saham menjadi kurang investable karena likuiditas tipis dan harga lebih mudah digerakkan.

“Status HSC membuat saham jadi kurang investable, likuiditas tipis, dan mudah digerakkan. Investor institusi cenderung menghindari, sehingga volatilitas makin tinggi,” paparnya.

Berdasarkan data BEI per 31 Maret 2026, tingkat konsentrasi kepemilikan DSSA mencapai 95,76 persen.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengatakan saham dengan kapitalisasi besar seperti DSSA memiliki pengaruh signifikan terhadap sektor energi dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“Sektor yang paling terdampak adalah energi dan infrastruktur. Hal ini tidak lepas dari peran DSSA dan BREN yang memiliki kapitalisasi pasar sangat besar, sehingga fluktuasi pada kedua saham tersebut secara langsung menjadi pemberat bagi performa sektor masing-masing sekaligus menekan laju IHSG secara keseluruhan,” ujar Azharys.

Baca juga: BREN, CTRA, DSSA, NCKL Terdepak dari LQ45, Investor Ritel Disarankan Wait and See

Strategi untuk Investor Ritel

Di tengah tekanan dari indeks global dan domestik, analis menyarankan investor ritel lebih selektif mengambil keputusan pada saham DSSA.

Reydi menyarankan investor yang sudah memiliki posisi di harga atas untuk mempertimbangkan aksi jual sebagian saat terjadi technical rebound. Sementara strategi averaging down dinilai belum ideal karena risiko volatilitas masih tinggi.

Bagi investor yang belum memiliki saham DSSA, ia menyarankan strategi wait and see hingga ada katalis yang lebih jelas, seperti perbaikan free float atau keluar dari status HSC.

“Sebaiknya wait and see. Masuk hanya jika ada katalis jelas seperti perbaikan free float, keluar dari status HSC, atau konfirmasi kembali masuk indeks. Tanpa itu, risk-reward masih tidak menarik,” kata Reydi.

Meski menghadapi tekanan indeks, Nafan menilai DSSA masih memiliki daya tarik dari sisi fundamental jangka panjang. Salah satu faktor yang diperhatikan pasar adalah aksi stock split dengan rasio 1:25 yang diharapkan dapat meningkatkan likuiditas saham.

“Kalau DSSA ini kan karena faktor stock split 1 banding 25. Jadi itu juga supaya bisa meningkatkan likuiditas daripada pergerakan harga saham DSSA,” ujar Nafan.

Baca juga: Rebalancing Indeks BEI: CUAN-WIFI Masuk LQ45, BREN-DSSA Tersingkir

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #dssa #efektif #didepak #dari #ftse #russel #juni #investor #ritel #diminta #wait

KOMENTAR